Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Wakil Ketua TKN: Kenapa Prabowo Harus Marah?

Kamis 06 Dec 2018 12:43 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Muhammad Hafil

Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Kadir Karding

Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Kadir Karding

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Reuni 212 merupakan kegiatan damai yang jauh dari kegiatan politik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK) mengaku heran dengan sikap calon presiden Prabowo Subianto yang geram dengan pemberitaan terkait jumlah massa reuni 212. TKN mempertanyakan alasan kekesalan Prabowo tersebut.

"Sebenarnya saya heran kenapa pak Prabowo yang marah-marah? Harusnya panitianya atau pesertanya kalau betul bahwa terjadi kebohongan ketidakobjektifan," kata Wakil Ketua TKN KIK Abdul Kadir Karding di Jakarta, Rabu (6/12).

Menurut Karding, reuni 212 merupakan kegiatan damai yang jauh dari kegiatan politik. Dia mengatakan, kemarahan Prabowo itu mengindikasikan jika memang ternyata aksi 212 ini digerakan oleh pasangan Sandiaga Uno tersebut.

Karding melanjutkan, Prabowo tidak seharusnya marah terkait pemberitaan 212 mengingat dirinya tidak memiliki hubungan kepanitiaan dengan kegiatan tersebut. "Kalau kemudian dia marah-marah karena tidak mendapatkan peliputan yang cukup berarti sesungguhnya panitia utamanya pak Prabowo," kata Karding.

Prabowo Subianto mengungkapkan kekesalannya terhadap sejumlah media yang dianggap tidak objektif dalam pemberitaan peristiwa reuni 212 Ahad (2/12) lalu. Kekesalannya tersebut disampaikan langsung Prabowo di depan peserta peringatan Hari Disabilitas Internasional yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/12). Usai acara tersebut, Prabowo memilih menghindar dari media.

Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menilai, Prabowo tidak seharusnya gusar kepada pers mengingat dirinya dan Gerindra dibesarkan juga oleh pemberitaan di media massa. Lagi pula, Karding melanjutkan, pers merupakan satu pilar tersendiri dalam membangun demokrasi.

"Jadi menurut saya ini sesuatu yang sangat disayangkan karena seakan-akan pers ini adalah satu lembaga yang merusak demokrasi. Menurut saya ini tidak betul dan tidak pantas disebutkan oleh Pak Prabowo," kata Karding

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA