Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

PBNU: Surat Terbuka Frans Magnis tidak Arif dan Vulgar

Rabu 02 Jul 2014 22:22 WIB

Rep: c57/ Red: Maman Sudiaman

Kantor Pusat PBNU (ilustrasi)

Kantor Pusat PBNU (ilustrasi)

Foto: mobile.seruu.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua PBNU, KH Maksum Machfoedz menilai, surat terbuka Romo Frans Magnis Suseno tidak arif dan vulgar. Terlebih dalam situasi politik jelang Pilpres ini.

"Vulgaritas seperti surat terbuka itu tidak arif disampaikan seorang rohaniwan senior seperti romo Frans Magnis," ujar Maksum, Rabu (2/7) sore.

Dampak publik surat terbuka itu tidak lebih kecil dari statement Amien Rais tentang perang Badar. "Perpadanan tentang Perang Badar boleh kita sesalkan. Tetapi, ada kelompok moderasi sebagai penyeimbang," ujar Maksum.

Apalagi, sekelompok pimpinan Muslim moderat seperti Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siraj, beberapa pimpinan Muhammadyah, Ketua Umum KAHMI dan lain-lain juga berada di kubu capres-cawapres Prabowo Subianto-Muhammad Hatta Rajasa. Dalam situasi politik seperti ini, papar Maksum, para rohaniwan itu, baik Muslim, Katolik dan agama lainnya, rasanya lebih baik mendinginkan suasana.

"Hal ini dapat dilakukan dengan tidak melawan sesuatu yang, maaf, sebut saja anarkis, dengan anarkisme yang lain," ungkap Maksum.

Kepentingan politik memang hak perorangan, termasuk perorangan tokoh rohaniwan. Tetapi, tidak bijak membangun pesan itu sebagai pesan rohani. Pasalnya, pesan itu potensial bermakna pesan politik praktis yang seharusnya dihindari para rohaniwan.

"Itu kalau rohaniwan, siapapun dia, punya semangat membangun 'peaceful coexistence', hidup berdampingan antarsesama," jelas Maksum.

Jadi, romo Frans Magnis memang seorang rohaniawan, tetapi dalam kasus ini semangat politisnya yang tampak, sebagai pihak yang pro capres-cawapres nomor urut dua, Joko Widodo (Jokowi)-Muhammad Jusuf Kalla (JK).

Menurut Maksum, lebih bijak ketika pesan itu disampaikan diam-diam kepada pribadi Ketua Umum (Ketum) PBNU, atau cucunya pendiri NU, ketua KAHMI, dan capres-cawaprers Prabowo-Hatta, yang jelas merepresentasikan  "the moderate" di Prabowo-Hatta.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA