Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Dan Pemudik Udara Pun Beralih ke Darat

Sabtu 18 May 2019 07:09 WIB

Rep: RAHAYU SUBEKTI, ARIF SATRIO/ Red: Elba Damhuri

Harga tiket pesawat masih mahal.

Harga tiket pesawat masih mahal.

Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Mudik jalur darat menjadi pilihan utama karena tiket pesawat masih mahal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan akan ada peningkatan jumlah penumpang bus dan mobil pribadi saat musim mudik Lebaran 2019. Kondisi itu salah satunya dipicu tingginya harga tiket pesawat.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan, ada perpindahan pemudik yang biasa menggunakan moda udara ke moda darat. "Beberapa operator (bus) akan ada kenaikan jumlah penumpang mulai 15 hingga 25 persen," kata Budi di kawasan Cikini, Jakarta, Jumat (17/5).

Kendati begitu, Budi menilai perpindahan penumpang pesawat ke bus dan mobil pribadi bukan hanya faktor tingginya harga tiket, melainkan juga karena semakin banyaknya ruas tol yang dioperasikan. Peningkatan penumpang bus atau pemudik mobil pribadi akan terjadi ke daerah yang akses tolnya sudah memadai, salah satunya Tol Trans-Jawa.

Budi mengatakan, hal tersebut terlihat dengan adanya penurunan jumlah penumpang pada sejumlah bandara di Jawa Tengah. "Bandara Solo dan Semarang ada penurunan. Banyak yang memilih menggunakan mobil pribadi," ujar Budi menjelaskan.

Menurut proyeksi Kemenhub, penumpang pesawat yang beralih ke jalur darat dapat mencapai 30 persen. Oleh karena itu, Budi meminta operator bus menyediakan mobil cadangan untuk mengantisipasi jika terdapat kekurangan. "Minimal ada mobil cadangan 30 sampai 40 unit bus. Nanti kami ada tim sendiri untuk memantau itu," kata Budi.

Berbagai kalangan mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk kembali menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat. Tujuannya agar tarif angkutan udara dapat lebih terjangkau bagi masyarakat di masa mudik Lebaran 2019.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menilai, penurunan TBA sebesar 12-16 persen yang telah diputuskan Kemenhub terlalu rendah dan tidak akan berdampak signifikan bagi masyarakat. Sebab, harga tiket pesawat sejak akhir tahun lalu sudah naik hingga 60 persen.

"Evaluasi besaran penurunan tarif batas atas tiket pesawat terbang sehingga dapat lebih terjangkau oleh masyarakat," kata pria yang akrab disapa Bamsoet itu, Jumat (17/5).

Bila harga tiket belum stabil, kata dia, masalah ini dikhawatirkan tak hanya merugikan masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga industri penerbangan nasional. Ia mengatakan, DPR mendorong Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub untuk duduk bersama lembaga terkait dan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) guna mengevaluasi besaran penurunan tarif batas atas.

"Besaran (penurunan tarif batas atas) belum maksimal," ujar Bamsoet.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga berharap tarif batas atas diturunkan lebih dalam. "Saya menginginkan itu turunnya bisa 30 persen," kata Arief saat berkunjung ke Kabupaten Bandung, Jumat (17/5).

Mahalnya harga tiket pesawat sangat berimbas pada sektor pariwisata. Ia mengungkapkan, kunjungan wisatawan ke destinasi wisata yang menggunakan pesawat mengalami penurunan hingga 30 persen. Jika hal ini terus terjadi, akan menghambat perkembangan pariwisata di dalam negeri.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA