Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Kamis, 25 Safar 1441 / 24 Oktober 2019

Saat Cina Unjuk Kekuatan Kapal Perang

Senin 22 Apr 2019 08:28 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Elba Damhuri

PM Australia Malcolm Turnbull (kiri) bersalaman dengan Presiden Cina Xi Jinping.

PM Australia Malcolm Turnbull (kiri) bersalaman dengan Presiden Cina Xi Jinping.

Foto: ABC News
Menurut Cina, angkatan laut yang kuat sangat penting untuk membangun negara maritim.

REPUBLIKA.CO.ID, QINGDAO – Cina akan memamerkan kekuatan kapal perangnya pada Selasa (23/4). Salah satu yang akan ditunjukkan dalam peringatan hari jadi ke-70 Angkatan Laut Tentara Pembebasan Cina (PLA) tersebut yakni kapal selam nuklir dan kapal perusak.

Tak hanya Cina, beberapa negara lain juga ambil bagian dalam parade ini. Kapal perang dari India dan Australia, misalnya, sudah tiba di Pelabuhan Qingdao, Cina, pada Ahad (21/4) waktu setempat. Kapal-kapal perang itu akan mengikuti parade angkatan laut yang menjadi upaya Cina mempererat persahabatan di tengah meningkatnya ketegangan dan kecurigaan di kawasan tersebut.

Wakil Komandan Angkatan Laut Qiu Yanpeng mengatakan, Presiden Cina Xi Jinping kemungkinan akan ikut mengawasi parade angkatan tersebut. Cina diprediksi akan menampilkan 32 kapal dan 39 pesawat.

"Kapal dan pesawat Angkatan Laut PLA yang akan diperlihatkan adalah kapal induk Liaoning, kapal selam nuklir tipe baru, kapal perusak tipe baru, serta pesawat tempur," kata Qiu, Sabtu (20/4).

Beberapa kapal di antaranya belum pernah dipamerkan. Belum pasti apakah kapal induk Cina yang kedua akan mengambil bagian atau tidak. Yang jelas, dalam beberapa hari terakhir, media Pemerintah Cina memberitakan berbagai pihak memuji uji coba kapal induk tersebut.

Qiu menyebut, sikap Cina yang sering memperlihatkan angkatan bersenjatanya bukan untuk mengancaman siapa pun dan tidak mengejar hegemoni mana pun. "Angkatan Laut PLA belum pernah membawa perang atau turbulensi ke tempat mana pun," kata Qiu.

Cina sedikit trauma tentang masa lalunya. Sejak 1840 hingga 1949, kekuatan asing menyerang wilayah laut Cina lebih dari 470 kali. Peristiwa itu mendatangkan penderitaan tak terhitung dan luka mendalam bagi Cina.

Untuk itu, mereka membutuhkan pertahanan maksimal di laut. "Angkatan laut yang kuat sangat penting untuk membangun negara maritim," ujar Qiu.

Cina mengundang media asing untuk meliput rangkaian parade, termasuk pidato utama oleh Kepala Angkatan Laut Cina Shen Jinlong yang dekat dengan Xi. Peneliti di Akademi Riset Angkatan Laut PLA Zhang Junshe mengatakan, sikap Cina yang mengundang media asing ambil bagian dalam pawai tersebut merupakan tanda keterbukaan dan kepercayaan diri.

Baca Juga

Cina juga melakukan hal serupa saat peringatan ke-60 Angkatan Laut PLA pada 2009. "Kapal selam nuklir dan kapal perang baru akan ditampilkan, ini menunjukkan angkatan laut Cina terbuka dan transparan," kata Zhang.

Cina mengatakan, kapal-kapal perang dari negara-negara lain ikut ambil bagian, di antaranya, Rusia, Singapura, India, Thailand, dan Vietnam. Salah satu sumber diplomatik mengatakan, ada 13 negara yang terlibat. PLA berjanji menyambut negara-negara sahabat itu dengan baik.

India yang sempat bersitegang dengan Cina karena masalah perbatasan mengirimkan kapal perusak siluman, INS Kolkota. "Kami membawa salah satu kapal terbaik yang pernah kami ciptakan. Ini kebanggan nasional dan angkatan laut. Kami sangat senang berada di sini," kata Kapten Aditya Hara di dermaga setelah turun dari kapal di Qingdao, Ahad (21/4).

Untuk mencapai Qingdao, Kolkota berlayar melewati Selat Taiwan. Selat tersebut merupakan wilayah perairan sensitif yang memisahkan Cina dari daerah otonom Taiwan, pulau yang diklaim Beijing bagian dari Cina.

Hara menyebut mereka menuju rute langsung dan difasilitasi Angkatan Laut PLA. "Mereka memastikan kami memiliki jalur aman menuju Qingdao," kata Hara.

Sekutu dekat Amerika Serikat (AS), Australia, mengirim HMAS Melbourne, sebuah kapal perusak dengan rudal pemandu ke Qingdao. Namun, Australia menolak kapten mereka diwawancara media.

Hubungan Cina dan Australia sempat menegang. Peristiwa itu terjadi saat Australia mencurigai intervensi Cina dalam politik domestik mereka. Australia juga melarang masuk perusahaan teknologi Cina Huawei untuk memasok peralatan jaringan 5G.

Jepang tak ketinggalan. Menurut media Jepang, ini pertama kalinya angkatan laut Jepang mengirimkan kapal ke Cina sejak 2011.

Hubungan perekonomian terbesar nomor dua dan ketiga di dunia itu pernah terlibat perselisihan atas pulau-pulau kecil di Laut Cina Selatan. Kecurigaan atas Cina juga membuat Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengubah konstitusi Negeri Sakura yang sebelumnya pasifisme.

Akhir-akhir ini, mereka berusaha memperbaiki hubungan. Abe mengunjungi Beijing pada Oktober 2018. Kedua negara berjanji meningkatkan hubungan dan menandatangani kesepakatan yang sangat luas, termasuk pakta pertukaran mata uang senilai 30 miliar dolar AS.

Beberapa sekutu dekat Cina juga ikut dalam parade ini, yakni Rusia, Vietnam, Malaysia, dan Filipina. Ketiga negara tersebut bersitegang dengan Cina soal Luat Cina Selatan. Pakistan, sekutu dekat Cina, tidak masuk ke dalam daftar negara yang berpartisipasi dalam parade itu. (reuters /ed: qommarria rostanti)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA