Sabtu, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 Februari 2019

Sabtu, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 Februari 2019

Debat Capres, Isu Impor Pangan Diperkirakan Bakal Keras

Rabu 13 Feb 2019 00:02 WIB

Red: Ratna Puspita

Debat capres-cawapres (Ilustrasi).

Debat capres-cawapres (Ilustrasi).

Foto: Dok Republika.co.id
Isu impor pangan diperkirakan menjadi materi debat kusir yang menarik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Isu impor pangan diperkirakan akan menjadi bahan perdebatan yang keras dalam debat calon presiden (capres) putaran kedua yang akan digelar pada 17 Februari 2019. Bahkan, isu impor pangan diperkirakan menjadi materi debat kusir yang menarik dalam ajang debat capres.

"Ada begitu banyak persoalan di dalamnya bukan semata soal impornya tapi misalnya terkait naik turunnya harga komoditas yang menyebabkan inflasi hingga adanya mafia kartel pangan," kata peneliti di Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Bogor Kementerian Pertanian Destika Cahyana di Jakarta, Selasa (12/2).

Baca Juga

Di samping isu tersebut, ia juga memperkirakan isu kerusakan lingkungan akibat perkebunan sawit juga akan mengemuka. Sementara isu kelangkaan premium atau BBM bersubsidi serta kualitas infrastruktur menjadi persoalan lain yang juga menarik untuk diperdebatkan antara kedua pasangan capres dan cawapres.

"Masyarakat harus cerdas bahwa apapun yang ditawarkan kedua calon hanyalah sekadar 'big goal', pelaksananya adalah mesin birokrasi dengan sistemnya, sehingga upaya calon untuk menggerakkan birokrasi harus menjadi perhatian publik," kata master Earth Science dari Chiba University, Jepang itu.

Ia menilai debat capres putaran kedua idealnya dapat mencegah polemik keriuhan akibat para kandidat membawa catatan. Karena itu, pada awal debat, moderator atau ketua KPU mesti tegas menyampaikan aturan debat tentang boleh atau tidaknya membawa catatan.

"Argumentasi pada debat idealnya mampu menerjemahkan visi dan misi masing-masing calon sehingga masyarakat dapat memahami apa yang akan dilakukan setiap pasangan serta dampak positif maupun negatif," kata Mahasiswa S3 di Program Studi Ilmu Tanah IPB.

Ia berpendapat bagi pejawat tentu akan lebih mudah menjelaskan program apa yang telah dilakukan. Akan tetapi, tentu kekurangan capaian program dapat menjadi sasaran tembak bagi rivalnya.

"Calon penantang idealnya mampu memberikan alternatif program dari petahana sehingga bukan sekadar menyerang tanpa solusi yang jelas," katanya.

Tema debat putaran kedua sendiri yakni terkait energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastuktur.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA