Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Trump: Iran akan Habis

Selasa 21 May 2019 09:55 WIB

Red: Budi Raharjo

Warga Iran membakar bendera AS di Teheran, Iran, Jumat (10/5). Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengatakan tidak akan menghubungi Presiden AS Donad Trump.

Warga Iran membakar bendera AS di Teheran, Iran, Jumat (10/5). Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengatakan tidak akan menghubungi Presiden AS Donad Trump.

Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi
Lewat cicitan Twitter, Trump mengingatkan agar Iran jangan berani mengancam AS.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran. Ia mengatakan akan menghancurkan negara itu jika ia menyerang kepentingan nasional AS.

"Jika Iran ingin berperang, Iran akan secara resmi habis, jangan pernah lagi mengancam Amerika Serikat," cicit Trump di media sosial Twitter, dilansir Aljazirah, Senin (20/5).

Trump tidak menjelaskan, ancaman seperti apa yang Iran berikan. Ancaman ini justru disampaikan setelah beberapa hari sebelumnya Trump menawarkan agar Iran berbicara dengan AS.

Pernyataan konfrontasi ini diunggah setelah aset minyak Arab Saudi diserang dan sebuah roket meledak di dekat kedutaan besar AS di Baghdad, Irak. Militer Irak mengatakan roket itu menghantam Zona Hijau yang dijaga ketat karena berisi gedung pemerintahan dan misi diplomatik.

Militer Irak mengatakan, tidak ada korban dalam penembakan roket tersebut. Sampai kini juga belum ada yang mengaku bertanggung jawab.

Di tengah memanasnya hubungan dengan Iran, pada awal bulan ini Washington mengerahkan kapal induk dan pesawat pengebom B-52 di kawasan Timur Tengah. Mereka juga mengerahkan kapal perusak amfibi dan sistem pertahanan Patriot.

Pada Rabu lalu, AS memerintah kan evakuasi personil nonesensial dari Kedutaan Besar AS di Baghdad dan kantor konsulat di Erbil yang terletak di sebelah utara Irak. Alasannya, karena ada ancaman dari kelompok bersenjata yang didukung Iran. Belum ada penjelasan tentang ancaman tersebut dan banyak yang skeptis dengan alasan AS itu.

Penasihat keamanan nasional Gedung Putih John Bolton dilaporkan mendorong tindakan keras ke Iran. Namun, pejabat peme rintah lainnya menolak saran itu. Baru-baru ini Trump sendiri mengatakan ia harus 'melunakkan' Bolton.

Trump sempat mengatakan, berharap tidak perlu berperang dengan Iran. Pernyataan ini ia katakan beberapa hari setelah ia mengungkapkan keinginannya untuk berdialog. "Saya yakin Iran ingin segera melakukan pembicaraan," cicitnya.

photo

Presiden Donald Trump

Berpotensi genosida

Pakar melihat pernyataan Trump ini sangat berbahaya. Profesor kajian Timur Tengah di Georgetown University, Trita Parsi, mengatakan bahwa serangan AS akan menjadi genosida.

"Ini jelas sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh pemimpin negara, tapi juga sesuatu yang kontradiktif dan schizoprenik," kata Parsi.

Parsi mengatakan, jika mencoba memahami logika di balik pernyataan Trump, ia menduga Trump dipengaruhi orang-orang seperti Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan John Bolton yang melihat Iran sasaran empuk. Mereka mengira jika Iran ambruk dan AS memperbaiki kondisi negara tersebut, Iran akan mundur dari Timur Tengah.

"Lalu intelijen menunjukkan Iran mulai memahami ancaman Amerika, mereka mempersiapkan diri untuk melawan dan mempertahankan diri, dan tampaknya seolah-olah menakuti Trump. Dia (Trump--Red) tiba-tiba sadar serangan (AS) ke Iran akan meletupkan perang besar dan ia cukup lihai untuk mengerti bahwa perang besar bukan kepentingan (AS) dan ia mulai mengatakan tidak ingin berperang," kata Parsi.

"Tapi setiap kali impulsnya lebih tinggi dari dirinya dan pada saat itulah ia berpaling ke Twitter dan mengatakan hal-hal yang pada dasarnya genosida," tambah Parsi.

Penembakan roket ke dekat Ke dutaan Besar AS di Baghdad terjadi dua pekan setelah Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo memperingatkan pemimpin-pemimpin Irak, jika mereka gagal mengendalikan milisi yang di dukung Iran, AS akan memperluas kekuatannya di sana. Kini, walaupun tidak ada korban dari penembakan itu ada kemungkinan AS memperkuat keamanan mereka.

Menurut dua sumber pertahanan Irak, kunjungan mendadak Pompeo dilakukan setelah intelijen AS melaporkan milisi yang didukung Iran menempatkan roket di dekat perumahan pasukan AS. Pejabat Kementerian Luar Negeri AS mencatat, sejauh ini belum ada yang meng aku bertanggung jawab atas penembakan tersebut dan permukiman pasukan AS juga tidak rusak.

"Tapi, kami akan menanggapi insiden ini dengan sangat serius, kami akan meminta pertanggungjawaban Iran jika ada serangan apa pun yang dilakukan oleh pasukan milisi mereka atau elemen pasukan dan akan menanggapi Iran sesuai dengan hal itu," kata pejabat tersebut.

Militer Irak mengatakan, roket Katyusha jatuh di tengah Zona Hijau dekat Monumen Prajurit Tidak Dikenal. Monumen itu berada di ruang terbuka sekitar setengah kilometer sebelah utara Kompleks Kedutaan Besar AS. Menurut saksi mata kantor berita Reuters ledakan roket terdengar sampai pusat Kota Baghdad.

Iran sebagai sekutu Irak segera mengecam serangan tersebut. Mereka menekankan perang antara Teheran dan Washington akan sangat merugikan Irak dan seluruh kawasan.

Dalam pernyataannya pemimpin milisi dan politisi Hadi al-Ameri mendesak warga Irak untuk tidak menjadikan penembakan ini sebagai pencetus perang, yang hanya akan membakar semua orang. Blok elektoral al-Ameri memiliki kursi terbanyak di parlemen Irak.

Pernyataan ini juga diamini tokoh pendukung milisi Iran lainnya Qais al-Khazali. Di media sosial Twitteria mengatakan, perang tidak sesuai dengan kepentingan Washington maupun Teheran.

Hubungan AS-Iran memburuk sejak 2017 ketika Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015 yang dikenal JCPOA. Trump juga memberlakukan kembali sanksi unilateral dengan tujuan agar Iran menghentikan program nuklir mereka.

Pada bulan lalu, Washington memasukkan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar kelompok teroris. Teheran meresponsnya dengan mendeklarasikan Pusat Komando AS sebagai organisasi teror. (lintar satria/reuters)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA