Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Hary Tanoe Gagal Ikuti Jejak Donald Trump

Kamis 03 Aug 2017 03:43 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump bersama Hary Tanoe dan istrinya Liliana Tanoe.

Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump bersama Hary Tanoe dan istrinya Liliana Tanoe.

Foto: ABC/Hary Tanoe

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo memberikan sinyal kuat mendukung Joko Widodo (Jokowi) dalam Pemilu Presiden 2019.  Sikap Hary Tanoe tersebut terbilang mengagetkan mengingat sebelumnya ialah yang digadang Perindo untuk menjadi capres.

Hary Tanoe bahkan tiap hari 'majang' di televisi maupun media yang ia miliki. Apalagi Mars Perindo yang sudah sangat akrab terdengar di masyarakat.   Media -media asing menyebutnya sebagai 'Donald Trump Indonesia'.  Tercatat setidaknya ada tiga media yang menyoroti poros Trump-Tanoe ini, yakni ABC Australia, the Guardian Inggris, dan the New York Times AS.

Media The Guardian dari Inggris menyoroti keinginan Hary tanoe mengikuti jejak Trump menjajal kans sebagai calon presiden.  Mereka mengingatkan, pencalonan tersebut akan jadi sejarah mengingat latar belakangan etnis Harry Tanoe.

Kabar kedekatan CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memang telah terbukti dengan hubungan bilateral yang cukup erat.  HT mengatakan, Trump merupakan seorang pengusaha yang memulainya dari kecil hingga tumbuh besar sebelum akhirnya memutuskan pindah ke politik dan kemudian menjadi presiden AS.

"Dari perspektif itu, ya, jadi saya harap saya bisa mengikuti jejaknya," katanya.

Niat HT untuk mengikuti jejak Trump pun terbuka setelah ia diusung untuk maju sebagai calon presiden 2019 oleh Perindo.  Perindo mengaku alasan mendasar dari pengusungan HT adalah melihat pemimpin yang ada saat ini belum memenuhi kriteria sesuai harapan rakyat.

Menurut Sekretaris Jenderal Perindo Ahmad Rofiq, HT adalah sosok yang berpotensi mengikuti rekan bisnisnya yang maju dalam pemilu kepresidenan di Amerika Serikat, Donald Trump, yang kini terpilih sebagai presiden AS menggantikan Barrack Obama.

Namun mimpi itu sepertinya kandas. Hary Tanoe kini tampak lebih melihat realistas politik. Apalagi RUU Pemilu yang memasukkan syarat presidential treshold 20 persen telah disahkan oleh DPR. Ditambah dengan status Hary Tanoe yang juga ditetapkan sebagai tersangka. Membuatnya harus mengambil pilihan sulit.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA