Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Peneliti LIPI Ingatkan Potensi Gempa 8,8 SR di Mentawai

Rabu 06 Feb 2019 17:33 WIB

Red: Andri Saubani

[ilustrasi] Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho saat memberi keterangan pers terkait gempa yang melanda kepulaan Mentawai, Sumatra Barat di Kantor BNPB, Jakarta.

[ilustrasi] Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho saat memberi keterangan pers terkait gempa yang melanda kepulaan Mentawai, Sumatra Barat di Kantor BNPB, Jakarta.

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Puluhan gempa di Mentawai pada 2-5 Februari bisa menjadi penanda megathrust.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawijaya menilai puluhan kali gempa pada 2 - 5 Februari 2019 di segmen Mentawai, Sumatra Barat (Sumbar), bisa menjadi penanda awal terjadinya gempa besar 8,8 SR di daerah itu. Pola itu pernah terjadi saat gempa dan tsunami Aceh pada 2004.

"(Di Aceh) Gempa itu dimulai dengan gempa 7,2 SR di Simeulue kemudian dua tahun setelahnya terjadi megathrust 9,2 SR di Aceh," katanya di Padang, Rabu (6/2).

Danny menjelaskan, gempa pada sebuah segmen akan mempengaruhi segmen di dekatnya. Hal itu yang kemungkinan terjadi dengan gempa yang terjadi di Sumbar beberapa waktu terakhir ini.

Berdasarkan penelitian, pengaruh gempa terhadap segmen gempa di dekatnya bisa dirasakan antara tiga bulan hingga 30 tahun. Artinya dalam kurun waktu itu, gempa megathrust kemungkinan besar terjadi di Sumbar.

Apalagi, jika menghitung siklus gempa megathrust Mentawai yaitu 200-300 tahun. Gempa besar terakhir yang terjadi pada segmen itu diperkirakan pada 1797, artinya saat ini sudah memasuki puncak siklus tersebut.

Hanya saja, ada harapan energi gempa yang diperkirakan 8,8 SR itu bisa berkurang. Penyebabnya, adanya pelepasan energi secara sedikit-demi sedikit dengan gempa 6-7 SR.

Senada dengan sang peneliti, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut kemungkinan terjadinya gempa di Sumbar itu adalah tahun-tahun ini. Meski tidak bisa menyebut secara pasti karena memang tidak ada ilmu untuk itu, tetapi ia memperkirakan sudah sangat dekat karena itu BMKG lebih memprioritaskan penyiapan peralatan peringatan dini Sumbar dibanding daerah lain.

"Peringatan dini gempa dan tsunami itu disebarluaskan dari stasiun BMKG pusat ke daerah seperti Pusdalops dan TNI. Ada juga mekanisme otomatis melalui televisi dan HP," ujarnya. Saat ini, BMKG menambah 20 unit alat peringatan dini itu untuk ditempatkan di Sumbar agar pemantauan bisa lebih maksimal.

Kepala BNPB Letnan Jenderal Doni Monardo mengatakan seluruh hasil riset dari peneliti, pakar dan BMKG itu harus dijadikan sebagai pijakan utama dalam mengambil kebijakan terkait antisipasi bencana di daerah. BNPB dapat penugasan langsung dari Presiden Joko Widodo untuk memastikan masyarakat di Sumbar waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengatakan provinsi itu adalah supermarket bencana karena itu pemerintah daerah telah berupaya semaksimal mungkin meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat agar bisa menyelamatkan diri secara swadaya jika bencana terjadi. Namun, karena keterbatasan Sumbar tetap membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat dan pihak terkait lainnya.

Baca Juga:

Puluhan kali gempa

Gempa berkekuatan 6 SR tercatat terjadi di Kecamatan Sikakap, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat pada Sabtu (2/2). Gempa terjadi tepatnya pada pukul 16.27 WIB dengan kedalaman 17 kilometer.

"Lokasi 117 kilometer tenggara Kepulauan Mentawai Sumatera Barat," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangannya, Sabtu.

BMKG mencatat 52 gempa mengguncang Mentawai, Sumatra Barat pada Sabtu (2/2) hingga pukul 21.00 WIB. Rata-rata kekuatan gempa berada pada level di bawah 5 sklara Richter.

"Dari 52 gempa tersebut sebanyak enam gempa dengan kekuatan di atas 5 Skala Richter dan 46 lainnya di bawah 5 Skala Richter," kata Kepala Pusat Gempa bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono saat dikonfirmasi dari Padang, Sabtu.

Rahmat menyampaikan, memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi termasuk dalam klasifikasi dangkal. Gempa terjadi akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia tepatnya di zona Megathrust yang merupakan zona subduksi lempeng yang berada di Samudera Hindia sebelah barat Sumatra

"Konvergensi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi yang menjadi salah satu kawasan sumber gempabumi yang sangat aktif di wilayah Sumatera. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dipicu oleh penyesaran naik," kata dia.

Guncangan gempa bumi ini dilaporkan dirasakan di daerah Padang Panjang, Bukittinggi, Solok II-III MMI Padang, Pariaman, Painan III-IV dan Kepulauan Mentawai (Tua Pejat,Pagai Selatan) IV-V MMI. "Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi tidak berpotensi tsunami," ujar dia.

Salah seorang warga Pesisir Selatan, Joni mengatakan, gempa dirasakan cukup keras di Surantih. Sedangkan Warga Padang Andri mengatakan gempa dirasakan cukup kuat di kawasa Lubuk Begalung Padang. Namun, berdasarkan pantauan di jalan raya di Padang aktivitas masyarakat tetap berjalan normal.

[video] Gempa tidak Bisa Diprediksi

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA