Senin, 14 Syawwal 1440 / 17 Juni 2019

Senin, 14 Syawwal 1440 / 17 Juni 2019

Usut Tuntas Kericuhan 22 Mei

Jumat 24 Mei 2019 07:57 WIB

Red: Budi Raharjo

Aksi 22 Mei. Sejumlah massa melakukan pembajakan sebuah mobil pemadam kebakaran di jalan Kemanggisan Utama, Slipi Jaya, Jakarta, Kamis  (23/5).

Aksi 22 Mei. Sejumlah massa melakukan pembajakan sebuah mobil pemadam kebakaran di jalan Kemanggisan Utama, Slipi Jaya, Jakarta, Kamis (23/5).

Foto: Fakhri Hermansyah
Mabes Polri membentuk tim investigasi kerusuhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kerusuhan yang terjadi pada sejumlah lokasi di Jakarta sejak Selasa (21/5) hingga Kamis (23/5) mengakibatkan delapan korban meninggal dan ratusan korban lainnya luka-luka. Berbagai pihak mendorong pengusutan tuntas pemicu terjadinya kerusuhan tersebut.

"Muhammadiyah mengecam kerusuhan yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 di Jakarta. Tragedi ini harus diusut dan diselesaikan tuntas melalui jalur hukum yang berlaku," ujar Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (23/5). Ia menekankan, oknum yang terlibat dengan kejadian itu harus dibuat jelas.

Menurut Abdul Mu'ti, Muhammadi yah melihat kericuhan tersebut menodai demokrasi Indonesia yang dilandasi jiwa hikmah kebijaksanaan dan permusyawaratan. Tindakan yang merusak itu juga disebut merusak sendi-sendi kehidupan bernegara dan berbangsa.

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meminta pemerintah tetap saksama dan bertindak sesuai dengan hukum guna menyikapi dinamika politik belakangan. "Aparat keamanan Polri dan TNI di lapangan pun telah berusaha melaksanakan tugasnya dengan maksimal. Diharapkan tetap santun, profesional, dan tidak terpancing melakukan tindakan represif yang tidak diinginkan," ujarnya.

Kepada pihak yang menyuarakan aspirasinya, ia meminta agar dapat menahan diri dari berbagai tindakan kekerasan dan anarkistis. "Di bulan Ramadhan, lebih baik dimaknai dengan nilai luhur dan akhlak mulia. Jika aksi yang dilakukan lebih besar mudharatnya, lebih baik diakhiri. Percayakan masalah sengketa pemilu pada proses hukum," ujar Haedar.

Sementara, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan mendukung aparat keamanan menindak tegas para perusuh dan pembuat onar demi menjaga ketenteraman dan ketenangan bulan Ramadhan. Meski begitu, Ketua PBNU Robikin Emhas juga mengimbau kepada aparat kepolisian dan aparat negara lainnya untuk bertindak dalam koridor hukum dan perundang-undangan dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengatakan, delapan orang meninggal akibat kerusuhan sejak Selasa (21/5) hingga Kamis (23/5). Di antaranya adalah Farhan Syafero (31 tahun) asal Depok, M Reyhan Fajari (16) asal Petamburan, Abdul Ajiz (27) asal Pandeglang, Bachtiar Alamsyah asal Tangerang, Adam Nooryan (19) asal Tambora, dan Widianto Rizky Ramadan (17) asal Slipi. Satu korban lainnya belum diketahui identitasnya, sedangkan satu lagi bernama Sandro (31) belum diketahui asalnya.

Anies juga menyebutkan, jumlah korban luka-luka dalam kerusuhan mencapai 737 orang. "Sebanyak 737 korban kini mendapatkan penanganan kesehatan di berbagai rumah sakit di wilayah Jakarta dengan beragam diagnosis," ujar Anies. Dari jumlah itu, 79 orang terluka berat.

Kerusuhan pada Selasa (21/5) malam dan pada Rabu (22/5) malam terjadi selepas massa Aksi Kedaulatan Rakyat yang memprotes hasil Pilpres 2019 selesai berunjuk rasa secara damai di depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Kepolisian meyakini oknum pemicu kerusuhan berbeda dengan yang melakukan aksi dengan damai.

Pada hari pertama, kerusuhan menyebar hingga ke Petamburan, Tanah Abang, dan Slipi. Sementara, hari selanjutnya terkonsentrasi di Simpang Thamrin dan Tanah Abang. Pada Kamis (23/5), sejumlah toko dan restoran dirusak massa serta satu pos polisi dibakar.

Sebanyak 442 perusuh ditangkap terkait kerusuhan tiga hari belakangan. Sebagian dari yang ditangkap, menurut kepolisian, merupakan mas sa bayaran yang bergerak dengan agenda membuat kekacauan.

Sementara itu, pada Kamis (23/5), tiga orang ditangkap karena membawa senjata api. Kepolisian menyatakan tiga orang ini berkaitan dengan kelompok Gerakan Reformis Islam (Garis) pimpinan Abu Bakar Baasyir.

Republika belum bisa secara independen mengonfirmasi klaim pihak kepolisian karena akses terhadap para tersangka dibatasi. Para jurnalis juga dihalang-halangi merekam penangkapan para 'provokator' tersebut selama kerusuhan.

photo

Tersangka pelaku kericuhan dalam aksi 22 Mei ditampilkan dalam rilis di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal menyatakan, pihak Polri membentuk tim untuk mengusut kerusuhan. Tim ini dibentuk karena jatuhnya korban jiwa dan luka dari pihak massa ataupun dari kepolisian. "Jadi, Bapak Kapolri (Jenderal Tito Karnavian) sudah membentuk tim investigasi terhadap diduga meninggalnya tujuh orang massa perusuh," kata dia.

Berbeda dengan Pemprov DKI, Iqbal menyatakan pendataan Polri mencatat sebanyak tujuh orang meninggal dalam kerusuhan. Mengenai penyebab tewasnya salah satu korban yang diduga karena peluru tajam, Iqbal menegaskan, personel Polri tidak dibekali peluru tajam.

Menurut dia, sekotak peluru tajam di mobil dinas Brimob di Slipi yang sempat terlihat juga bukan untuk dibagikan ke personel pengamanan. (zahrotul oktaviani/arif satrio nugroho/mimi kartika/antara ed:fitriyan zamzami)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA