Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Masih Amankah Rupiah Kita?

Jumat 05 Okt 2018 06:17 WIB

Red: Elba Damhuri

Ilustrasi Rupiah Melemah

Foto:
Sejumlah indikator menunjukkan kondisi perbankan baik, juga ekonomi nasional

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai, rupiah berpotensi menguat karena mulai adanya penguatan dari mata uang euro. Hal itu setelah adanya kebijakan dari Pemerintah Italia untuk memangkas defisit APBN selama tiga tahun ke depan.

"Diharapkan dapat memberikan sentimen positif pada rupiah. Terutama dengan berkurangnya imbas dari kenaikan dolar AS," ujarnya, Kamis (4/10). 

Di sisi lain, kata dia, masih adanya berita positif dari pemerintah terkait upaya menstabilkan nilai tukar rupiah menjadi sentimen positif untuk membantu rupiah bertahan dari pelemahan lebih dalam.

Ekonom dan Project Consultant ADB Institute, Eric Sugandi, menjelaskan, rupiah tertekan pada awal pekan Oktober karena kekhawatiran pelaku pasar finansial terhadap risiko membengkaknya defisit transaksi berjalan di negara berkembang akibat naiknya harga minyak.

Sementara, tekanan yang terjadi pada Kamis (4/10) lebih disebabkan menguatnya dolar AS karena membaiknya kinerja ekonomi negeri Paman Sam tersebut.

Dia memprediksi, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut hingga akhir tahun. "Sampai akhir 2018, rupiah pergerakannya saya perkirakan di antara Rp 14.800-Rp 15.200. BI pasti akan tetap aktif intervensi untuk perkecil volatilitas rupiah," ujar Eric, kemarin.

Pelemahan rupiah berdampak ke pasar saham. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (4/10) ditutup 11,11 poin atau 1,89 persen menjadi 5.756,61. Pelemahan terjadi karena pelaku pasar mengantisipasi turunnya kinerja emiten akibat menurunnya kurs rupiah.

Pengamat pasar modal, Aria Santoso, mengatakan, investor kembali melakukan aksi lepas saham mengantisipasi kinerja emiten di tengah penguatan dolar AS secara global. "Apresiasi dolar AS secara global berdampak negatif pada mata uang rupiah dikhawatirkan dapat memengaruhi kinerja emiten," katanya.

Kendati demikian, menurut dia, pelemahan IHSG yang cukup dalam ini dapat dijadikan kesempatan investor untuk melakukan akumulasi secara selektif. "Di tengah tekanan itu akan ada rebound jangka pendek, sebagian investor akan merespons dengan melakukan aksi beli selektif." 

(iit septyaningsih/idealisa masyrafina/antara, ed: satria kartika yudha)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA