Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Nuh Bantah Kurikulum 2013 Ajarkan Radikalisme

Ahad 29 Mar 2015 21:07 WIB

Red: Taufik Rachman

M Nuh

M Nuh

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID,MALANG--Mantan Mendikbud Mohammad Nuh membantah Kurikulum 2013 (K13) mengajarkan radikalisme, karena kurikulum itu justru mengajarkan toleransi dengan pendekatan baru.

"Bahkan, ada bab khusus toleransi yakni Bab XI, sedangkan bab-bab lain juga ada contoh-contoh tentang toleransi. Kalau K13 mengajarkan radikalisme, tentu sejak dulu sudah ketahuan," katanya di UIN Malang, Ahad (29/3).

Ketika dikonfirmasi Antara di sela seminar "Pendidikan Multikulturalisme untuk Menyikapi Krisis Identitas Kebangsaan" di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, ia mengakui K13 memang ada sejarah aliran Islam.

"Di antara aliran-aliran Islam itu disebutkan adanya aliran Wahabi yang dikembangkan Muhamad bin Abdul Wahab. Pada halaman 169, Wahabi menilai non-Muslim itu musyrik dan wajib dibunuh, tapi itu pendapat Wahabi dan pendapat itu pun tidak dirinci. Aliran lain juga disebutkan," katanya.

Secara umum, buku K13 justru memberi contoh-contoh tentang toleransi, di antaranya Sayyidina Ali yang terlambat shalat karena ada orang tua non-Muslim yang berjalan lambat di depannya.

"Itu toleransi, bahkan buku K13 ada bab khusus pada Bab XI," katanya di sela seminar yang diadakan Keluarga Besar Mahasiswa Bidikmisi (KBMB) UIN Malang dan menampilkan mantan Rektor UIN Malang Prof Imam Suprayogo.

Menurut Nuh, yang disebut "Bapak Bidikmisi" oleh KBMB UIN Malang itu, buku yang mengajarkan radikalisme itu justru ada pada buku Pendidikan Agama Islam pada halaman 78 yang dikeluarkan tim MGMP PAI Kabupaten Jombang.

"Itu sudah disebut media massa, tapi kenapa tuduhan diarahkan ke buku K13? Saya kira tuduhan itu punya target yakni menghapus kompetensi sikap spiritual dan kompetensi sikap sosial dalam K13 itu," katanya.

Ia mengatakan kompetensi sikap spiritual dan sosial itu akan dihapus pada semua materi pembelajaran K13 dan hanya disisakan pada Pendidikan Agama dan Kewarganegaraan, padahal K13 mengajarkan tiga kompetensi (sikap, keterampilan, pengetahuan) pada semua materi.

"Tiga kompetensi itu untuk mencetak siswa yang berbudi pekerti dan kreatif. Masa depan akan semakin kompleks, karena itu siswa yang kreatif dan berpikir 'out of the box' adalah jawaban atas kompleksitas masa depan," katanya.

Pada tahun 2012, Richard Florida menyebutkan pertumbuhan ekonomi itu dipicu tumbuhnya kelompok kreatif sejak tahun 1980-an, karena pendidikan harus memasukkan kreativitas untuk menyiapkan generasi muda yang tangguh.

Senada dengan itu, mantan Rektor UIN Malang Prof Imam Suprayogo menilai tiga kompetensi (sikap, keterampilan, pengetahuan) yang digagas "Bapak Bidikmisi" dalam K13 itu sesuai konsep "ulul albab" dalam Alquran.

"Ulul albab adalah orang yang selalu mengingat Allah (sikap/spiritual), selalu merenungkan ciptaan Allah (pengetahuan), dan selalu menggali hikmah dalam berbagai kondisi (ketrampilan)," katanya.

Seminar Pendidikan Multikulturalisme itu merupakan puncak dari BIOMA (Bidikmisi On March) 2015 yang merupakan serangkaian kegiatan selama Maret 2015, di antaranya lomba menulis cerpen, lomba Banjari, dan lomba MTQ.

Setelah berbicara dalam acara para mahasiswa itu, Mohammad Nuh yang juga Guru Besar Teknik Elektro itu menyempatkan diri untuk bersilaturrahmi kepada KH Taufik (Pengasuh Pesantren At-Taufik, Sengkaling, Dau, Malang) dan Prof Dr KH Tholhah Hasan (tokoh pendidikan di Malang yang juga pengurus PBNU).

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA