Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Masih Solidkah PAN?

Kamis 27 Dec 2018 05:43 WIB

Red: Elba Damhuri

Diskusi Lesehan DPR. Politisi Senior Amien Rais (tengah) bersama nara sumber lain menghadiri seminar terkait penegakan hukum dengan lesehan di Hall DPR RI, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (29/10).

Diskusi Lesehan DPR. Politisi Senior Amien Rais (tengah) bersama nara sumber lain menghadiri seminar terkait penegakan hukum dengan lesehan di Hall DPR RI, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (29/10).

Foto: Republika/ Wihdan
Tuduhan lima tokoh pendiri partai dibantah pengurus muda PAN.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Fauziah Mursid, Ali Mansur

Partai Amanat Nasional (PAN) mengklaim tetap solid meski ada surat terbuka dari lima tokoh pendiri PAN. Wakil Sekretaris Jenderal DPP PAN Saleh Partaonan Daulay menuding kemunculan surat terbuka tersebut sarat kepentingan politik jangka pendek.

"Surat itu jelas bertujuan untuk memecah belah konsentrasi PAN dalam menghadapi pemilu, khususnya pilpres yang akan datang," ujar Saleh, Rabu (26/12).

Saleh menilai kelima tokoh pendiri PAN tersebut sudah mengundurkan diri sejak 2014. Menurut dia, tidak tepat jika tokoh yang sudah mengundurkan diri mencampuri urusan internal PAN.

"Surat itu ditandatangani oleh salah seorang yang sudah mengundurkan diri dari PAN sejak beberapa tahun lalu, tepatnya 15 Mei 2014. Sebagai orang yang sudah mengundurkan diri, tentu sangat tidak tepat jika ikut campur lagi urusan PAN," kata Saleh.

Surat terbuka mengatasnamakan lima tokoh pendiri PAN. Kelima pendiri PAN tersebut adalah Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohamad, Toeti Heraty, dan Zumrotin. Mereka membuat surat terbuka agar Amien Rais mundur dari politik praktis di partai berlambang matahari terbit itu.

Dalam surat terbuka yang disampaikan kelima tokoh pendiri PAN, mereka menilai Amien Rais sering melakukan manuver politik yang tidak sejalan dengan prinsip pendirian PAN. "Sudah saatnya Saudara (Amien) mengundurkan diri dari kiprah politik praktis sehari-hari, menyerahkan PAN sepenuhnya ke tangan generasi penerus," tulis para pendiri dalam surat terbuka yang dikonfirmasi Goenawan Mohammad, Rabu (26/12).

Dalam surat terbuka tersebut, lima kelima tokoh yang menjadi bagian pendiri PAN meminta Amien menempatkan diri sebagai penjaga moral dan keadaban bangsa. Mereka membeberkan, setidaknya ada lima hal yang dianggap tak sejalan dengan prinsip tersebut. Pertama, Amien Rais dianggap makin cenderung eksklusif dan tidak menumbuhkan kerukunan bangsa dalam berbagai pernyataan dan sikap politiknya.

Kedua, Amien sebagai tokoh reformasi yang ikut berperan dalam mengakhiri kekuasaan Orde Baru, justru telah bersimpati, mendukung, dan bergabung dengan politisi yang beraspirasi mengembalikan kekuatan Orde Baru ke kancah politik Indonesia.

"Ketiga, Saudara telah menjadikan agama sebagai alat politik untuk mencapai tujuan meraih kekuasaan," ujar Goenawan.

Albert Hasibuan mengklaim, surat terbuka mereka untuk menyolidkan internal PAN. Ia membantah surat terbuka tersebut justru untuk memecah konsentrasi PAN menjelang Pemilu 2019. Lima tokoh pendiri PAN justru menuding Amien Rais sebagai dalang yang membatasi ruang gerak dan pemikiran PAN.

"Kita minta dengan sangat PAN tak pecah. Kami minta Amien Rais mundur dan mendorong agar PAN bisa bebas menentukan arahnya. Saya tidak akan meminta PAN atau mengharapkan PAN, tapi agar PAN bisa lebih bebas menentukan sikapnya," ujar Albert di kediamannya di Jalan Mirah Delima, Permata Hijau, Jakarta, Rabu (26/12).

Namun, surat terbuka kelima tokoh pendiri langsung mendapatkan respons dari junior mereka di PAN. Anggota Dewan Kehormatan PAN, Dradjad Wibowo, membalas dengan surat terbuka pula kepada kelima tokoh pendiri tesebut.

Dradjad mengatakan, surat permintaan pengunduran diri kepada Amien Rais itu tidak objektif karena tidak sesuai fakta. Contohnya, Amien Rais dituduh sering melakukan manuver politik yang tidak sejalan dengan prinsip PAN. Prinsip keempat dan kelima, yakni tentang keterbukaan, inklusif, persamaan hak, dan kewajiban warga negara.

Menurut Dradjad, tuduhan eksklusif terbantahkan dengan kasus masuknya Bara Hasibuan, putra Albert Hasibuan, ke kursi parlemen Senayan. Ia menggantikan anggota DPR RI terpilih dari Sulawesi Utara, Yasti Soepredjo Mokoagow, yang mundur untuk menjadi bupati Bolaang Mongondow (Bolmong).

Sebagian besar dari 100 ribu lebih pemilih Yasti merupakan umat Islam di Kabupaten Bolmong. Namun, penggantinya, Bara, hanya dipilih 17 ribuan suara saudara Nasrani di Sulawesi Utara. Faktanya, prosesi pergantian keduanya lancar dan tanpa gejolak isu agama.

"Jika Pak Amien dan PAN tidak inklusif, tidak terbuka, tidak menghormati persamaan hak warga negara dan hak anggota PAN, apa mungkin pergantian ini mulus? Kurang inklusif bagaimana Pak Amien dan PAN?" kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA