Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Tokoh Islam melawan penjajah

Ahmad Dahlan, Cita-Cita Mengembalikan Kedaulatan Rakyat (bagian 1)

Senin 10 Nov 2014 15:47 WIB

Rep: c01/ Red: Joko Sadewo

Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan (ilustrasi).

Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan (ilustrasi).

Foto: blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, Muhammad Darwis atau yang lebih dikenal dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia asal Yogyakarta. Putra keempat dari tujuh bersaudara ini lahir pada 1 Agustus 1868 di Yogyakarta. Ayahnya, K.H. Abu Bakar, merupakan seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta, sedangkan ibunya merupakan seorang puteri dari H Ibrahim yang menjabat sebagai penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ketika menginjak umur 15 tahun, Ahmad Dahlan menjalankan ibadah haji sekaligus tinggal di Makkah selama lima tahun. Pada masa ini, Ahmad Dahlan mulai mengenal dan mempelajari pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti pemikiran Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Sekembalinya dari Makkah pada 1888, pemilik nama asli Muhammad Darwis ini mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan.

Pada 1903, Ahmad Dahlan kembali bertolak ke Makkah dan tinggal selama dua tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan berguru pada Syeh Ahmad Khatib yang juga merupakan guru dari KH. Hasyim Asy’ari. Sekembalinya lagi dari Makkah, Ahmad Dahlan mempersunting sepupunya Siti Walidah yang kemudian dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan.

Ahmad Dahlan yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan banyak mengemukakan gagasan-gagasan cemerlang dengan mudah diterima dan dihormati oleh masyarakat. Karena ini pula, Ahmad Dahlan dapat dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, hingga Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Memasuki 1912, pemerintah kolinial Belanda menjadikan Surakarta dan Yogyakarta sebagai target untuk dipatahkan kekuatan Islamnya. Hal ini menyebabkan Kasunanan Surakarta serta Kesultanan Yogyakarta tak lagi berdaya. Sunan dan Sultan pun hanya menjadi sebuah gelar saja pada masa itu.

Peristiwa ini menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi para rakyat yang kembali tertindas. Rakyat kecil kemudian didera kelaparan, tidak memiliki kekuatan, serta tidak lagi memiliki tempat bernaung karena Belanda sudah menguasai perpolitikan di kedua wilayah tersebut. Bangsawan di kalangan istana pun tak banyak berbuat untuk rakyat.

Untuk menghadapi situasi ini, pada 18 November 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta. Organisasi Muhammadiyah yang didirikan Ahmad Dahlan ini bercita-cita mengembalikan kedaulatan rakyat dan mewujudkan pembaruan Islam di Indonesia.

Pembaruan yang dimaksud oleh Ahmad Dahlan ialah pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut ajaran Islam. Sejak didirikannya Muhammadiyah, Ahmad Dahlan menekankan bahwa organisasi ini murni bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan, tidak terafiliasi dengan organisasi politik.

sumber : Berbagai sumber
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA