Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Kampanye yang Menghormati Keragaman

Senin 08 Apr 2019 13:13 WIB

Rep: Mimi Kartika, Umi Soliha, Agata Eta, Wilda Fizriyani, Riza Wahyu Pratama, Bambang Noroyono, Dessy Suciati Saputri, Muhyiddin, Febrianto Adi Saputro, Ali Mansur/ Red: Karta Raharja Ucu

Pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno saat kampanye akbar di Jakarta, Minggu (7/4/2019).

Capres dan Cawapres Nomor Urut 01, Joko Widodo dan Maruf Amin (tengah) menyapa masyarakat saat kampanye Karnaval Indonesia Satu di Tangerang, Banten, Ahad (7/4/2019).

Foto:
Islam menghormati semua agama dan semua suku.

Antusias yang diperlihatkan kedua paslon pada Ahad kemarin diharapkan menjadi semangat menjaga persatuan. Harapan itu disampaikan puluhan ulama pendukung kedua paslon yang melebur dalam kegiatan Halaqah Kebangsaan di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur (Jatim), Ahad.

Pengasuh Ponpes KH Salahuddin Wahid mengajak, sejumlah ulama, kiai, dan cendekiawan merekatkan kembali hubungan di Halaqah Kebangsaan di Jombang, Ahad (7/4). Kegiatan ini utamanya ditujukan ke pada mereka yang terbagi dalam kubu pendukung Jokowi-Kiai Ma'ruf dan pendukung Prabowo-Sandiaga. Menurut pria yang disapa Gus Solah ini, kegiatan ini pada dasarnya berasal dari gagasan Kiai Mahfudz Sobari dari Mojokerto.

Tokoh Islam ini mengajaknya untuk mengundang para ulama dan kiai sekaligus sebagai pendukung capres 01 dan 02. "Yang berbulan-bulan ini aktif mendukung pasangan masing-masing," kata Gus Solah usai Halaqah Kebangsaan, Ahad (7/4) kemarin.

Ia menuturkan, para pendukung ini bisa saja dalam kehidupannya telah berkomunikasi dengan terlalu semangat. Kemudian telah melakukan hal yang tidak cocok dalam memenangkan capres dukungannya.

Dari hal ini, pihaknya mencoba merekatkan kembali hubungan yang merenggang tersebut. "Renggang, tidak sampai pecah ya. Kita ingin merekatkan kembali, terutama selesai pilpres (2019)," kata dia.

Pada hakikatnya, dia melanjutkan, Allah SWT telah menentukan pemimpin terpilih pada 2019. Namun, seluruh masyarakat, terutama umat Islam, belum mengetahui siapa yang akan terpilih antara kedua capres. Hal yang pasti, ia berharap seluruh umat dapat menerima segala ketentuan Allah SWT.

Untuk pertemuan berikutnya, Gus Solah berharap hubungan para kiai dapat direkatkan lebih erat lagi. Pasalnya, persatuan Indonesia sangat bergantung pada keberadaan Islam. Begitu pula dengan Islam yang bergantung pada hubungan antara tokoh agama jam."Terutama di Jawa Timur yang sempat renggang," ujar dia.

Gus Solah juga berpesan, masyarakat agar tidak tergoda dengan tawaran uang yang diberikan para caleg maupun capres. Uang-uang tersebut sebaiknya ditolak daripada harus diterima dengan berbagai persyaratan.

Pimpinan acara Halaqah Kebangsaan, Profesor Imam Suprayogo, menerangkan, kegiatan ini memang pada dasarnya sengaja mengumpulkan kelompok masing-masing. "Kata Gus Solah, dan ini menjadi kelompok 00, jamaah 00. Kiai Mahfudz Sobari (dari Mojokerto) mengiginkan kelompok-kelompok ini bersatu," kata pria yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Hasyim Asy'ari, Jombang, Ahad (7/4) siang.

Seperti diketahui, kata Imam, Indonesia saat ini berada dalam tahun politik. Kondisi ini menjadikan banyak pihak saling berkompetisi, berebut pengaruh dan sebagainya dalam memenangkan capres dukungannya. Situasi ini diharapkan segera berhenti saat pilpres dan pileg 2019 selesai. "Pas berhenti, semoga bisa bersatu dan rukun kembali," kata dia.

Baca Juga: Melihat Cara Pesantren Tebuireng Satukan Pendukung 01 dan 02

Pengasuh Ponpes Pacet Mojokerto Kiai Mahfudz Sobari menjelaskan, Indonesia pada dasarnya dikenal sebagai negara besar yang mayoritas penduduknya beragama Islam. "Dalam kebangsaan, kita jadi saudara terbesar dari agama lain. Otomatis, sebagai saudara besar harus jaga kebesaran (bangsa). Di dalam bangsa ada tokoh untuk kita ajak bersama menjaga keutuhan bangsa besar yang mayoritas Islam," ujar Mahfudz di Ponpes Tebuireng.

Tak hanya menjelang pilpres, ia mengatakan, para kiai dan ulama juga akan dikumpulkan kembali seusai pemilu 2019. "Kita punya agenda lebih besar lagi," ujar dia. Mereka kelak akan fokus meningkatkan aspek pendidikan, ekonomi, dan kesehatan anak bangsa.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA