Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Pesepak Bola dan Konflik Negara

Kamis 23 Mei 2019 08:41 WIB

Red: Budi Raharjo

Henrikh Mkhitaryan (kanan).

Henrikh Mkhitaryan (kanan).

Foto: AP Photo/Alastair Grant
Mkhitaryan absen di final Liga Europa.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Menjelang Piala Dunia 2018 di Rusia cicitan Mohammad Alsaafin di media sosial membuat patah hati pencinta olahraga sepak bola sejagat raya. Alsaafin menceritakan tentang diskriminasi dan tekanan kepada para pesepak bola asal Palestina yang dilakukan negara tetangga, Israel.

Banyak anggota tim nasional Palestina sering ditangkap Israel. Mereka juga dilarang bepergian ke luar negeri meski sekadar menjalani pertandingan. Nahasnya, aktor lapangan hijau asal Palestina yang berada di Tepi Barat tidak dapat bergabung dengan rekan mereka yang berada di Jalur Gaza.

Sebaliknya, liga domestik menjadi sulit dihelat karena klub dari dua wilayah itu tak bisa bertanding. Ironisnya, partai sepak bola yang berlangsung di Tepi Barat adalah ketika tim Israel yang bermain. Mereka bisa bebas mejeng di atas tanah sengketa.

Mahmoud Sarsak, bintang lapangan hijau Palestina, salah satu pemain langka karena bisa meninggalkan Gaza untuk bermain di Tepi Barat. Sayang, ia telanjur tertangkap dan dipenjara tanpa alasan jelas. Parahnya lagi, perlakuan terhadap aktor-aktor lapangan hijau asal Palestina juga tak terlepas dari intimidasi dan kekerasan.

Tak hanya Sarsak yang merasakan panasnya desingan senjata laras panjang. Di belahan dunia lainnya, dilema pesepak bola di tengah konflik dua negara juga sempat dikecap oleh gelandang serang Kroasia, Zvonimir Boban. Tendangan terbangnya terhadap polisi Yugoslavia dianggap sebagai katalis perjuangan rakyat Kroasia.

photo
Mahmoud al-Sarsak disambut ratusan warga Palestina di Gaza


Hal yang sama kurang lebih juga dirasakan Mesut Oezil dan Ilkay Guendogan. Keduanya pernah dikecam keras oleh warga negaranya, Jerman, karena berfoto dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Mei 2018 lalu.

Namun, sepak bola dan ketegangan antardua negara kembali menyeret korban, kali ini penyerang sayap Arsenal, Henrikh Mkhitaryan yang harus terkurung oleh keegoisan beberapa pihak tertentu. Padahal, Micki, sapaan akrab Mkhitaryan, sedang tidak mengalami cedera ataupun terkena larangan akumulasi kartu.

Tim asal utara London harus kehilangan pilar pentingnya, Mkhitaryan. Sebab, konflik alias perang antardua negara Armenia dan Azerbaijan mengharuskan the Gunners tak membawa Mkhitaryan mengingat laga final Liga Europa 2018/2019 antara Chelsea melawan Arsenal di Stadion Baku Olympic, Azerbaijan, Kamis (30/5) dini hari WIB.

"Kami sepenuhnya mengeksplorasi semua opsi bagi Mkhitaryan menjadi bagian dari skuat. Namun, setelah membahas ini dengan Micki dan keluarganya, kami secara kolektif sepakat ia tidak akan berlaga di final Liga Europa, demikian pernyataan Arsenal dilansir Reuters, Selasa (21/5).

Pesepak bola berusia 30 tahun itu merupakan pemain asal Armenia. Kondisi itu membuat pihak Azerbaijan melarang siapa pun berkewarganegaraan Armenia masuk dalam batas teritorial atau wilayah mereka. Sayang, UEFA sebagai otoritas tertinggi di tubuh sepak bola Eropa tak dapat berbuat banyak untuk mengambil keputusan agar Mkhitaryan tetap bisa bermain di partai final Liga Europa.

"Kami juga sangat sedih seorang pemain akan kehilangan final Eropa utama dalam keadaan seperti ini, karena itu adalah sesuatu yang jarang terjadi dalam karier seorang pesepak bola profesional," demikian pernyataan manajemen tim Meriam London.

Hubungan diplomatik Armenia-Azerbaijan tegang karena konflik perebutan wilayah Nagorno dan Karabakh yang berada di daerah perbatasan kedua negara. Daerah otonomi yang sejak dahulu dihuni etnis Armenia dihadirkan oleh masyarakat Rusia pada akhir Perang Dunia I 1914-1918 silam.

Sementara, Azerbaijan, yang saat itu merupakan bagian Uni Soviet, resmi menguasai Nagorno-Karabakh pada medio 1920. Akan tetapi, pada akhir masa keruntuhan Uni Soviet, penduduk Nagorno-Karabakh kembali memilih bersatu dengan kedaulatan Armenia.

Ini bukan kali pertama bekas penggawa Borussia Dortmund dan Manchester United itu dilarang tampil memperkuat Arsenal di partai Eropa. Mkhitaryan juga pernah absen membela the Gunners dengan alasan yang sama. Pada 22 Oktober 2015 lalu, ia tak ikut rombongan tim saat menghadapi klub Azerbaijan, Gabala FC, di Liga Europa. (anggoro pramudya ed:citra listya rini)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA