Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Thursday, 3 Ramadhan 1442 / 15 April 2021

Dedi Mulyadi Prihatin Minimnya Perlindungan Pekerja Informal

Rabu 23 May 2018 19:22 WIB

Red: Rahmat Santosa Basarah

Dedi Mulyadi saat di Kota Bekasi

Dedi Mulyadi saat di Kota Bekasi

Mereka harus mendapat perlindungan dan jaminan.

REPUBLIKA.CO.ID,BEKASI -- Calon Wakil Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, prihatin dengan masih banyaknya warga pekerja informal yang belum terasuransikan. Karenanya, pasangan Cagub Deddy Mizwar ini, jika terpilih nanti akan memrioritaskan nasib pekerja informal tersebut.

 

"Banyak warga di Jabar yang belum terasuransikan. Terutama, mereka pekerja informal," ujar Dedi, melalui rikis yang diterima Republika, Rabu (22/5). 

 

Gagasan ini, digulirkannya saat mengunjungi Kelurahan Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi. Di wilayah itu, Dedi bertemu dengan seorang pemulung yakni Ernah (62 tahun).

 

Sektor pekerjaan ini, menurutnya sangat membutuhkan advokasi dari pemerintah. Karenanya, negara harus hadir di tengah kehidupan para pekerja informal. Apalagi, jika para pekerja itu menghadapi hari tua. 

 

Mereka harus mendapatkan perlindungan dan jaminan. Terutama, saat usia mereka sudah tua. Sebab, ketika tua, mereka tak bisa produktif lagi. Tenaganya untuk mengais rezeki mulai berkurang. Karena itu, sudah saatnya para pekerja informal ini mendapat perlindungan.

 

Secara teknis, asuransi tersebut bisa berupa asuransi kesehatan dan jaminan pendidikan untuk anak-anak para pekerja informal. Selain itu, akses terhadap perumahan pun harus diberikan oleh pemerintah untuk mereka. 

 

Bentuknya, lanjut Dedi, bisa jaminan kesehatan khusus pekerja informal. Pendidikan untuk anak-anak mereka juga harus diperhatikan. Ditambah, mereka sangat butuh akses mendapatkan perumahan.

 

"Ini yang akan jadi fokus kerja kita kedepan, jika terpilih nanti," ujar Dedi.

 

Sementara itu, Mak Ernah (62) sebagai pemulung, menceritakan kegetiran hidupnya kepada Dedi Mulyadi. Di hari tua, dirinya masih harus mengais rezeki di tempat-tempat kotor demi sesuap nasi. 

 

Ikhtiar harian ini terpaksa dia lakukan karena sang suami sudah tidak bisa bekerja. Selain karena usia lanjut, masalah kesehatan menjadikan suaminya tidak bisa keluar rumah. 

 

"Hasil mulung paling cukup buat makan sehari-hari. Suami sudah tidak kerja. Repot Pak, rumah sering kebanjiran," ujar Ernah. 

sumber : Ita Nina Winarsih
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA