Kamis, 13 Sya'ban 1440 / 18 April 2019

Kamis, 13 Sya'ban 1440 / 18 April 2019

Visi Misi Jokowi Dianggap Lebih Realistis

Rabu 02 Jul 2014 22:07 WIB

Rep: c87/ Red: Maman Sudiaman

Jusuf Kalla (kanan) bersama Joko Widodo (Jokowi)

Jusuf Kalla (kanan) bersama Joko Widodo (Jokowi)

Foto: reuters

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Visi dan misi pasangan capres-cawapres nomor urut dua, Joko Widodo-Jusuf Kalla, dianggap lebih realistis dan sesuai dengan problem yang dihadapi masyarakat Indonesia. Selain itu, visi misi Jokowi dianggap tidak memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hal tersebut terungkap dalam Diskusi publik dengan tema Realistiskah Program Ekonomi Jokowi? yang digelar oleh Indonesia Research and Strategic Analysis di Ballroom Hotel Grand Sahid Jaya, Rabu (2/7).

Ekonom Faisal Basri mengatakan visi-misi Jokowi-JK lebih realistis lantaran pasangan tersebut tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi juga mengurangi kesenjangan masyarakat kota dan desa. Termasuk kesenjangan wilayah Indonesia bagian timur dan barat.  “Yang disampaikan Jokowi-JK lebih realistis dari pada yang sebelah (Prabowo-Hatta, red). Saya melihat yang simple-simpel ini ada (dalam visi-misi Jokowi) dan just do it,” kata Faisal.

Sementara, Faisal mengatakan visi-misi pasangan capres-cawapres nomor urut satu, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yang mengejar pertumbuhan ekonomi sekitar 7% menuju di atas 10% sangat tidak realistis.  Pasalnya pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan peningkatan pasokan listrik di tanah air untuk mendukung industri di semua sektor.  Jika melihat dari sumber energy yang ada, PLN dinilai tidak mampu memasok aliran listrik untuk memenuhi pertumbuhan tersebut sehingga membutuhkan impor bahan bakar minyak (BBM) untuk mengejar pertumbuhan ekonomi sesuai target.

Faisal menilai, di bidang kedaulatan pangan, Jokowi-JK lebih pro terhadap petani. Hal itu sesuai dengan visi-misi Jokowi yang akan membangun saluran irigasi untuk mengairi sawah kemudian menambah lahan baru untuk sawah. Selain itu, penyediaan infrastruktur pascapanen seperti pembangunan gudang-gudang pertanian untuk memaksimalkan produksi pertanian.

“Saat musim panen, hasil pertanian membanjiri pasar, maka sebagian stok hasil pertanian bisa disimpan di gudang-gudang tersebut. kemudian saat kelangkaan produk pertanian, stoknya bisa dikeluarkan. Di bidang perikanan, Jokowi menekankan industri pengolahan hasil perikanan serta peningkatan pembudidayaan hasil perikanan,” imbuhnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA