Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Menhan: Habib Memaki Pemerintah, Habib Apaan Tuh?

Senin 21 Jan 2019 15:19 WIB

Red: Andri Saubani

Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu sedang melakuka sesi foto bersama Republika di kantor Kementrian Pertahanan, Senin (8/6).

Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu sedang melakuka sesi foto bersama Republika di kantor Kementrian Pertahanan, Senin (8/6).

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Menhan mengingatkan ulama dan habib bantu redam panasnya suhu politik.

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengingatkan agar para ulama dapat membantu meredam situasi politik yang dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Hal itu diutarakan Ryamizard saat memberikan ceramah di Palembang, Senin (21/1).

"Ulama atau habib harus dapat meredam panasnya suhu politik, bukan malah ikut-ikutan memaki kepada pemerintah. Habib apaan tuh?" kata Menhan saat memberikan ceramah Bela Negara kepada para Ulama dan Habaib Sumatra Selatan, di Griya Agung, Palembang, Senin.

Menurut dia, semua elemen bangsa menginginkan agar pesta demokrasi ini berjalan aman dan lancar. Oleh karena itu, ulama bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Ryamizard juga meminta agar para ulama dan habib untuk menjaga dan memperkokoh persatuan bangsa demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hadir dalam acara tersebut Gubernur Sumsel Herman Deru, Rais 'Aam Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (Jatman) Habib Luthfi bin Yahya, Irjen Kemhan Letjen TNI Thamrin Marzuki, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Irwan dan Kapolda Sumsel Inspektur Jenderal Pol Zulkarnain Adinegara.

Dalam kesempatan itu, Menhan Ryamizard  juga mengingatkan tentang ancaman nyata saat ini yakni ancaman yang tujuannya mengubah pemikiran bangsa, contohnya ancaman terorisme dan paham radikalisme. Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini pun ingin semua memiliki pemahaman yang sama terhadap ancaman paham radikal tersebut.

"Mengerikan dan tidak masuk akal, bagaimana seorang ibu mengajak anaknya bunuh diri, tapi itu terjadi," tutur Menhan.

Bangsa Indonesia, tambah Ryamizard, harus waspada terutama berkembangnya pemikiran paham radikal yang dapat mempengaruhi generasi muda melalui sekolah-sekolah, universitas maupun pesantren. "Jadi ini tugas kita semua untuk memonitor dan menangkal ancaman tersebut," tuturnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA