Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Aksi Massa 22 Mei: Hentikan Kekerasan

Kamis 23 May 2019 08:23 WIB

Red: Budi Raharjo

Suasana saat terjadinya bentrokan di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5) malam. Aksi tersebut berlangsung ricuh.

Suasana saat terjadinya bentrokan di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5) malam. Aksi tersebut berlangsung ricuh.

Foto: Republika/Prayogi
Semua elemen diminta menghargai bulan suci Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kericuhan yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka terjadi di sejumlah lokasi di Jakarta sejak Selasa (21/5) hingga Rabu (22/5). Terkait kejadian itu, calon presiden (capres) pejawat Joko Widodo dan penantangnya Prabowo Subianto sama-sama meminta seluruh elemen menahan diri dan mengedepankan kepentingan bangsa.

"Masyarakat tidak perlu khawatir dan saya mengajak mari kita merajut kembali persatuan kita, merajut kembali persaudaraan kita, merajut kembali kerukunan kita karena Indonesia adalah rumah kita bersama," kata Presiden pada Rabu (22/5) sore di Istana Merdeka, Jakarta, setelah sejak pagi berkantor di Istana Bogor.

Meski begitu, Jokowi sebagai presiden juga menegaskan tak akan memberikan ruang bagi para perusuh yang akan merusak negara. "Kita tidak akan memberikan ruang untuk perusuh-perusuh yang akan merusak negara kita, merusak NKRI. Tidak ada pilihan, TNI dan Polri akan menindak tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku," ujar Jokowi.

Ia juga menegaskan, pemerintah telah menyediakan jalur konstitusi untuk menyelesaikan berbagai perselisihan dan sengketa. Jokowi juga meminta segenap warga Indonesia menghormati bulan suci Ramadhan dengan menjaga kedamaian.

photo
Presiden Joko Widodo (tengah) menyampaikan keterangan terkait kerusuhan pascapengumunan hasil pemilu 2019 di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/5/2019).


Sementara, Prabowo Subianto menyampaikan dukacita atas tim bulnya korban meninggal dalam kerusuhan kemarin. Ia kemudian mengimbau kepada seluruh masyarakat, kepolisian, dan TNI untuk menahan diri dan tidak melakukan kekerasan fisik.

"Termasuk kepada seluruh pejabat publik, pejabat kepolisian, politisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, netizen, dan seluruh anak bangsa untuk menghindari kekerasan verbal pun yang dapat memprokoasi, apalagi di bulan Ramadhan yang baik dan suci ini," ujarnya.

Prabowo juga meminta peristiwa kerusuhan tidak terjadi lagi. Ia khawatir bila peristiwa itu terjadi lagi, hal tersebut dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. "Kami memohon pertolongan kepada Tuhan yang Ma habesar, Yang Maha Esa, agar kemanunggalan TNI-Polri dengan rakyat bisa terjaga dan tidak digunakan alat kekuasaan," katanya.

photo
Pasangan capres dan cawapres No 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.


Pihak kepolisian melansir, kericuhan terjadi di depan kantor Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, sekitar pukul 22.30 WIB. Saat itu, ribuan massa, yang sebelumnya mengikuti aksi memprotes hasil Pemilu 2019 di depan gedung Bawaslu, sudah membubarkan diri.

"Peristiwa pada jam 23.00 WIB sampai dengan pagi itu bukan lagi peserta aksi yang tadi, tapi pelaku yang sengaja, kelompok yang sengaja langsung menyerang dan tujuan untuk membuat kerusuhan," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam konferensi pers di kantor Kemenko Polhukam, kemarin.

Massa yang datang tiba-tiba itu kemudian disebut melakukan provokasi dengan mencoba membongkar barikade kawat duri yang didirikan aparat kepolisian. Tindakan itu kemudian dibalas aparat kepolisian dengan tembakan gas air mata, pengerahan kendaraan meriam air, dan penangkapan sejumlah orang yang disebut sebagai provokator.

Menjelang tengah malam, massa didorong menjauh dari Bawaslu dan kericuhan berpindah di kawasan Tanah Abang. Kepolisian terus melontarkan gas air mata, sementara massa membalas dengan lemparan batu dan tembakan mercon.

Pengejaran massa kemudian mencapai wilayah Petamburan, Jakarta Barat, selepas tengah malam, tepatnya di ruas Jalan KS Tubun. Saksi mata yang ditemui Republika menuturkan, penindakan kepolisian terhadap perusuh memicu balasan juga dari sebagian warga setempat.

Pengejaran kemudian dilakukan kepolisian hingga kampung-kampung. Sebagian warga melarikan diri ke Masjid an-Nur di Jalan KS Tubun. Seorang korban meninggal ditemukan di lokasi tersebut.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA