Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Strategi Pemerintah Mendongkrak Kinerja Ekspor

Kamis 16 May 2019 07:00 WIB

Rep: Adinda Pryanka, Imas Damayanti/ Red: Satria K Yudha

Aktivitas ekspor impor

Aktivitas ekspor impor

Foto: Republika/Prayogi
Ekspor nonmigas ke hampir semua negara tujuan utama mengalami perlambatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah berupaya meningkatkan penetrasi ekspor ke pasar nontradisional untuk menggenjot kinerja perdagangan. Salah satu negara yang dibidik adalah Argentina. 

Indonesia dan Argentina sudah bersepakat meningkatkan nilai perdagangan kedua negara hingga dua kali lipat daripada capaian 2018 dalam dua tahun ke depan atau pada 2021. Kesepakatan itu dilakukan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Menteri Produksi dan Tenaga Kerja Republik Argentina Dante Enrique Sica saat keduanya melakukan pertemuan bilateral di Buenos Aires, Argentina, kemarin. 

"Indonesia dan Argentina sependapat bahwa dengan potensi kedua negara yang besar, nilai perdagangan keduanya saat ini masih terlalu rendah. Untuk itu, kedua negara sepakat meningkatkan perdagangannya hingga dua kali lipat dalam dua tahun ke depan,” kata Enggar dalam siaran pers, Rabu (15/5). 

Pada 2018, nilai perdagangan kedua negara tercatat sebesar 1,7 miliar dolar AS. Dengan kenaikan dua kali lipat, maka nilai perdagangan RI-Argentina ditargetkan mencapai 3,4 miliar dolar AS.

Argentina merupakan negara tujuan ekspor nontradisional atau bukan utama bagi RI. Penetrasi ke pasar ekspor nontradisional mesti digencarkan karena permintaan ekspor dari mitra dagang utama mengalami perlambatan.

Sepanjang Januari-April 2019, ekspor nonmigas ke hampir seluruh negara tujuan utama menurun. Ekspor ke Cina misalnya, turun 8,71 persen. Begitu pula dengan kinerja ekspor ke Amerika Serikat yang minus 5,23 persen. Penurunan ekspor paling tinggi terjadi ke Malaysia, yakni mencapai 23,50 persen. 

Enggartiasto mengatakan, Argentina merespons positif usulan untuk meningkatkan hubungan perdagangan bilateral. Indonesia dan Argentina, kata dia, adalah hub pasar regional baik di ASEAN maupun MERCOSUR (blok perdagangan Amerika Selatan) yang belum tergarap potensinya secara maksimal oleh kedua negara.

“Penguatan kerja sama perdagangan dan investasi dengan Argentina dan Mercosur penting di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global tahun ini yang diperkirakan akan berlanjut hingga tahun depan,” imbuh Enggar.

Untuk mencapai target ini, kedua negara akan membentuk tim kerja yang akan mengidentifikasi cara-cara untuk meningkatkan perdagangan secara lebih seimbang bagi Indonesia. Selain itu, mempelajari kemungkinan merundingkan perjanjian antara Indonesia dengan Argentina maupun dengan MERCOSUR. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, pemerintah memang perlu mempercepat diverisifikasi pasar ekspor. Menurut dia, keterlambatan memperluas pasar ekspor membuat Indonesia masih terlalu bergantung kepada negara-negara nontradisional seperti AS dan Cina. Padahal, kedua negara tersebut sedang terlibat perang dagang yang menyebabkan mereka menahan permintaan produk dari negara lain. 

"Pasar seperti Afrika Utara, Timur Tengah dan Eropa Timur idealnya bisa menampung kelebihan produksi barang ekspor," ujar Bhima. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor pada April 2019 mencapai 12,60 miliar dolar AS. Nilai tersebut mengalami penurunan 13,10 persen dibanding dengan April 2018 yang mencapai 14,49 miliar dolar AS. Jika dibandingkan Maret 2019, nilai ekspor turun 10,80 persen. 

Ekonom Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan,  pemerintah perlu meningkatkan produk-produk ekspor yang memiliki daya saing tinggi guna dapat diterima pasar di negara-negara nontradisional yang sedang dibuka. "Sebab, produk yang berdaya saing jadi syarat utama agar pasar nontradisional dapat menerima kita,” kata Ilman. 

Menurut dia, lesunya kinerja ekspor dihadapkan berbagai persoalan ekonomi global antara lain perang dagang antara AS dan Cina yang belum reda. Faktor lainnya adalah sikap Uni Eropa yang membatasi sejumlah komoditas ekspor unggulan dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.  

Dia mengatakan, membuka pasar nontradisional membutuhkan waktu yang lama. Sebab, pemerintah harus menghitung secara tepat keuntungan yang akan didapatkan Indonesia dari setiap kerja sama yang dijajaki.

 

 

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA