Tuesday, 13 Zulqaidah 1440 / 16 July 2019

Tuesday, 13 Zulqaidah 1440 / 16 July 2019

Jejak Gempa dan Tsunami Palu di Masa Lampau

Rabu 03 Oct 2018 18:37 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Foto udara pascagempa dan tsunami di kota Palu, Sulawesi Tengah.

Foto udara pascagempa dan tsunami di kota Palu, Sulawesi Tengah.

Foto: Republika TV/Fakhtar Khairon Lubis
Butuh waktu berbulan-bulan untuk mempelajari gempa Sulteng.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ahli dan pakar di bidang geofisika, khususnya seismologi, masih mempelajari penyebab pasti terjadinya tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Phil Cummins, seorang profesor bencana alam dari Australian National University menyebut dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memastikan penyebab tsunami di Sulteng.

Cummins menjelaskan, gempa di Sulteng pekan lalu bukan berjenis thrust earthquake, yakni jenis gempa yang kerap menyebabkan tsunami. Dalam kondisi gempa seperti ini, lempeng tektonik bergerak secara vertikal naik dan turun serta memindahkan air.

Baca juga, Ilmuwan Asing Terkejut Besarnya Gelombang Tsunami Palu.

Sebaliknya, gempa Sulteng disebabkan oleh lempeng tektonik yang bergerak secara horizontal. Gempa tersebut, menurut Cummins, biasanya hanya menyebabkan tsunami kecil atau lemah. Tak hanya itu, ia menjelaskan, tsunami kerap disebabkan oleh gempa yang jaraknya ratusan mil dari pantai dan goncangan jarang dirasakan di darat.

Sementara di Sulteng, gempa terjadi tak jauh dari pantai. “Adalah tidak biasa melihat bencana ganda seperti ini,” kata Cummins, dikutip laman the Guardian pada Selasa (2/10). Disebutkan bahwa dibutuhkan beberapa bulan penelitian lapangan dan eksplorasi bahwa laut untuk menentukan penyebabnya.

Chairman of the Asian School of Environment di Nanyang Technological University, Singapura, Adam Switzer menyoroti tentang pertanyaan apakah gempa bumi dan tsunami di Sulteng tak terprediksi. Ia mengatakan, terdapat sistem gangguan besar dan terdokumentasi dengan baik yang berjalan melalui Palu dan panjangnya sekitar 200 kilometer.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA