Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Jejak Gempa dan Tsunami Palu di Masa Lampau

Rabu 03 Oct 2018 18:37 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Foto udara pascagempa dan tsunami di kota Palu, Sulawesi Tengah.

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi sejumlah menteri Kabinet Kerja mengawasi proses evakuasi korban gempa di reruntuhan Hotel Roaroa di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (3/10).

Foto:
Butuh waktu berbulan-bulan untuk mempelajari gempa Sulteng.

Ia mengungkapkan terdapat peristiwa serupa pada awal 1900-an dan sekitar 1937, walaupun tidak diketahui apakah hal itu menyebabkan tsunami.

“Dan ada sebuah makalah yang diterbitkan pada 2013, di mana disarankan sesar Palu, yang sangat lurus dan panjang, berpotensi menyebabkan gempa bumi dan tsunami yang sangat merusak,” katanya.

Jadi menurutnya, telah terdapat bahan untuk dipelajari guna mengantisipasi terjadinya gempa dan tsunami di Sulteng. “Tapi pertanyaannya adalah, apakah kita belajar sesuatu dari insiden masa lalu? Sepertinya tidak demikian,” ujar Switzer.

Hamza Latief dari Institut Teknologi Bandung yang telah meneliti garis patahan itu sejak 1995 mengatakan, tsunami bukanlah yang pertama kali menghantam area tersebut. Berdasarkan catatan sejarah, pada 1927, gelombang setinggi 3-4 meter bergerak di mulut teluk, namun meningkat hingga 8 meter ketika mendekati daratan.

Kemudian perihal banyaknya korban jiwa akibat gempa dan tsunami di Sulteng, Switzer dan Cummins sepakat hal itu tidak disebabkan oleh teknologi, melainkan minimnya pengetahuan masyrakat.

Menurut Switzer, tsunami di Sulteng berbeda dengan tsunami yang menghantam Aceh pada 2004. Tsunami Sulteng adalah tsunami lokal akibat gempa dekat pantai. “Bagi orang-orang di pantai dan di kota, gempa seharusnya menjadi peringatan dini,” ucap Switzer.

Cummins pun berpendapat demikian. Ia menilai, fokus pada titik kegagalan teknolgi dalam konteks gempa Sulteng adalah keliru. Walaupun ada anggapan yang menyebut alat pendeteksi gempa dan tsunami sebagai sistem dari peringatan dini di Sulteng belum diperbaiki selama enam tahun.

Namun Cummins mengatakan, dalam situasi tersebut masyarakat tidak dapat mengandalkan sistem peringatan. Mereka harus segera mencari tempat tinggi segera sesaat setelah gempa terjadi.

“Mereka tidak dapat menunggu sirene atau peringatan, mereka harus bergerak cepat. Masalahny adalah, dari apa yang saya lihat dari rekaman (tsunami Sulteng), banyak orang tampaknya tidak melakukan hal itu,” ujarnya.

“Entah mereka tidak tahu mereka perlu melakukan hal itu atau mereka tidak percaya apa pun akan terjadi, dan dalam kasus yang mengatakan masyarakat di Sulawesi tidak berpengetahuan tentang apa yang perlu mereka lakukan dalam situasi itu, itulah yang membunuh orang-orang,” kata Cummins menambahkan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA