Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

SBY: Pemimpin yang Selalu Dibenarkan Bisa Jadi Diktator

Jumat 28 Nov 2014 12:43 WIB

Red: Esthi Maharani

Presiden RI ke-enam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Presiden RI ke-enam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Foto: EPA/Pool

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden RI-6, Susilo Bambang Yudhoyono menilai seorang pemimpin haruslah mengggunakan kekuasaan dengan tepat dan bijak. Seorang pemimpin juga sudah seharusnya dengan sabar mendengarkan kritikan dari rakyatnya. Karena, pemimpin tak lepas dari kesalahan dan tidak selalu benar.

"Petik pelajaran di dunia. Pemimpin yang selalu dibenarkan apapun perkataan dan tindakannya, tak disadari bisa menjadi diktator atau tiran," tulis SBY lewat akun twitter pribadinya, Jumat (28/11).

Ia menyakini setiap pemimpin pasti ingin berbuat yang terbaik. Tidak ingin pula menjadi diktator atau tiran dan kemudian harus jatuh seperti yang kerap terjadi.

"Karenanya, dengan tetap menghormati pemimpin, rakyat bisa menyampaikan kritik dan sarannya. Pemimpin mesti sabar mendengarkan," tulis SBY.

"Kritik itu laksana obat. Jika dosis dan cara meminumnya tepat, badan menjadi sehat. Mengkritik pemimpin haruslah beretika dan patut,"

Menurutnya, dalam dunia politik, kekuasaan menjadi yang utama. Tetapi, untuk meraih kekuasaan itu, gunakan cara yang benar dan gunakan pula secara benar.

"Kekuasaan juga menggoda. Karenanya, gunakanlah secara tepat dan bijak. Jangan sewenang-wenang dan jangan melampaui kewenangannya," katanya.

Ia juga mengingatkan kebenaran mutlak adalah milik Tuhan. Karenanya, jangan selalu membenarkan yang kuat, tetapi perkuatlah kebenaran.

"Sesungguhnya hidup ini universitas yang abadi. Mari kita saling belajar, saling berbagi dan saling menasihati"

"Tidakkah Allah SWT memberikan kekuasaan kepada yg dikehendaki, dan mencabut kekuasaan itu dari siapa yang dikehendaki"

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA