Senin, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 Februari 2019

Senin, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 Februari 2019

Pengamat: Jangan Sekedar Perang Tagar, tapi...

Selasa 01 Mei 2018 22:15 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Bilal Ramadhan

Pengamanan pilpres.    (ilustrasi)

Pengamanan pilpres. (ilustrasi)

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Ini baru pra-kondisi, Usep memperkirakan akan banyak lagi tagar yang lebih panas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Populi Center, Usep S Ahyar, mengatakan kehadiran tagar-tagar merupakan hal yang wajar di tahun politik seperti saat ini. Bahkan, ia menilai tagar-tagar semacam itu akan terus bermunculan.

Namun demikian, ia mengingatkan agar jangan sampai kemunculan tagar-tagar tersebut membuat situasi lebih memanas dan apalagi jika sampai terjadi intimidasi satu sama lain. Seperti diketahui, menjelang Pemilihan Presiden 2019 muncul dua kelompok antara pengusung tagar #2019GantiPresiden dan tagar #DiaSibukKerja.

"Ini baru pra-kondisi, dan saya kira akan muncul tagar-tagar lain yang mungkin lebih panas lagi," kata Usep, saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (1/5).

Dalam hal ini, Usep menyarankan agar kemunculan tagar itu tidak berhenti hanya pada perang tagar saja, melainkan pada diskursusnya. Menurutnya, kedua kelompok tagar itu bisa mengadakan diskusi bareng dan masing-masing memberikan argumen terkait pandangan atau gagasan atas pilihan politik mereka.

Misalnya, mereka yang mendukung tagar #2019GantiPresiden memberikan gagasan apakah dengan digantinya presiden kondisi Indonesia akan lebih baik atau tidak dan solusinya apa. Sebaliknya, apakah ada harapan lebih baik bagi Indonesia dengan menetapkan presiden dua periode.

Dalam hal ini, ia mengatakan harus ada tawaran yang lebih konkrit dan substantif yang diajukan oleh kedua kelompok tagar tersebut, daripada sekedar emosi semata. Sehingga, menurutnya, masyarakat diajak untuk cerdas dalam hal memilih calon presiden dan bukan dengan munculnya tagar-tagar itu justru menimbulkan intimidasi.

"Tapi jika hanya sentimen saja, itu yang kemudian berbahaya, karena membawa orang menjadi asal melihat sosok pilihan dan bahkan bisa mengarah pada intimidasi. Untuk menghindari itu, seharusnya lebih pada substansi yang ditawarkan dari masing-masing kelompok," lanjutnya.

Usep mengatakan, sentimen yang muncul tidak lepas dari kecenderungan adanya dua pasang calon presiden dan wakil presiden yang langsung saling berhadapan. Untuk sedikit meredam sentimen tersebut, ia menilai akan lebih baik jika ada alternatif kandidat pasangan ketiga untuk Pilpres mendatang.

Hal itu agar pertarungan politik tidak terlalu keras dan mungkin bisa mengurangi tensi pada Pilpres 2019 mendatang. "Menurut saya, semua harus berhati-hati. Sentimen tadi agak dikurangi dengan mengedepankan wacana yang lebih jelas, daripada hanya sekedar sentimen. Jika sentimen terus seperti ini, itu akan mengarah pada eskalasi di 2019 nanti," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES