Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Inikah Akhir Perjalanan Karier Butet?

Senin 27 Agu 2018 07:03 WIB

Rep: Fitriyanto, Antara/ Red: Andri Saubani

Pebulu Tangkis Indonesia Liliyana Natsir pada suatu laga Asian Games 2018, di Jakarta.

Pebulu Tangkis Indonesia Liliyana Natsir pada suatu laga Asian Games 2018, di Jakarta.

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Emas Asian Games belum pernah dirasakan oleh Liliyana Natsir.

REPUBLIKA.CO.ID, Pasangan ganda campura peraih medali emas Olimpiade 2016 Rio de Jainero Brasil, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir gagal mengikuti raihan positif sejumlah pemain Indonesia di ajang Asian Games 2018. Owi/Butet gagal ke final Asian Games 2018.

Kegagalan ini membuat Owi/Butet tidak bisa mempersembahkan medali emas di ajang Asian Games 2018. Owi/Butet dipastikan gagal setelah di pertandingan semifinal, Ahad (26/8), ditaklukkan pasangan Cina Zheng Siwei/Huang Yaqiong dua gim langsung 13-21, 18-21.

Menghadapi pemain peringkat satu dunia asal Cina, Owi/Butet yang sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk membidik emas Asian Games 2018 gagal menunjukan permainan terbaiknya. Sepanjang pertandingan mereka selalu berada dibawah tekanan lawan.   

Sejak awal pertandingan, pasangan Indonesia yang ditempatkan sebagai unggulan ketiga tersebut tidak mampu mengembangkan permainan dan hampir tidak berkutik menghadapi tekanan lawan. Meski sempat menyamakan kedudukan menjadi 7-7, Owi/Butet harus mengakui keunggulan ganda campuran Cina yang baru saja tampil sebagai juara dunia dan kini menempati peringkat satu dunia.

Kondisi serupa juga terjadi pada gim kedua. Perolehan angka kedua pasangan pun saling susul-menyusul dengan selisih angka tidak lebih dari dua poin hingga kedudukan 13-15 untuk keunggulan Zheng/Huang.

Meskipun Owi/Butet sempat menunda dua kali match point, pasangan asal Cina dapat membukukan tiket ke final setelah smes Zheng yang kuat tidak mampu dikembalikan oleh pasangan Indonesia. "Hasil ini tentu mengecewakan. Tetapi pasangan Cina tadi bermain baik, dari power dan speed kita kalah jauh. Kita main defense kita pasti mati. Tapi kalau kita menyerang, mereka susah mati. Mau menyalip angka mereka saja susah sekali," ujar Butet, sapaan akrab Liliyana Natsir usai pertandingan.

Butet mengatakan, bersama pasangannya sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, ia mengakui tidak mudah untuk membalikkan keadaan dalam keadaan tertekan dari pasangan Cina tersebut.

"Tidak semudah itu untuk membalikkan, apalagi mereka menang di gim satu. Jadi pada gim kedua mereka tampil lebih lepas," kata Butet.

"Kami minta maaf tidak bisa persembahkan emas untuk Indonesia," ujar Butet menambahkan.

Hal senada diungkapkan Owi. Ia mengakui kesulitan untuk keluar dari tekanan.

"Kami kena serang terus, dan susah. Keluar dari tekanan," ujarnya

Owi mengungkapkan, dirinya sudah tampil all out. "Tadi bukan karena Saya mati sendiri, tetapi karena tertekan lawan" jelasnya.

photo
Presiden Joko Widodo (dari kiri) bersama Atlet Bulutangkis Ganda Campuran peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir di Istana Merdeka, Jakarta, 24 Agustus 2016.

Baca juga:


Belum pernah cicipi emas

Meski sudah mengoleksi beragam medali emas dari sejumlah kejuraaan bergengsi dunia seperti Olimpiade, kejuaraan dunia, hingga All England, Liliyana Natsir belum pernah mencicipi emas dari ajang Asian Games. Prestasi terbaik Liliyana pada ajang pesta olah raga terbesar bangsa-bangsa se-Asia adalah meraih medali perak di Asian Games 2014 Incheon setelah kalah dari pasangan Cina, Zhang Nang/Zhao Yun Lei.

Butet pun menyadari bahwa impian untuk mengoleksi emas Asian Games harus melayang setelah kalah dari Zheng /Huang. Usia Butet kini, menjelang 33 tahun.

"Ini Asian Games terakhir saya karena sudah tidak mungkin jika tampil empat tahun lagi. Setidaknya, saya masih bisa menghibur diri karena bisa meraih medali perunggu," kata pemain kelahiran 9 September 1985 itu.

Ia pun tidak bisa menutupi rasa kecewa karena tidak mampu meraih medali emas di kesempatan terakhir tersebut. Butet yang disebut-sebut sebagai salah satu pemain ganda campuran terbaik di dunia tersebut sudah mengawali karier profesionalnya sejak berusia 18 tahun.

Pada awal kariernya, ia dipasangkan dengan Nova Widianto. Prestasi yang ditorehkan ganda campuran tersebut juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Pasangan tersebut tampil dua kali sebagai juara dunia dan pernah menduduki peringkat satu dunia.

Sejak sembilan tahun lalu, ia pun berpasangan dengan pemain yang berusia lebih muda yaitu Tontowi Ahmad. Berbagai prestasi pun ditorehkan Butet meski dipasangkan dengan pemain yang lebih muda, di antaranya juara All England tiga kali berturut-turut sejak 2012 hingga 2014 dan merebut emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro.

Dan sejak meraih emas Olimpiade, Butet sempat menyampaikan keinginannya untuk menggantung raket. Namun, keinginan tersebut ditunda karena kepiawaiannya dibutuhkan untuk bisa mendukung kontingen Indonesia meraih emas pada ajang Asian Games 2018.

Apalagi, bermain di rumah sendiri dengan dukungan penuh dari suporter Tanah Air menjadi suntikan semangat tersendiri bagi Butet. Jika Butet benar-benar gantung raket, maka bulu tangkis Indonesia akan sangat kehilangan. Apalagi, belum ada sosok pemain yang memiliki kualitas layaknya Butet untuk dipasangkan dengan Tontowi.

PBSI selaku organisasi yang menaungi olah raga bulu tangkis pun belum memberikan pernyataan resmi atas niat Liliyana untuk gantung raket. Di daftar peringkat dunia BWF, Tontowi/Liliyana kini bertengger di peringkat tiga dunia. Sedangkan pasangan lain dari Indonesia adalah Hafiz Faizal/Gloria Emanuella Widjaja yang berada di peringkat delapan dunia.

Namun, Faizal/Gloria tidak diturunkan di Asian Games. Pasangan ganda campuran yang justri diturunkan di Asian Games 2018 adalah Ricky Karandasuwardi/Debby Susanto. Namun, langkah pasangan tersebut terhenti di babak 16 besar.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA