Jumat, 15 Rajab 1440 / 22 Maret 2019

Jumat, 15 Rajab 1440 / 22 Maret 2019

Pengamat: Kelemahan Gatot adalah Belum Dekati Parpol

Kamis 22 Feb 2018 17:09 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Andri Saubani

Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Foto: Republika/Edi Yusuf
Gatot dinilai bisa menjadi capres alternatif di Pilpres 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Elektabilitas sejumlah nama yang digadang-gadang menjadi alternatif calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres) mulai merangkak naik. Salah satunya adalah mantan Panglima TNI, Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo. Meski elektabilitasnya terus naik, pengamat komunikasi politik, Anang Sudjoko, menyarankan agar Gatot mendekati partai politik (parpol.

Gatot harus mendekati parpol untuk bisa menjadi pesaing serius Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebab, Anang menilai, selama yang menjadi kelemahan Gatot adalah belum dekat dengan parpol mana pun.

"Kelemahannya sekarang pada posisi Gatot yang belum dekat dengan parpol," jelas Anang, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (22/2).

Anang menambahkan, ada beberapa faktor yang membuat Gatot mendapat hati di rakyat Indonesia. Di antaranya adalah reputasi Gatot yang sempat dikenal dekat dengan gerakan 212 dan pembela ulama. Kemudian juga, Gatot berani mengungkap rencana Kepolisian Republik Indonesia dalam hal pengadaan senjata merupakan faktor pembangun simpatik ke umat Islam.

Baca: Survei Median: Elektabilitas Gatot, Anies, dan AHY Meningkat.

"Kalau basis loyal tanpa jabatan sekarang ini, saya pikir tidak terlalu kuat. Hanya modal reputasi kemarin saja," tambahnya.

Belum lagi, pihak yang kecewa terhadap Presiden Jokowi, dapat dipastikan akan mencari calon alternatif. Untuk peluang Gatot lebih bagus dari unsur simpatik dibanding calon pesaing lain, paling tidak jika dibandingkan dengan AHY.

"Apalagi kalau Gatot didukung Prabowo, maka bisa dipastikan Pilpres akan seru dengan persaingan untuk perubahan," tegas Anang.

Lanjut Anang, dengan waktu tidak lama menuju Pilpres 2019, Gatot masih memiliki kesempatan untuk mendongkrak elektabilitasnya. Apalagi, dengan sistem demokrasi yang berbasis pada popularitas maka sangat mungkin dalam waktu satu tahun ini dibangun. Namun, dengan catatan ada sinergi antara Gatot, media, parpol dan komunitas.

"Selanjutnya tinggal masalah branding dan positioning Gatot yang harus digarap secara cermat," tutur Anang.

Hasil survei terbaru yang dirilis lembaga survei Median, elektabilitas Gatot Nurmantyo saat ini 5,5 persen, Anies Baswedan 4,5 persen dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 3,3 persen. Padahal, survei sebelumnya elektabilitas Gatot masih di bawa Anies, yaitu hanya 2,8 persen.

Sementara itu, elektabilitas Joko Widodo mengalami penurunan menjadi 35,0 persen dari sebelumnya pada Oktober 2017 sebesar 36,2 persen. Prabowo pun demikian, mengalami penurunan menjadi 21,2 persen dari sebelumnya sebesar 23,3 persen.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA