Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Masa Depan Ekonomi Digital di Tangan Milenial

Sabtu 08 Dec 2018 14:15 WIB

Red: Friska Yolanda

Belanja Online. Ilustrasi

Belanja Online. Ilustrasi

Foto: USAToday
Nilai perdagangan online meningkat delapan kali lipat dalam kurun waktu lima tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Kaum muda, generasi millenial saat ini, menjadi idola baru karena menjadi motor penggerak utama dalam transformasi ekonomi menuju ekonomi digital. Wajar saja, anak-anak muda 'berkaos oblong' ini menjadi perhatian di seluruh dunia karena diyakini di tangan merekalah perekonomian dunia akan bertumpu.

Pemilik (CEO) qlapa.com Benny Fajarai di Palembang dalam acara 'BI Goes To Campus' mengatakan betapa ekonomi digital ini terasa mudah dan dekat bagi anak-anak muda, jika dibandingkan kalangan 'senior' meski sudah berpengalaman di bidang bisnis. Hal yang membuat mudah itu, karena generasi millenial terbiasa dengan fitur-fitur digital seiring dengan semakin meluasnya akses internet di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Benny menceritakan, dirinya sama sekali tidak pernah membayangkan bakal menjadi pemilik 10 besar situs belanja online produk cinderamata asal Indonesia. Awalnya, pria asal Pontianak, Kalimantan Barat, ini terpacu lantaran kecewa atas disparitas harga yang cukup jauh antara kota asal produk dengan kota yang jadi market. Apalagi, ia pernah mendatangi sebuah pameran kerajinan tingkat nasional dan sangat terkejut karena banyak produk impor di dalamnya.

Baca juga, Menggerakkan Ekonomi Melalui Aplikasi Bedukmutu

"Pelecutnya begini, saya pernah beli dompet kulit di Yogyakarta Rp 80 ribu, tapi ketika sampai di Jakarta dengan kualitas yang sepadan harganya sudah Rp 300 ribu. Dari sini saya yakin membuka bisnis cendera mata, karena melihat ada peluang di sini yang belum terjamah," ujar dia.

Awalnya, ia hanya bermodalkan Rp 500 ribu untuk membeli produk kerajinan tangan di Bali. Ia memulainya juga secara tidak sengaja, yakni saat berkunjung ke kota wisata itu tiga tahun lalu untuk berlibur, tepatnya di usia 25 tahun.

Lalu, pria 27 tahun itu mencoba memasang produk yang dibeli itu di media sosial, dan mendapatkan respons positif. Lalu, usaha kemudian berkembang karena mulai banyak pemesan.

photo
Warga memilih barang menggunakan web aplikasi belanja online di Jakarta, Rabu (25/11).

Puncaknya, Benny kemudian membangun sistem belanja daring qlapa.com dengan menggandeng kalangan profesional. Saat ini, usaha Benny sudah masuk 10 besar situs belanja kerajinan tangan di Indonesia. Ia pun masuk dalam daftar '30 Under 30 Asia' yang dilansir Majalah Forbes 2016.

Menurutnya, berbisnis online ini 'susah-susah gampang' karena sangat bergantung dengan produk yang ditawarkan. Oleh karena itu, sangat dituntut inovasi dari pemilik untuk menemukan metode terbaik agar situs belanja mendapatkan pelanggan tetap.

Terlepas dari kesuksesan yang sudah diraihnya itu, Benny mengatakan terdapat tantangan yang besar di masa datang karena produk-produk kerajinan Indonesia masih bersaing dengan produk asing. Namun, bagi pemula, menurutnya tidak perlu takut meski saat ini bisnis online sedang menjamur. Apalagi kue yang ada justru semakin membesar karena dirinya sendiri merasakan kenaikan pangsa pasar 15 persen setiap tahunnya.

"Jangan mencoba berkompetisi dengan yang sudah ada, jangan coba untuk menyaingi Tokopedia atau Go-Jek karena itu sudah besar sekali. Coba cari celah lain, seperti jual kasur online, kan sekarang belum ada," kata dia.

Menurut laporan Huawei dan Oxford Economics yang berjudul Digital Spillover, potensi ekonomi digital dunia pada 2016 mencapai 11,5 triliun dolar AS. Ini sama dengan 15,5 persen dari GDP dunia. Lalu kurang dari satu dekade kemudian angkanya meningkat luar biasa menjadi 25 persen GDP dunia.

Lihat juga, Langkah Menkominfo Tingkatkan Keamanan Dunia Digital

Ekonomi digital Indonesia sekarang hampir sama dengan Cina pada tahun 2010, berdasarkan indikator-indikator seperti penetrasi e-retail, GDP per kapita, penetrasi internet, pengeluaran ritel, dan urbanisasi. Pada 2017, nilai perdagangan online Indonesia mencapai 8 miliar dolar AS. Nilai ini meningkat menjadi 55 sampai 65 miliar dolar AS pada tahun 2022.

Sedangkan penetrasi pengguna internet meningkat dari 74 persen penduduk menggunakan internet saat ini menjadi 83 persen pengguna di 2022. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakini bahwa potensi demografi penduduk Indonesia yang didominasi dengan generasi tech-savvy menjadi akses perekonomian besar.

Untuk mendukung digital ekonomi, saat ini pemerintah tengah membangun satelit dalam rangka meng-cover konektivitas di seluruh Indonesia. "Tren bisnis mulai berubah. Banyak perusahaan konvensional itu pindah atau mengembangkan aspek digital," kata dia.

Perlu dicatat, di Asia Tenggara saat ini sudah ada delapan unicorn dan setengahnya berasal dari Indonesia. Mereka antara lain Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak. 

photo
Pendiri Alibaba Jack Ma menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10).

Dampak Perdagangan Online

Dengan pencapaian saat ini saja sudah jelas sangat luar biasa. Mengacu pada laporan McKinsey (2018), perdagangan online memiliki dampak yakni keuntungan dari sisi finansial, karena saat ini Indonesia adalah pasar terbesar untuk e-commerce di Asia Tenggara. Nilainya saat ini kurang lebih 2,5 miliar dolar AS dan akan menjadi 20 miliar dolar AS di tahun 2022. Nilainya meningkat delapan kali dalam kurun lima tahun.

Kemudian, harga-harga yang lebih murah karena dengan berbelanja online. Konsumen di luar Jawa dapat menghemat 11 sampai 25 persen dibandingkan berbelanja di ritel tradisional.

Selain itu, adanya kesetaraan gender karena faktanya, perempuan menikmati 35 persen 'kue' penjualan online dibandingkan dengan 15 persen pada ritel tradisional. Ini artinya kesetaraan gender memungkinkan dicapai melalui ekonomi digital. Begitupun dengan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan yang semakin dinikmati masyarakat.

Ekosistem Digital

Pemerintah terus berupaya dalam mewujudkan Indonesia menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Salah satunya melalui pembangunan ekosistem yang memadai agar para pemain ekonomi digital Indonesia bisa terus berkembang.

Pertama, pemerintah akan membangun ekosistemnya agar para pemain ekonomi digital ini bisa berkembang dengan baik. Terutama dari segi infrastruktur, dan juga dari peraturannya.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan mengatakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan mewujudkan pemerataan koneksi internet cepat di seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah akan menyelesaikan proyek Palapa Ring, yang dapat menjangkau semua Kabupaten dan kota madya di Indonesia. 

"Kita membangun juga BTS di tempat yang blank spot. Kita meluncurkan satelit supaya daerah terpencil bisa dilayani internet," kata Samuel.

Pemerintah juga menyiapkan undang-undang mengenai perlindungan data pribadi agar masyarakat yang ingin bertransaksi secara digital bisa terlindungi datanya dengan aman. Kemenkominfo juga tengah berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui program Digital Talent Scholarship untuk mendukung terealisasinya Indonesia sebagai negara dengan pemanfaatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Baca juga, Penetrasi Internet Dorong Majunya Ekonomi Digital Indonesia

Untuk mewujudkan hal tersebut diakui olehnya penuh dengan tantangan, terutama dari segi waktu penyelesaian. Namun dirinya yakin potensi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan terus berkembang.

"Diharapkan kalau ini bisa selesai kita bisa masuk ke ekonomi digital yang diperkirakan pada 2020 bisa mencapai omset 2.000 triliun," kata dia.

Kemapanan infrastruktur menjadi kata kunci untuk optimalisasi ekonomi digital ini. Benar saja ucapan Jack Ma saat berbicara di Pertemuan Tahunan Bank dunia dan Dana moneter Internasional (IMF) di Bali, beberapa waktu lalu. "Tiga puluh tahun yang lalu, jika tidak ada aliran listrik, maka negara tersebut tidak memiliki harapan. Sekarang, acuannya bukan lagi aliran listrik, melainkan koneksi internet," katanya.

Kemudian yang tak kalah penting yakni membangun ekosistem digital untuk membentuk interkoneksi yang membuat segalanya menjadi terhubung.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA