Rabu, 13 Rajab 1440 / 20 Maret 2019

Rabu, 13 Rajab 1440 / 20 Maret 2019

Menhub Pertanyakan Tiket Pesawat yang Masih Mahal

Sabtu 16 Feb 2019 08:39 WIB

Rep: Rahayu Subekti, Intan Pratiwi/ Red: Elba Damhuri

Tiket pesawat naik

Tiket pesawat naik

Foto: republika
Pemerintah mempertanyakan mengapa harga tiket pesawat masih mahal?

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Menhub (Menhub) Budi Karya Sumadi meminta maskapai konsisten menurunkan harga tiket. Ia menilai, upaya penurunan harga tiket dari maskapai Garuda Indonesia belum seperti apa yang diumumkan sebelumnya.

Baca Juga

Kenaikan harga tiket, yang disusul oleh penerapan bagasi berbayar dari pantauan pers sudah memukul pelaku ekonomi di bandara dan pengusaha UMKM oleh-oleh akibat sepinya penumpang di beberapa bandar udara.

“Saya melihat Garuda harus konsisten, jangan disampaikan (menurunkan harga tiket hingga 20 persen) tapi kemudian ada kelas-kelas yang hilang,” kata Budi di Kantor LKPP, Jakarta Selatan, Jumat (15/2). Budi mengklaim dirinya juga sudah mengecek langsung harga-harga tiket pesawat, kemarin. “Iya (cek) subuh-subuh. Saya tadi pagi juga cek harga hari ini masih mahal,” ujar Budi.

Ia mengatakan,sudah menyampaikan hal tersebut kepada Garuda Indonesia untuk segera dikoreksi. Untuk itu, Budi meminta Garuda konsisten meski pada beberapa agen penjualan tiket pesawat menyebutkan masih terdapat stok sebelumnya sehingga masih menggunakan harga yang lama.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution juga mempertanyakan mengapa harga tiket pesawat tidak kunjung turun. Menurut dia, kenaikan harga tiket pesawat wajar terjadi, namun hanya di waktu tertentu seperti lebaran dan libur akhir tahun.

"Memang banyak keluhan belakangan ini tiket tinggi sekali. Sebetulnya setiap kali dia Lebaran dan tahun baru mestinya mereka naik sampai batas atas. Kok ini tidak turun turun," ujar Darmin di Kantornya, Jumat (15/2).

Darmin menilai, apabila melihat pola kenaikan harga tiket, masa high season atau tinggi permintaan sudah usai, maka maskapai perlu menurunkan harga tiket. Hal ini juga sejalan dengan prinsip ekonomi agar permintaan masyarakat atas tiket pesawat juga masih ada meski bukan di waktu tertentu seperti lebaran dan liburan.

"Ini memang sudah naik ke batas atas kalau saya perhatikan. Makanya sebaiknya memang turun," ujar Darmin.

Darmin enggan menjelaskan lebih jauh dampak dari kenaikan harga tiket ini kepada inflasi. Darmin menjelaskan, terlalu dini untuk berbicara inflasi di awal tahun. Apalagi, penyebabnya dikaitkan hanya dengan kenaikan harga tiket pesawat. ”Komponen yang mempengaruhi inflasi kan banyak," kata Darmin.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Adi Askhara mengatakan, semua maskapai di bawah Garuda Indonesia Group, yaitu Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia, Sriwijaya Air, dan NAM Air menerapkan penurunan harga tiket sebesar 20 persen untuk semua rute penerbangan. Penurunan harga itu disebut mulai berlaku pada Kamis (14/2).

“Hal tersebut sejalan dengan aspirasi masyarakat dan sejumlah asosiasi industri nasional serta arahan Bapak Presiden RI mengenai penurunan tarif tiket penerbangan,” kata Adi Askhara dalam keterangannya, kemarin.

Budi Karya Sumadi sebelumnya sempat mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo menargetkan pekan ini tarif pesawat bisa lebih murah dibandingkan harga yang ditawarkan maskapai sejak awal tahun. Ia mengatakan, penurunan bisa diupayakan sekitar 10 hingga 20 persen dari kemahalan akhir tahun lalu.

Saat ini, maskapai-maskapai utama di Indonesia berada di bawah dua grup, yakni Garuda Indonesia dan Lion Air. Pada grup Garuda Indonesia, Citilink Indonesia, Sriwijaya Air, dan NAM Air berada pada rentang low cost carrier, sedangkan Garuda Indonesia di full service carrier. Sementara di Lion Air, nyaris seluruhnya merupakan low cost carrier. Pihak Lion Air sejauh ini belum bersedia memberikan pernyataan soal rencana penurunan harga tiket.

Sementara itu, pengamat penerbangan Alvin Lie mengklaim bahwa penurunan harga tiket hingga 20 persen yang diumumkan Garuda Indonesia belum berlaku untuk semua kursi di setiap penerbangan. "Saya sudah cek sendiri, kebetulan besok harus terbang ke Solo, harganya Garuda juga tidak berubah. Mengapa begitu? Karena, memang diskon 20 persen itu hanya beberapa kursi," Alvin mengklaim.

Seturut penelusuran Republika, pada pertengahan Januari lalu, penerbangan Jakarta-Surabaya misalnya berkisar pada harga Rp 1,3 juta hingga Rp 1,6 juta. Saat ini, merujuk situs perantara perjalanan Traveloka, harga penerbangan langsung Jakarta-Surabaya pada Sabtu (16/2) menggunakan maskapai Garuda Indonesia masih pada angka Rp 1.644.200. Demikian juga dengan penerbangan Jakarta-Denpasar mengunakan maskapai Garuda Indonesia yang harganya pada Sabtu (16/2) masih sama dengan harga pertengahan bulan lalu pada kisaran Rp 1,9 juta.

Sementara itu, laporan soal dampak kenaikan harga tiket pesawat masih terus bermunculan. Para pelaku UMKM di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai tingginya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar berdampak signifikan.

"Sekarang ditambah adanya kenaikan harga tiket dan kebijakan bagasi berbayar (omset) menjadi hanya 30 persen," ujar Sayuk Wibawati, pemilik usaha Nutsafir, produk olahan kacang-kacangan khas Lombok, di Mataram, Jumat (15/2).

Sayuk menilai, para wisatawan yang biasanya berbelanja di pusat oleh-oleh mencapai 100 kilogram sekali angkut kini rerata bawaan tingal 20 kilogram.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB Lalu Saswadi juga mengklaim menerima banyak keluhan dari para pelaku usaha. "Ini harus ada kebijakan dari nasional, kan ini bukan hanya di Lombok saja tetapi semuanya karena tidak mungkin pemda saja yang berkerja," ujar Saswadi.

(muhammad nursyamsi ed: fitriyan zamzami)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA