Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Mengapa Suara PKB dan PKS Naik Signifikan di Pemilu 2019?

Sabtu 20 Apr 2019 11:04 WIB

Rep: Febrianto A Saputro, Mabruroh/ Red: Elba Damhuri

Tabulasi suara Pemilu 2019 di Kantor DPP PKB.

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sohibul Iman mencoblos di TPS 235, Tugu, Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Foto:
Partai Islam yang suaranya naik tinggi baru PKB dan PKS.

Pendapat lembaga survei

Peneliti LSI Denny JA Rully Akbar mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan naiknya perolehan suara PKB. Hitung cepat mereka menunjukkan PKB memperoleh 9,56 persen suara. Pada Pileg 2014, PKB meraih 9,04 persen.

Rulli menyebut, efek ekor jas dari cawapres nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin menjadi salah satu pendongkrak suara PKB. "Jadi, ketika bicara Ma'ruf Amin, bicara NU, pasti terasosiasi kuat ke PKB," kata Rully kepada Republika, Jumat (19/4).

Begitu juga dengan PKS. Seusai hitung cepat yang dilakukan LSI Denny JA, PKS berada di angka 8,04 persen. Menurut Rully, perolehan suara PKS tidak terlepas dari militansi PKS yang mendukung paslon Prabowo-Sandiaga.

"Kalau kita bicara PKS, memang asosiasi paling kuat ke pemilih ketika berbicara 02 pasti Gerindra. Kedua, secara otomatis orang pasti berbicara mengenai militansi kader PKS," ujar dia.

Sementara itu, angka yang didapat PAN tidak sebaik PKS dalam hasil hitung cepat. LSI Denny JA mencatat, PAN hanya mendapatkan 6,16 persen suara. Padahal, dalam Pileg 2014, PAN memperoleh 7,57 persen suara.

"Para era 2014, PAN dikenal dengan anekdot 'partai artis nasional' segala macam untuk mengangkat perolehan suara. Tapi, sekarang hampir mayoritas semua partai (ada caleg artisnya--Red)," ujar dia.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai, PPP cukup beruntung pada Pemilu 2019. Pasalnya, dengan sejumlah masalah yang menerjang hingga detik-detik pemilihan, partai berlambang Ka'bah tersebut masih berpeluang lolos ke parlemen.

Selama ini, kata dia, hasil survei berbagai lembaga kerap menyebutkan PPP tidak lolos ambang batas parleman. Apalagi, setelah eks ketua umum PPP Romahurmuziy ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Ketika Rommy kena kasus KPK, dianalisis oleh beberapa kalangan tidak lolos. Tapi, justru di luar dugaan mereka lolos, walaupun perolehan suaranya menurun (daripada Pemilu 2014),” kata ujang.

Menurut dia, PPP memiliki pendukung yang solid dan militan sehingga mampu menyelamatkan partainya hingga bisa masuk ke parlemen. “Pemilih PPP sangat solid, militan, dan pemilih dari orang-orang lama yang turun-temurun," ujar dia. (Hasil Hitung Cepat Pemilu 2019 Sejumlah Lembaga Survei).

(antara ed: satria kartika yudha)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA