Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Ramai-Ramai Melawan Grup Komunitas Gay di Jawa Barat

Jumat 12 Okt 2018 11:00 WIB

Red: Muhammad Hafil

Ilustrasi penderita homoseksual.

Bendera pelangi simbol kaum LGBT.

Ridwan Kamil Ikut Angkat Bicara Terkait Munculnya Kasus Grup Komunitas Gay.

Dibutuhkan Terapi Psikologis untuk Merehabilitasi Para Remaja Tersebut

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pun, turut angkat bicara. Menurut Ridwan Kamil, kasus itu membuatnya prihatin. Secara khusus, Ridwan Kamil akan berkomunikasi dengan Bupati Garut untuk memetakan dulu masalahnya.

"Saya komitmen untuk memberantas hal-hal begitu, apalagi di level usia pelajar," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil di Gedung Sate, Selasa (9/10).

Menurut Emil, ia belum memiliki data secara lengkap karena baru baca di media daring. Jadi, ia belum bisa banyak berkomentar.

"Saya mohon izin belum bisa komentar banyak, hari ini saya mau kontak Bupati Garut untuk minta data dan setelah itu ada saya kabari rencana tindakannya," katanya.

Sementara, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengungkapkan, banyaknya anggota dalam grup tersebut membuktikan betapa bahayanya apabila mereka terus mengampanyekan gay di kalangan anak-anak atau remaja laki-laki. Grup tersebut akan semakin menyebar dan seolah menjadi tempat pembenaran kelainan seksual mereka.

“Anak-anak belum memiliki orientasi seksual sehingga grup FB ini berpotensi membangun kekeliruan cara pandang anak terkait orientasi seksualnya,” ujar Retno Listyarti, Selasa (9/10).

KPAI menyampaikan keprihatinan mendalam terkait munculnya kembali komunitas gay ini. Apalagi, komunitas tersebut menyasar anak-anak sekolah usia SMP dan SMA atau SMK.

Masyarakat Garut saat ini resah dengan keberadaan grup tersebut. Mereka khawatir grup tersebut akan mengganggu tumbuh kembang anak ke arah negatif.

"Kalau kampanye seperti ini meluas, maka berdampak secara signifikan pada pembentukan orientasi seksual anak yang menyimpang," ujar Retno.

Baca juga: Messi, Si Pemangsa Tim Liga Inggris

Baca juga:Cara Alami Hilangkan Mata Panda

Karena itu, ungkapnya, dibutuhkan terapi psikologis untuk merehabilitasi para remaja tersebut. Pelaksanaan rehabilitasi psikologis dan medis membutuhkan pelibatan masif dari P2TP2A Garut, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), dan Dinas Pendidikan setempat sesuai jenjang pendidikan korban. 

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sambung Retno, sejatinya segera berkoordinasi untuk penanganan kasus ini agar tidak meluas. Mengingat kejadian yang hampir sama ditemukan tidak hanya di Garut, tetapi juga di Cikarang Selatan dengan skala yang lebih kecil dan lebih tertutup.

Selain itu, tambahnya, sangat diperlukan kepekaan dan kesadaran para guru dan orang tua untuk berpartisipasi aktif dalam mendampingi anak-anaknya. Termasuk kontrol orang tua terhadap penggunaan smartphone anak-anaknya sebagai upaya pencegahan.

"Apalagi waktu anak paling banyak adalah di rumah, ketika orang tua sudah memberikan HP ke anaknya, maka orang tua wajib mengontrolnya demi melindungi anak-anak dari berbagai konten kekerasan maupun pornografi," ucapnya.

Kepada pihak sekolah maupun guru, Retno juga menyarankan agar memiliki tingkat kepekaan yang lebih tinggi lagi kepada peserta didik yang diajarnya. Serta sosialisasi pendidikan kesehatan reproduksi harus digiatkan secara terus-menerus di berbagai sekolah dan juga di masyarakat sebagai strategi pencegahan berbasis kepekaan masyarakat di lingkungan sekitar. 

Baca juga:

Kemenag: Kegiatan Keagamaan Tangkal Perilaku LGBT

Intelijen Kejakgung Temukan Ratusan Komik LGBT Bahasa Cina

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA