REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil survei Pusat Studi Sosial dan Politik (Puspol) Indonesia mengungkap sebanyak 74,60 persen responden merasa tidak puas dengan kepemimpinan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK). Untuk itu, Puspol meminta Jokowi menegur menteri kabinetnya yang sektornya dinilai negatif seperti ekonomi hingga pendidikan.
Direktur Puspol Indonesia, Ubedilah Badrun mengatakan, selama tiga bulan pemerintahan Jokowi-JK dinilai masyarakat cenderung negatif. “Publik menilai kinerja pemerintah di beberapa sektor tidak memuaskan. Program pendidikan, program kartu, kebijakan ekonomi, kebijakan energi yang diterapkan Jokowi dinilai negatif,” ujarnya saat diskusi hasil riset Puspol Indonesia 2015 bertema "Evaluasi Triwulan Rezim Jokowi-JK", di Jakarta, Rabu (21/1).
Ia menyebutkan sebanyak 60 persen menilai kebijakan perubahan kurikulum yang dirumuskan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidaklah tepat. Masyarakat, kata dia, menjadi bingung karena ada dua kurikulum yang berlaku yaitu kurikulum 2013 dan kurikulum 2006.
“Nanti bagaimana peserta didik ujian, mereka belajar dan melewati proses belajar dengan perubahan kurikulum ini,” ujarnya.
Di bidang ekonomi, sebanyak 56 persen juga responden tidak yakin pemerintah mampu menguatkan nilai tukar rupiah dan 44 persen menjawab yakin. Kebijakan pemerintah yang mencabut pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi sorotan responden.
Sebanyak 44,44 persen responden menilai pengalihan subsidi kurang tepat ketika harga minyak dunia sedang turun dan 20,64 menjawab tidak masalah pengalihan subsidi BBM dilakukan selama dilaksanakan secara tepat.
Kemudian sebanyak 51,85 persen responden tidak yakin pengalihan subsidi BBM dapat mendorong terciptanya pembangunan di sektor produktif dan hanya 48,15 persen merasa yakin dengan pengalihan subsidi itu dapat mendorong terciptanya pembangunan di sektor produktif kerakyatan.
Gaya komunikasi Jokowi juga dinilai masih rendah yaitu 5,76 persen dengan rentang skor 1-10 persen. Kalau dianalisis, kata dia, pemahaman komunikasi mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono jauh lebih bagus dibandingkan Jokowi. Respon juga disebutnya tidak begitu suka dengan gaya pakaian santai dan pakaian digulung ala Jokowi.
Responden justru memiliki persepsi lebih bagus terhadap pakaian batik karena nasionalis, sesuai kultural Indonesia. Karena itu, kata dia, sebanyak 51 persen responden mulai tidak percaya dengan pemerintahan Jokowi-JK. Sebanyak 74,60 responden tidak puas dengan kepemimpinan Jokowi-JK.
“Artinya, publik mulai kecewa dengan kebijakan pemerintahan sekarang. Kami segera mempublikasinya supaya pemerintah serius melakukan perubahan,” ujarnya.













