Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Menanti Sikap Pemerintah Pascajatuhnya Ethiopian Airlines

Senin 11 Mar 2019 08:50 WIB

Rep: Rahayu Subekti/Dwina Agustin/Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil

Ethiopian Airlines Jatuh. Puing-puing yang diduga berasal dari pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh ditemukan di Hejere, 50 km dari Addis Ababa, Kenya (10/3).

Ethiopian Airlines Jatuh. Puing-puing yang diduga berasal dari pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh ditemukan di Hejere, 50 km dari Addis Ababa, Kenya (10/3).

Foto: AP
Kemenhub belum mendapatkan informasi resmi penyebab jatuhnya Ethiopian Airlines.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat penerbangan Alvin Lie melihat jatuhnya pesawat  Ethiopian Airlines perlu menjadi perhatian bagi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia. Hal ini melihat, jenis pesawat yang jatuh Ahad (10/3) ini memiliki jenis sama Lion Air PK-LQP, yaitu Boeing 737 Max 8.

"Kemenhub perlu mencermati kecelakaan ini dan tidak ragu larang terbang sementara semua Boeing 737 Max 8 di Indonesia, demi mencegah terjadinya kecelakaan lagi," kata yang juga anggota Ombudsman bidang transportasi kepada Republika.co.id, Ahad (10/3) malam.

Alvin mengakui, hingga saat ini belum diketahui penyebab kecelakaan pada Boeing 737 Max 8 Ethiopian Air yang jatuh Ahad (10/3). Hanya saja, pesawat tersebut jatuh dengan pola yang sama kecelekaan yang sama dengan Boeing 737 Max 8 Lion Air pada Oktober lalu.

"Kemenhub perlu terus ketat mengawasi pengoperasian Boeing 737 Max 8 di Indonesia, sambil memantau penyelidikan penyebab kecelakaan Boeing 737 Max 8 Ethiopian Air," kata Alvin.

Kalau memang benar ada kesamaan penyebab kecelakaan dengan Lion Air PK-LQP, Alvin menegaskan, Kemenhub perlu membuat larangan terbang. Kondisi itu harus diberlakukan hingga Boieng melakukan perbaikan terhadap sistem yang menyebabkan terjadinya dua kecelakaan fatal dalam lima bulan terakhir.

"Apabila penyebabnya serupa dgn PK-LQP, akan jadi tantangan berat bagi Boeing untuk segera menemukan sumber masalah dan memperbaiki rancang bangun Boeing 737 Max 8," ujar Alvin.

Saat ini, ada dua maskapai di Indonesia yang sudah mengoperasikan Boeing 737 Max 8. Yaitu, Lion Air dengan 10 pesawat (awalnya 11 tapi karena JT 610 jatuh tersisa 10) dan Garuda Indonesia yang mengoperasikan 1 pesawat.

Lion Air sendiri sebelum peristiwa jatuhnya JT 610, berencana memesan ratusan pesawat dengan jenis yang sama. Namun, pascakejadian itu, Lion Air berencana membatalkannya. Sementara Garuda, hingga akhir tahun lalu, masih berencana untuk memesan 49 unit pesawat dengan jenis yang sama.

photo

Baca Juga

Lion Air Boeing 737 MAX 8.



Terkait hal itu,  Kemenhub masih menunggu hasil inestigasi resmi dari Maskapai Ethiopian Airlines mengenai penyebab kecelakaan tersebut. Sebab, pesawat tersebut memiliki jenis yang sama seperti kecelakaan Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 pada 28 Oktober 2018. Pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut berjenis Boeing 737 Max 8.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub Avirianto mengatakan saat ini sudah berkoordinasi juga dengan Komite Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Selain itu juga berkoordinasi dengan Maskapai Garuda Indonesia dan Lion Air yang saat ini masih mengoperasikan pesawat dengan jenis Boeing 737 Max 8.

Meskipun begitu, Avirianto menegaskan saat ini tidak mau terburu-buru untuk menentukan sikap setelah Maskapai Etiopia mengalami kecelakaan dengan tipe pesawat yang sama. "Kami tidak terburu-buru tanpa satu tujuan. Jadi kita menunggu dari Etiopia kenapa pesawatnya (jatuh)," kata Avirianto kepada Republika.co.id, Ahad (10/3).

Avirianto menjelaskan penyebab kecelakaan pesawat tersebut dapat bermacam-macam. Hanya saja, jika penyebabnya sama seperti kecelakaan Lion Air JT 610 maka Kemenhub dapat memberhentikan pengoperasian Boeing 737 Max 8 sementara dan melakukan inspeksi kembali.

Hanya saja, hingga saat ini dia memastikan Kemenhub belum mendapatkan informasi resmi penyebab kecelakaan tersebut. "Kita juga belum mendapatkan kabar dari mereka, tapi kita wasapada dengan kejadian yang lalu," tutur Avirianto.

Sampai kini belum diketahui penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737 ini. Pesawat jet penumpang Boeing 737 milik Ethiopian Airlines menuju Nairobi, ibu kota Kenya. Pesawat dengan penerbangan ET 302 itu jatuh di dekat kota Bishoftu, 62 kilometer tenggara ibu kota Ethiopia, Addis Ababa.

"Tim teknisi Boeing akan menyiapkan bantuan teknis atas permintaan dan arahan Dewan Keamanan Transportasi Nasional Amerika Serikat," tambah Boeing dalam pernyataan mereka.

Boeing akan ikut terlibat dalam investigasi jatuhnya Ethiopian Airlines yang dipimpin oleh Biro Investigasi Kecelakaan Ethiopia dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (AS).

Boeing 737 Max 8 memiliki spesifikasi panjang 39,52 meter dan lebar 35,9 meter. Pesawat yang menggunakan mesin dari CFM International pabrik gabungan GE Avition dan Safran Aircraft ini dapat menempuh berjalanan 6,570 kilometer.

Tipe pesawat ini sama dengan Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018 lalu. Pesawat Boeing 737 Max 8 itu hancur berkeping-keping di lautan. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA