Tuesday, 19 Rajab 1440 / 26 March 2019

Tuesday, 19 Rajab 1440 / 26 March 2019

Mengapa Istri Abu Hamzah Memilih Meledakkan Diri?

Kamis 14 Mar 2019 19:22 WIB

Rep: Mabruroh/Febri/ Red: Teguh Firmansyah

Personel kepolisian berjaga di lokasi terjadinya ledakan yang diduga bom saat penggerebekan terduga teroris di kawasan Jalan KH Ahmad Dahlan, Pancuran Bambu, Sibolga Sambas, Kota Siboga, Sumatera Utara, Selasa (12/3).

Personel kepolisian berjaga di lokasi terjadinya ledakan yang diduga bom saat penggerebekan terduga teroris di kawasan Jalan KH Ahmad Dahlan, Pancuran Bambu, Sibolga Sambas, Kota Siboga, Sumatera Utara, Selasa (12/3).

Foto: Antara/Jason Gultom
Istri terduga teroris Husain memilih meledakkan diri daripada menyerah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sampai detik terakhir, istri terduga teroris Husain alias Abu Hamzah menolak bernegosiasi. Perempuan berinisial S tersebut memilih meledakkan diri bersama anaknya daripada menyerahkan diri kepada kepolisian.

Baca Juga

Menurut Pengamat Teroris dan Intelijen Dir CIIA, Harits Abu Ulya banyak pemicu yang menyebabkan istri dari terduga teroris Husain tidak mau menyerahkan diri sampai akhir. Apalagi doktrin pengikut ISIS melarang mereka untuk menyerah pada thogut. Sebutan kelompok ISIS terhadap polisi.

“Paham dan keyakinan yang dia adopsi yang bersumber dari doktrin kalangan pengikut ISIS bahwa mati itu lebih baik daripada menyerah kepada pihak-pihak yang dianggap dzalim bahkan kaum thogut (kafir),” kata Harits kepada Republika.co.id, Kamis (14/3).

Ditambah lagi, sambung Harits, kemarahan S atas penangkapan aparat terhadap suaminya semakin membuat persepsi negatif terhadap Densus 88 mengkristal. Kemudian dengan kondisi dirinya yang saat itu seolah terintimidasi dengan pengepungan aparat di sekeliling rumahnya.

“Hadirnya aparat yang mengepung rumahnya berpengaruh secara psikis dirinya, panik, takut, cemas, marah semuanya akan menjadi faktor yang berpotensi mendorong dirinya melakukan perbuatan nekat dan fatal seperti melawan atau bahkan bunuh diri,” kata Harits.

Harits menerangkan, andai saja polisi bisa mengambil momentum lain yang tepat mungkin upaya bunuh diri tersebut bisa dihindari. Polisi ungkapnya, tentu sudah mengintai pergerakan Husain dan istrinya sejak lama sehingga pastinya tahu kapan momen paling tepat untuk melakukan penangkapan tanpa harus terjadi bom bunuh diri.

“Karena tidak mungkin 24 jam target memeluk bom rakitannya, artinya perlu momen yang tepat di saat target pada posisi jauh dari bom, baru kemudian disergap atau dilumpuhkan. Atau jika tidak memungkinkan barang kali perlu ada sniper yang bisa melumpuhkan dengan bius atau tembakan pada titik yang tidak mematikan tapi bisa mencegah terjadinya aksi bom bunuh diri,” kata Harist.

Mengingat tambahnya, target telah dipantau cukup lama sehingga sangat mungkin terbaca pola perilaku kesehariannya. Serta membuka peluang untuk mengambiltindakan pada momentum yang sangat tepat.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan, pelaku teror di Sibolga memang berharap adanya kontak senjata dengan polisi.

Pelaku teror, kata dia, memang menargetkan polisi sebagai sasaran. Istri terduga teroris Husain sengaja memancing anggota Densus mendekat untuk kemudian dijebak ke dalam bom bunuh diri.

"Dia (istri Abu Hamzah) memang mau mati karena memercayai bom bunuh diri tiket ke surga. Kalau anggota polisi kan tidak berpikir seperti itu. Mereka menjalankan tugas," ujar Tito di Auditorium Universitas Negeri Padang, Kamis (14/3).

Menurut Tito, pelaku peledakan bom di Sibolga, merakit bom secara mandiri.  Husain alias Abu Hamzah dan istrinya belajar merakit bom dari situs online.

photo

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian saat pidato di acara Konvensi Nasional Pendidikan di Auditorium Universitas Negeri Padang, Kamis (14/3).

Bom yang dibuat pasangan suami istri ini kata Kapolri terbilang sangat berbahaya karena daya ledaknya mencapai radius 100 meter.  "Pelaku belajar membuat bom itu dari internet. Tidak lagi dengan komando. Tapi sudah mandiri," kata Tito.

Tito menyebut kejadian bom di Sibolga ini menyadarkan semua pihak bahwa sel-sel teroris belum sepenuhnya habis di Indonesia. Sel-sel teror kata dia bergerak tanpa komando. Dan bisa mandiri dalam menciptakan peledak.

Tito kemudian menjelaskan kronologis penangkapan pelaku teror di Sibolga ini. Pihak Detasemen Khusus (Densus) 88, kata dia, membutuhkan waktu sampai 10 jam untuk melakukan negosiasi agar istri Abu Hamzah menyerahkan diri.

Tapi negosiasi tidak ada hasil, Istri Abu Hamzah memutuskan melakukan aksi bom bunuh diri yang menewaskan ia beserta seorang anaknya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA