Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Faktor-Faktor Penyebab Rupiah Perkasa

Selasa 04 Dec 2018 08:33 WIB

Red: Elba Damhuri

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah

Foto: Foto : MgRol112
Aliran modal asing yang masuk lebih karena faktor eksternal.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Dessy Suciati Saputri, Ahmad Fikri Noor

Presiden Joko Widodo (Jokowi) yakin nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan terus menguat. Menurut Jokowi, arus modal masuk yang membuat rupiah menguat terjadi berkat meningkatnya kepercayaan investor.

Jokowi menjelaskan, pemerintah selama ini berupaya mengelola fiskal secara hati-hati. Buktinya, kata dia, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya 1,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Terjaganya defisit APBN, disebut Jokowi, telah menambah kepercayaan investor global terhadap ekonomi Indonesia. Apalagi, ekonomi Indonesia masih tumbuh di atas lima persen dengan inflasi terjaga pada kisaran 3,2 persen secara tahunan.

"Saya dengar capital inflow sudah kembali masuk. Jangan kaget nanti kalau dolar turun terus," kata Jokowi saat menghadiri acara CEO Networking, di Jakarta, Senin (3/12).

Meski meyakini dolar AS akan terus melemah, Jokowi berharap kurs rupiah menguat secara bertahap demi menjaga daya saing ekspor Indonesia. "Kita juga ingin (agar dolar AS) turunnya jangan terlalu cepat dan drastis. Karena, kita masih membutuhkan untuk persaingan ekspor produk Indonesia," ujarnya menjelaskan.

Pada awal pekan ini, rupiah melanjutkan penguatannya. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah pada Senin (3/12) ditutup pada level Rp 14.252 per dolar AS, lebih kuat dibandingkan Jumat (30/11) yang berada di level Rp 14.339 per dolar AS.

Namun, masuknya uang panas ke dalam pasar finansial ini diwaspadai oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef). Menurut Indef dalam rilisnya pekan lalu, penguatan drastis rupiah sebulan terakhir lebih karena ditopang banyaknya penarikan utang pemerintah dalam bentuk surat berharga negara (SBN). Dengan tawaran bunga SBN yang relatif tinggi di kawasan Asia Tenggara dan Asia, investor portofolio masuk ke pasar Indonesia untuk mencari selisih bunga.

Menurut Indef, penguatan rupiah model ini amat rentan terhadap gejolak mata uang. Sebab, begitu terjadi pembalikan dan selisih bunga negara lain lebih besar, capital inflow yang masuk ke dalam negeri dengan cepat akan berubah menjadi capital outflow. Ini sudah terjadi beberapa kali sepanjang tahun ini.

Menurut catatan Bank Indonesia (BI), jumlah modal asing masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 34,25 triliun pada November 2018. Adapun sepanjang Januari-November 2018, jumlah modal yang masuk sebesar Rp 62,4 triliun. Di bursa saham, modal asing masuk sebesar Rp 12,2 triliun pada November. Sementara, sepanjang Januari-November, jumlahnya sebesar Rp 46,4 triliun.

Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra menjelaskan, imbal hasil surat utang global yang melandai menjadi katalis di pasar surat utang domestik. Investor global mulai bergerak mencari instrumen yang masih menawarkan tingkat imbal hasil menarik, salah satunya adalah surat utang Indonesia.

"Aliran modal asing yang masuk lebih karena faktor eksternal," katanya kepada Republika. Meski begitu, harus diakui, kata dia, kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah dan BI turut memberikan sentimen positif terhadap investor.

Dia mengatakan, sepanjang Januari-November 2018, gerak investor asing di pasar saham masih berada dalam posisi nett sell senilai Rp 45,58 triliun. Sementara, di pasar obligasi negara, secara kumulatif tercatat mengalami nett buy senilai Rp 62,42 triliun.

Made meyakini, faktor eksternal masih akan terus memengaruhi kondisi pasar keuangan di dalam negeri. "Adapun dari dalam negeri, upaya pemerintah untuk menjaga defisit neraca berjalan akan menjadi fokus perhatian investor," ujar Made.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian juga menyebut, ada tiga faktor yang membuat masuknya modal asing. Ketiganya adalah melunaknya sikap bank sentral AS the Federal Reserve terkait suku bunga, meredanya perang dagang AS dan Cina, serta penurunan harga minyak dunia.

Dia mengatakan, ketiga faktor tersebut membuat valuasi surat berharga negara menjadi lebih menarik dan memicu arus modal masuk. "Sentimen ini diperkirakan akan terus berlanjut sampai akhir 2018," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA