Senin, 14 Syawwal 1440 / 17 Juni 2019

Senin, 14 Syawwal 1440 / 17 Juni 2019

Rusuh 22 Mei: Kisah Pencari Kerja, Relawan Medis & Jurnalis

Jumat 24 Mei 2019 08:13 WIB

Red: Budi Raharjo

Aksi 22 Mei. Sejumlah warga menyelamatkan diri saat terjadi aksi jalan Kemanggisan Utama, Slipi Jaya, Jakarta, Kamis (23/5).

Aksi 22 Mei. Sejumlah warga menyelamatkan diri saat terjadi aksi jalan Kemanggisan Utama, Slipi Jaya, Jakarta, Kamis (23/5).

Foto: Fakhri Hermansyah
Pihak-pihak yang berada di kawasan konflik seharusnya dapat menjaga jarak.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Idealisa Masyrafina, Iit Septyaningsih

Satu unit ambulans datang meraung-raung di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, sekitar pukul 14.30 WIB, Kamis (23/5). Berasal dari RSUD Ciracas, kendaraan itu mengangkut seorang pria berkemeja merah tua dan celana hitam yang lemas dan berdarah-darah.

Ia hanya diidentifikasikan dengan inisial S, berusia 33 tahun, dan belum lama ini datang ke Jakarta dari Nusa Tenggara Barat. Menurut dr Rizky Futari Renggana dari Dinas Kesehatan DKI, yang bersangkutan ditemukan oleh petugas kebersihan tengah berbaring di tempat tumpukan barang-barang bekas di sekitar Sarinah.

Saat ditemukan, korban dalam kondisi sadar dan lemas karena terluka di punggung sebelah kiri serta kelelahan akibat melarikan diri. "Dia orang NTB, ke Jakarta katanya buat cari kerja. Malamnya dia lihat ada aksi, lalu karena ricuh melarikan diri sekitar jam 22.00," kata dr Rizky kepada Republika di RSUD Tarakan, Kamis (23/5).

Menurut dr Rizky, pasien itu mengaku terkena tembakan di punggung sebelah kiri dan berlari mencari pertolongan. Karena tidak mendapatkan pertolongan, dia berbaring di tumpukan barang bekas di sebuah gedung hingga ditemukan oleh petugas kebersihan belasan jam kemudian.

"Setelah saya cek, lukanya tidak parah. Itu luka tumpul dan lecet. Mungkin kena tembak tapi senapan angin. Yang pasti tidak parah. Kakinya juga keram," kata dokter yang bertugas di perempatan Sarinah sejak kemarin pagi tersebut.

Saat ini, sang pria tengah mendapatkan perawatan di RSUD Tarakan. Ia mendapatkan perawatan untuk luka-luka ringan, juga diberi bantuan oksigen serta infus untuk memulihkan tubuh korban yang lemas.

Dari 169 korban di RSUD Tarakan, terdapat tiga korban meninggal terkait kerusuhan sejak Selasa (21/5). Yang masih menjalani perawatan ada 12 orang serta sisanya sudah dipulangkan. Semua korban yang masih dirawat berjenis kelamin laki-laki. Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengatakan, terdapat delapan orang meninggal akibat kerusuhan sejak Selasa (21/5)hingga Rabu (22/5) malam.

Pria tersebut bukan satu-satunya korban sampingan dari konflik antara perusuh dan petugas polisi dalam kerusuhan yang kembali terjadi selepas unjuk rasa di depan gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jakarta Pusat, Rabu (22/5) malam.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA