Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Friday, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Tokoh Islam melawan penjajah

Ahmad Dahlan, Fitnah Kiai Palsu (bagian 2)

Senin 10 Nov 2014 16:01 WIB

Rep: c01/ Red: Joko Sadewo

KH Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bukan hal mudah bagi Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah. Terjadi banyak penolakan dan resistensi baik dari pihak keluarga maupun masyarakat sekitar. Fitnah, tuduhan, hingga hasutan bertubi-tubi mendera Ahmad Dahlan.

Masyarakat menuduh Ahmad Dahlan sebagai kyai palsu yang menyalahi agama Islam dan mengira ia akan membuat agama baru. Ahmad Dahlan juga dicap meniru Belanda yang mayoritas beragama Kristen karena mengajar di sekolah Belanda OSVIA Magelang yang merupakan sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priyayi, bergaul dengan tokoh-tokoh priyayi di Budi Utomo, dan macam-macam tuduhan lainnya.

Karena hal ini, Ahmad Dahlan bahkan menerima ancaman pembunuhan. Tapi, tak satu pun dari rintangan itu yang dapat menghentikannya untuk tetap melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air agar bisa mengatasi semua permasalahan yang tengah dihadapi rakyat Indonesia.

Melihat ini, timbul kekhawatiran pada pemerintah Hindia Belanda terhadap perkembangan organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan. Karena itu, pemerintah Hindia Belanda mulai membatasi ruang gerak Muhammadiyah, meskipun kemudian berdiri cabang-cabang Muhammadiyah di Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-Iain.

Terhadap berdirinya cabang-cabang Muhammadiyah ini, pemerintah Hindia Belanda menunjukkan ketidakberpihakannya. Untuk mengatasi masalah ini, Ahmad Dahlan menyiasati dengan mengganti nama cabang-cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta dengan nama lain, seperti Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Ujung Pandang, Ahmadiyah di Garut. hingga Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) di Solo.

Selain berjasa dalam memelopori kebangkitan umat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa yang terjajah, Muhammadiyah juga telah banyak membantu rakyat untuk mendapatkan pembelajaran mengenai ajaran Islam murni yang mendorong pada kemajuan, kecerdasan, beramal bagi masyarakat dan umat, hingga kemajuan dalam pemahaman akan dasar iman dan Islam.

Selain itu, Muhammadiyah juga telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang sangat diperlukan oleh masyarakan untuk bangkit dan maju dengan memasukkan nilai-nilai Islam. Aisyiyah yang merupakan organisasi Muhammadiyah bagian wanita juga mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengenyam pendidikan dan memberi sumbangsih pada masyarakat setingkat dengan kaum pria.

Karena itulah, melalui Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961 Ahmad Dahlan ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ahmad Dahlan kemudian wafat pada 23 Februari 1923 di umurnya yang ke-54 tahun. Ahmad Dahlan lalu dimakamkan di KarangKajen, Yogyakarta.

Sumber : Berbagai sumber
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA