Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Berebut Suara Milenial di Pemilu 2019

Selasa 25 Sep 2018 08:32 WIB

Rep: Rizky Suryarandika, Mimi Kartika, Bayu Adji P, Dedy Darmawan Nasution, Febrianto Adi Saputro, Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ratna Puspita

Sejumlah orang yang tergabung dalam Poros Indonesia Muda menggelar aksi pelepasan balon harapan generasi muda di depan Gedung KPU, Jakarta, Rabu (1/8).

Sejumlah orang yang tergabung dalam Poros Indonesia Muda menggelar aksi pelepasan balon harapan generasi muda di depan Gedung KPU, Jakarta, Rabu (1/8).

Foto: Republika/Prayogi
KPU gandeng Kikan, Prabowo-Sandi narasikan pro inovasi, PSI gunakan video biskuit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada sejumlah upaya pendekatan agar para peserta Pemilihan Umum 2019 bisa mendekati kelompok milenial. Peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Ikram Masloman menyarankan pendekatannya harus melalui hobi. 

“Di list kami ada tiga, lewat film, musik, dan olahraga. Ini jadi panduan paslon supaya modifikasi diri,” kata dia dalam diskusi di Jakarta, Senin (24/9). 

Pendekatan lainnya, yakni pasangan calon dan tim sukses wajib memperjuangkan isu penting bagi milenial, misalnya pengurangan pengangguran dan akses tempat tinggal. “Mereka sensitif ke isu perumahan, pengangguran. Mereka concern (peduli) kesana,” kata dia. 

Pakar branding Yuswohady menyarankan peserta pemilu agar menggabungkan antara nilai rasional dan emosional. Sebab, pemilih milenial bisa mengubah pilihan politik pada menit-menit terakhir karena menjatuhkan pilihan berdasarkan pertimbangan emosional dan rasional. 

Pilihan rasional, yakni pemilih milenial memilih berdasarkan program yang oke. “Akan tetapi, menit terakhir si calon menusuk hati pemilih maka mereka (pemilih milenial) bisa mengubah pilihannya," katanya, Sabtu (15/9).

Baca Juga: Mengenal Generasi Milenial 

Siapa Milenial? Berdasarkan surveinya, LSI memperkirakan ada 40-50 persen pemilih masuk kategori milenial pada Pemilu 2019. Mereka yang termasuk kategori milenial, yakni pemilih pemula dan pemilih muda. 

Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) pernah mencatat bahwa jumlah pemilih pemula pada pemilu 2019 mencapai kisaran 14 juta. Jika merujuk pada kategorisasi milenial adalah mereka yang lahir antara 1980an dan 2000 maka jumlahnya lebih banyak.

Pemilih dalam kategori ini termasuk pada usia 35 tahun dan bahkan 40 tahun.   Jika dikategorisasi hingga 35 tahun, Perludem mencatat jumlah pemilih mencapai 79 orang. Jika hingga 40 tahun maka jumlahnya mencapai 100 juta.

Ikram mengatakan generasi milenial memiliki karakteristik. “Mereka kena terpaan internet, arus informasi cepat, borderless. Ini pengaruhi sikap politik,” kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA