Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Surat Suara Dibakar: Beda Keterangan Polri dan KPUD Papua

Kamis 25 Apr 2019 15:30 WIB

Red: Andri Saubani

Petugas melakukan pendistribusian logistik Pemilu 2019 di Kampung Kayu Pulo, Jayapura, Papua, Selasa (16/4/2019).

Warga binaan Lapas Abepura mengikuti pencoblosan Pemilu 2019 susulan di TPS 66 dan 65, Lapas Abepura, Jayapura, Papua, Kamis (18/4/2019).

Foto:
Polri akan mengusut penyebar video pembakaran surat suara di Tingginambut, Papua.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ilham Saputra, mengatakan, pihaknya sedang menginvestigasi dugaan pembakaran kotak dan surat suara di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua. "Sekarang sedang diinvestigasi siapa pelaku pembakaran, berapa TPS kotak dan surat suara yang dibakar," ujar Ilham dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/4).

Ilham mengatakan, pihaknya sudah melakukan konfirmasi ke KPU Puncak Jaya melalui KPU Provinsi Papua. Berdasarkan konfirmasi tersebut, kata Ilham, kasus tersebut terjadi pada 23 April 2019 di distrik Tingginambut.

"Saya sudah konfirmasi ke Ketua KPU Papua. Kejadian terjadi kemarin Tanggal 23 April 2019, di distrik Tiginambut. Pemilu berjalan lancar, kotak suara sudah disimpan di kantor distrik. Menurut pengakuan Ketua KPU Puncak Jaya via Ketua KPU Papua," lanjut Ilham.

Saat ini, KPU  masih menunggu hasil investigasi dari KPU Puncak Jaya untuk mengambil langkah selanjutnya. "Kami masih menunggu informasi lanjutan dari KPU Puncak Jaya," tambahnya.

Pihak Istana juga memberikan tanggapannya terkait video pembakaran kotak dan surat suara di Kantor Kecamatan Tingginambut, Papua. Menurut Deputi V Kepala Staf Presiden (KSP) Jaleswari Pramodhawardani, kotak dan surat suara yang dibakar tersebut merupakan kertas suara yang tidak terpakai.

Karena itu, untuk menghindari penyalahgunaan kertas suara, petugas KPUD Puncak Jaya pun memusnahkannya. Proses pemusnahan kertas suara yang direkam dalam video itupun seolah-olah menunjukkan proses pemungutan suara di Tingginambut berjalan tidak aman.

"Yang dibakar itu dokumen yang tidak diperlukan lagi, agar tidak disalahgunakan," kata Jaleswari, dikutip dari siaran resmi yang diterima, Rabu (24/4).

Ia pun mengaku telah mengonfirmasi soal hal tersebut kepada petugas di daerah. Menurutnya, dokumen-dokumen penting sudah diamankan ke kantor KPU Mulia, Puncak Jaya untuk dilakukan rekapitulasi.

Jaleswari menjelaskan, pemilu di distrik Tingginambut menggunakan sistem noken yang tidak membutuhkan kertas suara. Penggunaan sistem ini telah disahkan Mahkamah Konstitusi beberapa tahun lalu.

Puncak Jaya merupakan satu dari 12 kabupaten yang diizinkan menggunakan sistem noken itu. Ia pun menduga unggahan video itu dimaksudkan untuk mengacaukan dan mendelegitimasi kerja para penyelenggara pemilu.

"Sepertinya mereka ingin membuat isu di Tingginambut tidak aman padahal ini wilayah yang aman dan baik-baik saja selama pemilu" katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA