Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Kisah Juventus: Delapan, Tiga Tujuh, dan Pertama

Senin 22 Apr 2019 09:25 WIB

Red: Budi Raharjo

Para pemain Juventus merayakan kemenangan atas Fiorentina sekaligus keberhasilan menjadi juara Seri A Italia 2018/2019.

Para pemain Juventus merayakan kemenangan atas Fiorentina sekaligus keberhasilan menjadi juara Seri A Italia 2018/2019.

Foto: EPA-EFE/ALESSANDRO DI MARCO
Juventus memastikan gelar scudetto pada musim ini delapan kali berturut-turut.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Reja Irfa Widodo

Gol bunuh diri bek tengah Fiorentina, German Pezzella, pada menit ke-53 memastikan kemenangan Juventus atas Fiorentina pada giornatake-33 Liga Italia, Ahad (21/4)dini hari WIB. Sempat tertinggal lebih dahulu lewat gol Nikola Milenkovic, si Nyonya Tua akhirnya menutup laga dengan kemenangan 2-1 melalui gol sundulan Alex Sandro dan gol bunuh diri kapten La Viola tersebut.

Kemenangan di Stadion Allianz, Turin, itu sekaligus menorehkan sejarah baru bagi klub yang berdiri sejak 1897 tersebut. Torehan tiga poin pada laga itu membawa si Nyonya Tua memastikan gelar scudettopada musim ini dan meneruskan dominasi di kompetisi tertinggi sepak bola Italia.

Berada di puncak klasemen dengan keunggulan 20 poin dari Napoli yang duduk di peringkat kedua, raihan poin Juventus sudah tidak mungkin lagi dikejar oleh I Partenopei meski tim besutan Carlo Ancelotti itu bisa memetik kemenangan dalam enam laga sisa Seri A.

Torehan 28 kemenangan, tiga hasil imbang, dan hanya menelan dua kekalahan mengantarkan Juventus mengumpulkan 87 poin dari 33 partai di Seri A. Tidak hanya itu, Juventus juga tercatat menjadi tim tersubur dan tim dengan pertahanan terbaik, yaitu dengan mencetak 67 gol dan hanya kebobolan 23 gol.

Liga Italia musim ini akhirnya kembali menjadi bukti kedigdayaan si Nyonya Tua di kancah sepak bola Italia, setidaknya dalam delapan musim terakhir. Selama delapan tahun secara beruntun, si Nyonya Tua kembali berhak menyematkan lambang scudettoatau perisai kecil di jersey hitam-putih milik mereka sebagai penanda juara bertahan Liga Italia pada musim depan.

Torehan tersebut menjadi gelar scudettokedelapan secara beruntun sekaligus menjadi gelar ke-37 Juventus di kancah Seri A. Namun, catatan tersebut sedikit berbeda jika merujuk kepada hitungan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang menilai Juventus baru meraih 35 gelar scudetto.

Perbedaan tersebut tidak terlepas dari skandal calciopoliatau pengaturan skor pada 2006, yang diduga melibatkan Juventus dan sejumlah klub besar lainnya. Alhasil, dua gelar scudettoJuventus dicopot.

Tidak hanya itu, si Nyonya Tua juga dipaksa menjalani hukuman terdegradasi ke Seri B pada musim 2006/2007.

Namun, yang paling menyakitkan bagi pendukung Juventus adalah dua gelar scudettomereka diberikan kepada salah satu rival berat mereka, Inter Milan. Kondisi tersebut tidak pelak kian memanaskan rivalitas antara dua klub tersebut, terutama untuk pendukung kedua kesebelasan.

Kendati begitu, salah satu rekor yang dipecahkan Juventus terkait raihan scudettomusim ini bisa membuat penggemar Juventus lebih jemawa terhadap fan Inter Milan.

Pasalnya, I Bianconeri mampu menyamai rekor Inter Milan sebagai tim tercepat yang memastikan raihan scudetto.

Dengan masih menyisakan lima partai lagi pada musim ini, Juventus menyamai rekor La Beneamata saat meraih gelar Liga Italia musim 2006/2007 atau pada musim pertama Juventus tidak berkiprah di Seri A dan AC Milan mendapatkan pengurangan 15 poin pada awal musim.

Tidak hanya itu, penggemar si Nyonya Tua juga bisa sedikit tersenyum dengan torehan rekor yang dicatatkan klub pujaannya pada musim ini. Juventus menjadi tim pertama dan satu-satunya di lima liga top Eropa yang berhasil meraih gelar liga domestik selama delapan musim berturut-turut.

I Bianconeri melampaui torehan Olimpique Lyon, yang mampu menjadi jawara Ligue 1 dalam tujuh musim beruntun, yaitu pada musim 2001/2002 hingga musim 2007/2008 silam. Torehan tersebut sepertinya bakal sulit disamakan atau dilampaui oleh tim lain di Benua Eropa, terutama di Italia.

Bisa mempertahankan kemenangan beruntun dalam delapan musim bukan sulit, melainkan cenderung tidak mungkin lagi bisa diulangi. Saya rasa torehan ini tidak akan bisa diulangi lagi, terutama di Italia, kompetisi yang sangat sulit. Kami berhasil menang dengan barisan pemain dan pelatih yang luar biasa. Namun, di atas semua itu, kami bisa menang karena mentalitas yang dimiliki klub ini,kata Wakil Presiden Juventus, Pavel Nedved, seperti dikutip Football Italia, Ahad (21/4).

photo

Para pemain Juventus merayakan gol ke gawang Fiorentina.



Namun, tantangan terbesar Juventus pada musim depan sebenarnya bukan lagi di kompetisi domestik. Si Nyonya Tua telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan klub mereka, terutama untuk raihan titel domestik, tetapi belum di level Eropa. Harapan untuk bisa menjadi juara Liga Champions terus ditambatkan Juventus, terutama setelah dua kali menembus partai final Liga Champions dalam lima musim terakhir.

Mendatangkan pemain bintang asal Portugal, Cristiano Ronaldo, pada awal musim ini ternyata belum bisa mengantarkan Juventus ke target terbesar mereka tersebut. Si Nyonya Tua pun begitu terpukul saat disingkirkan Ajax Amterdam pada babak perempat final Liga Champions musim ini.

Kekecewaan itu kemudian diikuti dengan rumor soal bakal hengkangnya sejumlah pemain, termasuk Ronaldo dan Paulo Dybala, dan pergantian pelatih Massimiliano Allegri pada akhir musim ini.

Terlepas dari berbagai rumor tersebut, Juventus sepertinya masih harus menemukan mentalitas yang tepat saat berlaga di kancah Liga Champions. Persis seperti pernyataan Nedved terkait kunci keberhasilan Juventus di pentas Liga Italia. (ed:gilang akbar prambadi)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA