Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Mendamaikan AS-Iran, Mungkinkah?

Senin 20 May 2019 10:13 WIB

Red: Elba Damhuri

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani.

Foto: AP
Rintisan jalan yang dirajut Barack Obama (AS) dan Hassan Rouhani (Irak) kini rusak.

REPUBLIKA.CO.ID, Tajuk Republika Koran Hari Ini

Baca Juga

Rintisan jalan yang dirajut Barack Obama dan Hassan Rouhani kini berantakan. Kedua presiden inilah yang pada awalnya memecahkan kebekuan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga kemudian muluslah kesepakatan nuklir fenomenal pada 2015.

Meski hanya melalui sambungan telepon selama 15 menit, kedua pemimpin itu mengakhiri ketiadaan komunikasi tingkat tinggi AS-Iran. Ini terjadi enam tahun lalu, 23 September 2013, menjelang kepulangan Rouhani ke Teheran selepas menghadiri Sidang Umum PBB.

Komunikasi Obama dan Rouhani inilah yang diyakini akhirnya menjadi pemulus kesepakatan nuklir Iran dengan enam negara lainnya, yakni AS, Inggris, Prancis, Cina, Rusia, dan Jerman, pada 14 Juli 2015 di Wina, Austria.

Melalui kesepakatan itu, Iran bersedia menurunkan kapasitas program nuklirnya tak menjadi senjata. Imbal baliknya, Uni Eropa dan AS menghapus sanksi ekonomi atas Iran. Sayangnya, penerus Obama, Donald Trump, membalikkan semua kesepakatan itu.

Trump melepaskan AS dari kesepakatan tersebut. Kemudian, ia juga menjatuhkan kembali sanksi ekonomi kepada Iran, termasuk dalam perdagangan minyak yang menjadi penghasilan utama negeri para mullah tersebut.

Uni Eropa masih menegaskan tetap pada pendiriannya untuk terikat dengan kesepakatan nuklir 2015. Meski demikian, Iran yang terus ditekan AS melihat negara-negara Eropa belum mampu membujuk AS untuk melahirkan solusi.

Akhirnya, Iran memutuskan untuk melepaskan kewajiban secara parsial atas kesepakan nuklir 2015. Iran merasa, meski tetap mematuhi kewajiban, apa gunanya kalau sanksi pun tetap mereka tanggung. Di sisi lain, ketegangan antara Iran dan AS terus berlangsung.

AS menghadirkan kapal induknya di wilyah teluk. Garda Revolusi Iran meresponsnya bahwa kapal itu bisa menjadi target rudal mereka. Di sela perang kata-kata, baik AS maupun Iran juga sebenarnya tak menginginkan perang.

Menlu Iran Javad Zarif menyatakan dirinya tak yakin perang bakal pecah di kawasan. Menghadapi situasi sekarang ini, setiap pihak memang harus bisa menahan diri. Pasalnya, jika perang pada akhirnya terjadi, semua yang akan merugi.

Ketegangan di kawasan Teluk juga akan merambah ke wilayah lainnya. Karena itu, alangkah baiknya bila semua kembali ke meja perundingan. Negara-negara Uni Eropa dituntut mampu membujuk AS kembali ke kesepakatan nuklir dan menghentikan sanksinya.

Kuncinya memang di tangan Trump. Mestinya Trump lebih bisa menahan diri dan menghargai legasi pendahulunya, Obama, yang sudah meletakkan dasar jalan perdamaian dengan Iran, khususnya terkait program nuklir Iran.

Sedikit banyaknya, Obama telah mampu meredakan ketegangan dan menuntaskan persoalan nuklir Iran yang sudah lama menemui jalan buntu. Trump mestinya menghargai kesepakatan internasional yang telah dicapai negaranya dengan negara lainnya.

Di sisi lain, negara-negara Arab, terlepas dari rivalitas mereka dengan Iran, sebaiknya juga ikut serta meredam ketegangan yang ada. Ini demi kebaikan bersama. Perang tak akan membuat sesuatu lebih baik meski pihak yang didukung menang.

Lihatlah saat ini negara-negara yang didera perang, termasuk perang saudara. Suriah porak-poranda. Jutaan rakyatnya terlunta. Mereka menjadi pengungsi di dalam negerinya sendiri juga menjadi imigran di negeri orang.

photo
Ancaman Perang Amerika Iran: Pekerja berada di ladang minyak Nihran Bin Omar dekat Basra, Irak, 12 Januari 2017. Exxon Mobil mengungsikan staf asingnya menyusul ketegangan antara AS dan Iran.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA