Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Isi Akhir Tahun dengan Tafakur

Senin 31 Dec 2018 08:19 WIB

Red: Elba Damhuri

Dzikir Nasional 2018

Dzikir Nasional 2018

Foto: Republika TV
Umat Islam diimbau menghindari kegiatan foya-foya pada pergantian tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhyiddin, Wahyu Suryana

Umat Islam diimbau mengisi pergantian tahun dengan kegiatan-kegiatan reflektif dan spiritual. Terlebih, saat ini kian banyak kegiatan-kegiatan positif yang digelar sebagai alternatif perayaan tahun baru yang biasanya penuh hura-hura tersebut.

"Jadi, pertama kepada umat Islam dalam mengakhiri tahun 2018 dan memasuki 2019, mari banyak bersyukur dan bertafakur, berpikir, atau memacam refleksi masa lalu untuk masa depan," ujar Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Muhammadiyah Amin, Sabtu (29/12).

Dia mengajak kepada umat untuk menyambut datangnya tahun baru 2019 dengan tidak melakukan hal-hal yang menyimpang dari agama serta tidak berfoya-foya. Terlebih, selama 2018 Indonesia tak jarang dilanda bencana besar yang menelan banyak korban seperti gempa bumi di NTB dan Sulawesi Tengah serta yang terkini, tsunami di Selat Sunda yang menelan korban jiwa di Banten dan Lampung.

"Karena itu saya sebagai Dirjen mengingatkan agar kita lebih banyak mengisi masjid-masjid untuk melaksanakan ibadah-ibadah mengakhir 2018 dan menyambut 2019," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak umat Islam mengikuti acara zikir di berbagai daerah pada malam tahun baru. Salah satunya, Dzikir Nasional yang akan digela Republika seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kali ini, acara zikir dirangkaikan dengan acara Festival Republik di Masjid at-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, 29-31 Desember 2018. "Dzikir Nasional sesuatu yang sangat positif karenanya saya mengajak semua masyarakat untuk bisa bersama-sama Republika menghadiri Dzikir Nasional," kata Lukman, pekan lalu.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Yunahar Ilyas mengingatkan, umat Islam memang memiliki hitungan tahun tersendiri yaitu Hijriyah yang tahun barunya jatuh pada 1 Muharram.

Baca Juga

Namun, karena masyarakat Indonesia tidak bisa lepas dari budaya internasional, tahun baru Masehi akan lebih baik jika diisi dengan tabligh akbar, pengajian, zikir, muhasabah, doa, dan acara-acara positif lainnya.

Pengisi tausiyah di Festival Republik 2018 di Yogyakarta itu menekankan, umat Islam juga sebaiknya melakukan refleksi atas perbuatannya sepanjang tahun ini.

"Dalam Alquran surat al-Hasyr ayat 18, kita disuruh melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah terjadi kemarin, hendaklah setiap orang menilai dan melihat apa yang sudah dilakukan kemarin," kata Yunahar, Ahad (30/12).

Panitia acara Festival Republik menyatakan puncak kegiatan itu yang diisi Dzikir Nasional di Masjid at-Tin, Muhasabah di Masjid Pusdai Bandung, dan Tabligh Akbar di Masjid al-Furqan Yogyakarta pada Senin (31/12) telah siap dilaksanakan.

“Kita sudah persiapkan sekitar 100 personel tenaga pengamanan dalam (pamdal) Masjid at-Tin, 100 personel dari pihak az-Zikra dan juga bekerja sama dengan kepolisian. Insya Allah kita siap untuk acara puncak besok (hari ini--Red),” kata Ketua Panitia Dzikir Nasional EH Ismail, Ahad (30/12).

Pada malam menjelang 1 Januari 2019, Dzikir Nasional Republika yang berpusat di Masjid at-Tin akan diisi ceramah dan doa bersama yang dipimpin Ustaz Arifin Ilham dan dihadiri tokoh-tokoh nasional. Rangkaian acara di Masjid at-Tin sudah dimulai sejak Sabtu (29/12) dan diisi berbagai kegiatan amal dan edukatif.

Sedangkan muhasabah di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Bandung akan menghadirkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Wali Kota Bandung Oded M Danial sebagai pemateri serta tausiyah Ustaz Tengku Maulana dan Ustaz Budi Prayitno. Acara akan ditutup dengan qiyamul lail.

Di Yogyakarta, Kegiatan Tabligh Akbar di Masjid al-Furqon di Nitikan Baru akan diisi oleh Ustaz Yunahar Ilyas, Ustaz Yoppy Alghifari, Ustaz Aditya Abdurrahman dan Ustaz Akbar Nazari Muhammad. Ada pula muhasabah bersama Novel Windu dan sharing bersama Puput Melati.

Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaidi menekankan, tema Dzikir Nasional dipilih sebagai pesan kepada publik bahwa yang terpenting dalam kehidupan adalah mengisinya dengan kebaikan dan kepedulian. Sebab, Islam pun mengajarkan bahwa sungguh merugi manusia bila perjalanan hidupnya mayoritas diisi dengan keburukan atau bersikap apatis terhadap sesama manusia.

Dzikir Nasional Republika, kata dia, diadakan sebagai ikhtiar media massa ini dalam menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat, khususnya kaum Muslimin. Sembari menutup tahun 2018 dan menyambut hari pertama 2019, acara akbar ini dapat menjadi ajang untuk introspeksi dan membangun komitmen bersama demi persatuan bangsa Indonesia.

Menurut dia, Republika menginginkan agar tradisi baik ini bisa makin memasyarakat untuk kebaikan bangsa. Acara zikir bersama, kata dia, merupakan ikhtiar Republika untuk menyajikan acara positif di malam pergantian tahun.

“Acara ini murni acara introspeksi. Tidak ada aroma politik apa pun, meski—harus kita akui—digelar di tahun politik 2019. Sebab, Dzikir Nasional ini sudah menjadi tradisi tahunan Republika, yang saat ini sudah banyak berbagai kalangan melaksanakannya juga. Republika sangat bahagia melihat menjamurnya fenomena zikir di malam pergantian tahun,” kata Irfan.

(hasanul rizqa, ed: fitriyan zamzami)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA