Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Mari Arif dan Bijaksana Menyikapi Insiden Pembakaran Bendera

Selasa 23 Okt 2018 07:20 WIB

Rep: Erik Iskandarsjah, Kiki Sakinah, Zahrotul Oktaviani, Umar Mukhtar, Amri Amrullah, Mimi Kartika/ Red: Muhammad Hafil

Lasykar Hizbullah dengan bendera tauhidnya dalam parade di Markas Besar TKR/BKR di Yogyakarta pada masa perjauangan kemerdekaan.

Lasykar Hizbullah dengan bendera tauhidnya dalam parade di Markas Besar TKR/BKR di Yogyakarta pada masa perjauangan kemerdekaan.

Foto: 50 tahun indonesia merdeka
Biarkan aparat penegak hukum yang menyelesaikan kasus ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah pihak diminta arif, menahan diri, dan tidak terprovokasi atas insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Bandung, Senin (22/10). Biarkan aparat penegak hukum yang menyelesaikan masalah ini sesuai aturan yang berlaku.

Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid mengatakan semua pihak harus menghindari polemik yang bisa merugikan umat Islam. Ia pun berharap Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober menjadi momentum bagi semua pihak, khususnya kalangan santri, untuk meneladani dan mengambil pelajaran dari perjuangan Laskar Hizbullah.

Ia mengatakan dari Laskar Hizbullah yang terdiri dari unsur Santri-Kiai, yang dibentuk Kiai Wahab Chasbullah telah mencetuskan semangat Resolusi Jihad. Peran santri saat itulah mengokohkan Indonesia yang merdeka dalam bentuk menjaga persatuan umat Islam demi melawan berbagai penjajahan asing.

"Seharusnya pada saat peringatan Hari Santri menampilkan santri yang berakhlaq mulia, menjaga persatuan umat dan bangsa, menunjukkan karya dan pengabdiannya pada negara," ujar Hidayat, Senin (22/10).

Sebab, menurut Hidayat, yang membuat semangat santri bergelora dalam resolusi jihad adalah melawan penjajahan didasari aqidah Islam berdasarkan kalimat 'La ilaha ill Allah' dan itu menjadi lambang dalam bendera laskar Hizbullah diatasnya bendera merah putih.

"Bendera laskar Hizbullah yang 'La ilaha illa Allah' di atasnya bendera merah putih itulah yang menjadi bendera mengobarkan semangat para santri dalam resolusi jihad melawan penjajah atau memepertahankan kemerdekaan," kata Hidayat.

Kepada umat Islam, ia berharap secara keseluruhan agar ormas dan elemen umat Islam saling mengingatkan secara arif dan bijaksana. Hidayat mengimbau semua pihak saling mengingatkan sebagai saudara seiman, sebangsa dan senegara.

Ia juga mengajak semua pihak memahami bahwa posisi santri sebagai bibit akhlaq dan uswatun hasanah. Dengan demikian, semua pihak tidak mudah termakan provokasi dan permusuhan sesama umat Islam agar persatuan umat tetap terjaga.

Selain itu, ia menyatakan, selayaknya tidak saling menegasikan, menghujat dan menjatuhkan. Akan tetapi, sebaliknya saling menguatkan dan melengkapi kekuatan persatuan umat Islam demi bangsa dan negara.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengajak masyarakat utuk menyampaikan pesan dengan adab dan cara yang baik. Karena menurutnya, keberadaban sebuah bangsa dilihat dari cara masyarakatnya menyampaikan pesan dan menyelesaikan perbedaan. Di samping itu, Emil juga menekankan agar oknum yang bersangkutan segera menyampaikan permohonan maaf.

"Bangsa kita harus naik kelas menjadi bangsa yang lebih mulia dan lebih beradab," tulisnya.

Baca juga: Berebut Suara Santri, Sejarah dan Perkembangannya

Baca juga: Besok, FPI akan Polisikan Pembakar Bendera Kalimat Tauhid

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA