Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Jokowi Klarifikasi Isu Kriminalisasi Ulama

Kamis 07 Feb 2019 20:44 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Andi Nur Aminah

Presiden RI Joko Widodo memberikan sambutannya saat bertemu dengan para ulama, kiai dan habib se-Jadetabek di Istana Negara, Jakarta, Kamis (7/1).

Presiden RI Joko Widodo memberikan sambutannya saat bertemu dengan para ulama, kiai dan habib se-Jadetabek di Istana Negara, Jakarta, Kamis (7/1).

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Jokowi menyampaikan di hadapan para kiai bahwa siapa yang menandatangani Hari Santri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang sedikitnya 400 kiai dan habib yang berdomisili di Jadetabek untuk hadir di Istana Negara. Jokowi pun memanfaatkan momentum itu untuk mengklarifikasi sejumlah hal, termasuk asumsi bahwa dia melakukan kriminalisasi terhadap ulama.

Baca Juga

Meski sudah beberapa kali disampaikan, namun baru sekarang Jokowi berkesempatan menjelaskannya langsung di hadapan ratusan kiai di Istana Negara. "Yang tanda tangan Hari Santri itu siapa? Ini bukan riya loh. Saya hanya ingin ingatkan yang tanda tangan Hari Santri siapa," jelas Jokowi, Kamis (7/2).

Selain soal penetapan Hari Santri, Jokowi juga menyebutkan bahwa pemerintah memiliki perhatian untuk membangun ekonomi keumatan. Sejumlah program ekonomi telah dikembangkan, termasuk pembentukan bak wakaf mikro. Ia pun menyampaikan bahwa kebijakan ini dianggap berhasil karena mampu meningkatkan taraf ekonomi santri dan pondok pesantren sendiri.

"Saya sudah cek langsung beberapa pondok berjalan baik. Kalau di sana tadinya hanya jualan bakso gerobak sekarang punya warung. Dulunya jualan gorengan sekarang jual nasi uduk. Ya ekonomi mikro yang dituju," katanya.

Jokowi juga menyampaikan akan mulai membangun balai latihan kerja khusus pondok pesantren. Targetnya, sebanyak 1.000 balai latihan kerja bisa dibangun dalam tahun ini. Program pelatihannya, ujar Jokowi, nanti akan menyesuaikan dengan minat para santri. Misalnya, bila kebanyakan santri berminat mempelajari industri garmen, maka pelatihan yang diberikan juga berkaitan dengan itu.

"Ada pondok ingin IT, ya siapkan peralatan yang berhubungan dengan IT. Kalau 1.000 nanti dievaluasi sudah bener ya 28 ribu ponpes di seluruh Tanah Air akan kita sasar," katanya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA