Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Jangan Sebut Zohri Gagal

Selasa 28 Aug 2018 06:03 WIB

Rep: Anggoro Pramudya, Citra Listya Rini, Antara, Lintar Satria/ Red: Andri Saubani

Atlet lari Indonesia Lalu Muhammad Zohri usai tiba di garis finish pada babak semi final cabang olahraga atletik Asian Games 2018 kategori lari 100 meter putra di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, (Ahad (26/8).

Atlet lari Indonesia Lalu Muhammad Zohri usai tiba di garis finish pada babak semi final cabang olahraga atletik Asian Games 2018 kategori lari 100 meter putra di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, (Ahad (26/8).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Lalu Muhammad Zohri finis ketujuh di nomor 100 meter putra dengan waktu 10, 20 detik.

REPUBLIKA.CO.ID, Pelari nasional Lalu Muhammad Zohri finis ketujuh dalam nomor final atletik 100 meter putra di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Ahad (26/8) malam. Adapun, medali emas diraih oleh sprinter asal Cina, Su Bingtian yang menyentuh garis finis dengan catatan waktu 9,92 detik, sekaligus memecahkan rekor Asian Games atas namanya sendiri 9,98 detik yang diciptakan di Incheon, Korea Selatan, 2014.

Zohri tidak bisa dibilang gagal pada gelaran Asian Games 2018. Perlu diingat, Zohri bersaing dengan pelari-pelari cepat Asia bukan Asia Tenggara. Zohri, 18 tahun bahkan menjadi pelari termuda di antara delapan sprinter yang beradu cepat di nomor final.

Pemuda asal Desa Pemenang Barat, Lombok Utara itu bahkan sudah membuat kejutan sehari sebelumnya, yakni menjadi yang tercepat pada heat 3 babak kesatu dengan catatan waktu 10,27 detik. Tepuk tangan para penonton di GBK membahana ketika nama Zohri terpampang di papan nama.

"Tidak kecewa, dari awalnya memang saya tidak menargetkan apa pun. Lawan-lawan saya kuat, disamping sering memecahkan rekor mereka juga pelari senior." Lalu Muhammad Zohri.

Para penonton menyemangati pelari asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu sejak aba-aba dimulai. Ketika Zohri mulai melangkahkan kakinya, tepuk tangan para penonton semakin membahana seisi stadion.

Puncak gemuruh teriakan dan tepuk tangan pun pecah ketika Zohri berhasil menyentuh garis finis paling depan. Para penonton larut dalam euforia kemenangan Zohri.

 

Zohri kemudian mempertajam catatan waktunya menjadi 10,24 detik pada babak semifinal saat ia finis tercepat kedua di belakang sprinter Arab Saudi, Mohammed Abdullah Abkar. Senior Zohri, Yaspi Bobi gagal menembus babak final setelah hanya mampu finis dengan catatan waktu 10, 62 detik.

Pada babak final, Zohri kembali mendapat dukungan ribuan penonton di GBK. Zohri memang terlihat sudah sedikit tertinggal sejak start, namun ia tetap bekerja keras mengejar para sprinter top Asia lainnya hingga garis finis dengan catatan waktu 10, 20 detik.

Catatan waktu sprint Zohri di babak final merupakan personal best. Yang artinya, Zohri terus mempertajam catatan waktunya dari penyisihan hingga partai puncak nomor 100 meter di Asian Games 2018.

Meski tak menyumbang medali untuk Indonesia, Lalu Muhammad Zohri merasa tidak kecewa. Ia bahkan, menilai pencapainanya di Asian Games 2018 menjadi pelajaran untuknya meraih kesuksesan pada masa depan.

"Tidak kecewa, dari awalnya memang saya tidak menargetkan apa pun. Lawan-lawan Saya kuat, disamping sering memecahkan rekor mereka juga pelari senior," tegas Zohri saat ditanya awak media, Ahad (26/8).

Seperti tanpa beban, sang juara dunia kelas junior 100 meter U-20 di Finlandia itu pun menegaskan, bahwa hajatan Asian Games kali ini hanya untuk menambah pengalamannya. "Tentu ini menjadi pelajaran bagi Saya. Saya harus berjuang lebih keras agar bisa masuk ke Olimpiade," ucap dia.

Zohri memang sudah layak menjadikan ajang Olimpiade sebagai target dia berikutnya. Tanpa mengecilkan ajang multi event tingkat Asia Tenggara, catatan waktu Zohri sudah jauh di atas peraih emas SEA Games 2017, sprinter asal Malaysia, Khairul Hafiz Jantan dengan catatan waktu 10, 38 detik.

Sekjen PB PASI Tigor Tanjung yang menyaksikan perlombaan atletik bersama Ketua PB PASI Bob Hasan, menilai, catatan waktu yang diraih Zohri di Asian Games 2018 memang sudah pas dengan yang diraih saat menjadi juara dunia junior di Finlandia. Saat menjadi juara dunia di Finlandia bulan lalu, Zohri mencatatkan rekor 10, 18 detik.

"Capaian yang pas dari Zohri. Kalau turun tidak terlalu jauh dan kalau naik juga tidak terlalu jauh," kata Tigor.

Sebelum Asian Games 2018 dimulai, pada awal bulan ini, Tigor berharap dukungan pemerintah tidak hanya diberikan kepada Zohri atau atlet yang berprestasi. Namun, bantuan juga diberikan kepada federasi.

"Kalau dukungan diberikan kepada PB PASI kan siapa aja yang jadi juara akan  gampang nanti dukungnya," kata Tigor di Jakarta, Rabu (8/8).

Tigor pun menjanjikan tim atletik Indonesia akan membuat kejutan, bukan dari nomor 100 meter putra, tetapi dari nomor estafet 4x100 meter putra. Babak final nomor estafet 4x100 meter putra Asian Games 2018 akan digelar pada Kamis (30/8) malam.

"Kami ini spesialis kejutan, tadi Saya bilang berapa kali kami mendapat medali emas tidak ada yang menonton, kami nggak punya target hanya beri kejutan saja."

Baca juga:

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA