Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Membedah Taktik Paslon Asyik di Pilgub Jabar

Kamis 28 Jun 2018 14:50 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Pasangan Calon Gubernur Jawa Barat dari Partai Koalisi Asyik, Sudrajat (kiri) - Ahmad Syaikhu berfoto saat melakukan pertemuan di Jakarta, Kamis (1/3).

Kader PKS Jawa Barat yang juga Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (tengah), Bakal Calon Gubernur Jawa Barat Sudrajat (kiri) dan Bakal Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Ahmad Syaikhu (kanan) berfoto bersama usai Silahturahmi Bersama pasangan Kang Ajat dan Kang Syaikhu (Asyik), di Bandung, Jawa Barat, Ahad (21/1).

Foto:
Secara mengejutkan Asyik meraih sekitar 28 persen dari hitung cepat lembaga survei

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengakui paslon Asyik lebih unggul dari paslon yang diusung Demokrat pada Pilgub Jabar 2018 berdasarkan hitung cepat. SBY pun mempersilakan awak media untuk bertanya langsung ke Sudrajat soal strateginya.

"Mungkin bisa bertanya kepada pasangan Pak Sudrajat dan Pak Syaikhu, karena peningkatannya dibanding survei sebelumnya luar biasa. Tanyakan pada beliau, 'Pak strateginya apa, taktiknya apa'," kata dia di kantor DPP Partai Demokrat, Rabu (27/6).

SBY mendengar kabar bahwa yang membuat Sudrajat-Syaikhu yakni karena menampilkan hal yang berbeda. Misalnya, jelas SBY, ada kabar jika mendukung calon tertentu maka calon tersebut akan mendukung Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang.

"Ada yang mengatakan tadi katanya hari-hari terakhir pasangan Pak Sudrajat dan Pak Syaikhu ini menampilkan yang berbeda. Katanya, katanya, sebelum mendapatkan kepastian. Calon-calon yang lain itu, yang didukung nanti Pak Jokowi sedangkan pasangan yang itu bukan Pak Jokowi," paparnya.

SBY mengaku tidak mengetahui apakah karena tampil beda itulah yang membuat paslon berjuluk Asyik mendapat suara secara signifikan. "Kalau yang lain pastilah calon presidennya x, nah kami bukan x, apakah itu juga akhirnya yang menambah suaranya, kita tidak tahu, ini informasi yang saya dengar hari ini," tuturnya.

Menurut SBY, kemungkinan ada resep khusus yang menyebabkan suara paslon Asyik itu naik tajam. "Bagus ini menurut saya. Boleh ditanya ke Pak Sudrajat. Silakan mungkin ada resep dari beliau mengapa peningkatannya tajam sekali dari semua hasil survei selama ini," katanya.

photo

Monitoring Penghitungan Cepat Pilkada. Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (kedua kiri) bersama fungsionaris partai melakukan pertemuan di DPP Partai Demokrat, Jakarta, Rabu (27/6).

Berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, pasangan Asyik yang didukung PKS dan Gerindra itu justru berada di posisi kedua pada Pilgub Jabar. Misalnya, hasil hitung cepat Indobarometer menunjukkan Asyik memperoleh 28,54 persen.

Sedangkan Populi Center menyuguhkan hasil hitung cepat yang menempatkan pasangan Asyik meraih 28,75 persen. Hasil pasangan Asyik hanya kalah dari Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul, dan unggul dari Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Hasil hitung cepat ini sangat berbeda dibandingkan survei sebelum pencoblosan. Sebelum pemungutan suara, pesaing ketat Ridwan-Uu adalah duo DM atau Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, yang diusung oleh Partai Demokrat dan Partai Golkar.

Ketua Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat untuk Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), terkejut dengan raihan suara yang diperoleh pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) pada pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Barat (Jabar) versi hitung cepat. Menurut dia, suara mereka naik signifikan dibandingkan perhitungan lembaga survei sebelum hari pencoblosan.

"Mengejutkan memang ada peningkatan signifikan dari pasangan calon nomor 3 (Asyik) yang menurut kami mendapat peningkatan suara yang luar biasa di hari pencoblosan ini," ujar dia di kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Rabu (27/6).

AHY pun mengatakan, ada banyak hal yang perlu dipelajari, ditelusuri, dan diinvestigasi terkait dengan kekalahan duo DM pada Pilkada Jabar. Kogasma juga ingin tahu lebih banyak apa yang terjadi di lapangan.

Terutama terkait perbedaan hasil suara antara survei sebelum pencoblosan dan hitung cepat setelah pemungutan suara. “Jelang akhir babak dari pilkada di Jabar, khususnya pilgub, posisi calon yang kami usung itu rata-rata di urutan satu atau dua, beda tipis dengan pasangan calon nomor urut 1 (Emil-Uu)," katanya.

AHY juga melanjutkan, banyak faktor yang mungkin bisa didapatkan dari lapangan. Kogasma akan mencari tahu sebagai pembelajaran pada masa mendatang.

"Jika ada kesuksesan di sana-sini tentu kami syukuri sebagai bentuk kerja keras, tapi kalau ada kegagalan tentu harus kita pelajari mengapa,” kata dia.

Ia mengatakan, hasil evaluasi itu akan menjadi pelajaran untuk perjuangan pada Pemilu 2019. “(Tahun) 2019 menanti dan perlu kerja keras dari seluruh kader Demokrat di mana pun berada," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA