Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

AS, Iran, dan Tudingan Biang Keladi di Timur Tengah

Jumat 15 Feb 2019 07:52 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Budi Raharjo

Amerika Serikat vs Iran (ilustrasi)

Amerika Serikat vs Iran (ilustrasi)

Tak bisa meraih perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah tanpa konfrontasi dengan Ir

REPUBLIKA.CO.ID, WARSAWA -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengatakan Iran menjadi ancaman utama di Timur Tengah. Dalam pertemuan yang membahas Timur Tengah di Warsawa, Polandia, Pompeo mengatakan kunci utama meraih kedamaian di Timur Tengah adalah berkonfrontasi dengan Iran.

"Anda tidak bisa meraih perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah tanpa berkonfrontasi dengan Iran, hal itu tidak mungkin," kata Pompeo, Kamis (14/2).

Sebelum pertemuan tersebut digelar Pompeo menemui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Didampingi Netanyahu, Pompeo mengatakan 'memukul mundur' Iran satu-satu cara mengatasi semua masalah di Timur Tengah.

Netanyahu ikut berpartisipasi dalam pertemuan dengan negara-negara Arab tersebut. Ia mengatakan pertemuan ini 'titik balik yang bersejarah'. Menandakan adanya pergeseran prioritas Timur Tengah.

"Di dalam ruangan yang berisi sekitar 60 menteri luar negeri dan perwakilan dari puluhan negara, perdana menteri Israel dan menteri luar negeri negara-negar Arab berdiri bersama dan berbicara tentang kekuatan yang tidak biasa dan bersatu menentang musuh bersama rezim Iran," kata Netanyahu, sebelum bertemu dengan Pompeo.

Netanyahu menambahkan pertemuan ini akan menandakan suatu perubahan. Pertemuan yang bertujuan untuk memahami ancaman apa yang akan mereka hadapi di masa depan.

AS dan tuan rumah Polandia mensponsori konferensi ini. Mereka mengatakan pertemuan ini untuk mempromosikan kedamian dan keamanan di Timur Tengah. Tapi pada akhirnya hanya fokus untuk mengisolasi Iran. Negeri Para Mullah itu sudah mengutuk pertemuan tersebut sebagai 'sirkus' AS anti-Iran.

Wakil Presiden AS Mike Pence datang bersama beberapa perwakilan negara-negara Arab. Tapi Prancis dan Jerman tidak mengirimkan pejabat-pejabat tinggi mereka. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini juga menolak hadir.

Rusia dan Cina juga menolak undangan pertemuan tersebut. Sementara Palestina yang meminta pertemuan ini diboikot juga tidak hadir.

Bagi Netanyahu sebagai orang yang sudah lama menentang perjanjian nuklir Iran 2015, pertemuan ini menandakan keberhasilanya untuk menyatukan musuh-musuh Iran. Ia sudah lama mengaku Israel memiliki hubungan yang baik dengan negara-negara Arab walaupun tidak memiliki hubungun diplomatik resmi.

Pada hari Rabu (13/2) lalu ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman, Yusuf bin Alawi. Sebelum pertemuan digelar Netanyahu juga bertemu dengan menteri luar negeri Yaman, perwakilan Kuwait, Qatar dan lainnya.   

Israel sudah menandatangani perjanjian damai dengan Mesir dan Yordania. Tapi negara-negara Arab lainnya menolak mempublikasi hubungan mereka dengan Israel tanpa ada akhir dari kependudukan Israel ditanah Palestina yang sudah berlangsung selama setengah abad itu.

Tapi isu Palestina ini kian meredup karena permusuhan bersama mereka terhadap Iran. Netanyahu melihat Iran sebagai ancaman terbesar Israel.

Sudah beberapa kali Iran mengancam akan menghancurkan Israel, mereka juga memiliki program nuklir dan mendukung berbagai milisi di Timur Tengah. Selama beberapa bulan terakhir ini Israel sudah menyerang markas-markas militer Iran di Suriah.    

Amerika berusaha memperluas pembahasan pertemuan yang hanya membahas Iran ini. AS juga ingin membahas konflik Israel-Palestina, pertempuran melawan ISIS dan perang di Suriah dan Yaman.

Penasihat senior Presiden AS Donald Trump, yang juga menantunya Jared Kushner sudah dua tahun berkerja untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Tapi tidak ada kemajuan sama sekali. AS mengatakan Kushner akan membuat beberapa komentar tentang konflik itu di Warsawa.

Tapi Netanyahu mengatakan ia tidak mengharapkan diskusi apa pun tentang rencana perdamaian dengan Palestina. Sementara itu Palestina juga menolak membahas konflik mereka di pertemuan ini karena selama ini Trump lebih mendukung Israel.

"Tidak ada negara yang akan mendominasi diskusi hari ini juga tidak ada isu yang mendominasi pembicaraan kami, semua orang harus berbicara dengan jujur dan bijaksana, setiap negara harus menghargai suara yang lainnya, kami harap semua terlibat dalam dialog bolak-balik yang benar, tidak hanya melafalkan pernyataan yang sudah disiapkan sebelumnya," kata Pompeo dalam pembukaan pertemuan ini.

Pompeo menambahkan AS ingin semua negara membawa pandangan mereka masing-masing dan melepaskan cara pikir tradisional. Pompeo menyadari pertemuan yang bersifat terbuka ini dapat membawa pandangan yang 'mungkin bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat'.

Tapi ia mengatakan dialog ini terbuka karena tidak ada negara yang dapat menyelesaikan masalah di Timur Tengah sendirian. "Kami harus bekerja sama untuk keamanan, tidak ada negara yang tertinggal di pinggiran," tambah Pompeo.  

Baca Juga

photo
Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.


Rusia, Iran dan Turki juga menggelar pertemuan yang membahas Timur Tengah di Sochi, Rusia. Deutsche Welle melaporkan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas tentang sisa pemberontak di Provinsi Idlib, Suriah dengan Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan.

Dua pemimpin negara itu memperantarai gencatan senjata antara pasukan pemerintah dengan pemberontak di Idlib. Tapi beberapa bulan terakhir kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaida mencengkramkan kekuasaan mereka di sana.

"Ankara berjanji kepada Rusia bahwa Turki akan mendorong pasukan bersenjata dari Idlib tapi tidak bisa mempertahankan kata-kata mereka," kata pakar hubungan internasional dari Turki, Burak Bilgehan Özpek.

Rusia pendukung utama rezim Presiden Bashar Assad. Mereka semakin tidak sabar dengan tindak tanduk pemberontak di Idlib. "Kami akan membantu pemerintah Suriah dan pasukan bersenjatanya dengan apa yang bisa kami bantu untuk membebaskan wilayah mereka," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Iran juga menyediakan berbagai bantuan kepada rezim Assad. Sementara Turki bersekutu dengan berbagai kelompok oposisi.

Putin, Erdogan, dan Presiden Iran Hassan Rouhani juga dikabarkan akan membahas tentang komite khusus yang ditugaskan untuk membuat rancangan konstitusi Suriah yang baru. Sebelumnya PBB mengakui mereka tidak dapat membuat komite semacam itu karena Suriah menolak daftar anggota komite yang mereka ajukan. n Lintar Satria/AP

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA