Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Pengamat: Debat Kedua Cagub DKI Cuma Tontonan

Ahad 29 Jan 2017 13:24 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Esthi Maharani

Tiga pasangan cagub DKI, Agus Harimurti-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anis Baswedan-Sandiaga Uno saat mengikuti debat cagub-cawagub DKI Jakarta ke-2 di Jakarta, Jumat (27/1) malam.

Tiga pasangan cagub DKI, Agus Harimurti-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anis Baswedan-Sandiaga Uno saat mengikuti debat cagub-cawagub DKI Jakarta ke-2 di Jakarta, Jumat (27/1) malam.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Hariadi, menilai debat kedua cagub-cawagub DKI Jakarta yang digelar pada Jumat (27/1) malam kemarin tak memberikan pengaruh signifikan terhadap pergeseran suara. Bahkan menurut dia, pergeseran suara yang terjadi setelah debat kedua antarkandidat pilkada DKI Jakarta ini maksimal hanya tiga persen peralihan suara.

"Debat itu sebenarnya pengaruhnya tidak signifikan terhadap pergeseran suara. Paling tiga persen peralihan suara, sebenarnya tidak signifikan untuk mempengaruhi atau mengubah suara," kata Hariadi saat dihubungi, Ahad (29/1).

Ia menyebut, dari debat kedua antarkandidat pilkada DKI kemarin justru dapat memperkuat aspirasi para pendukung yang sudah ada sebelumnya. Hariadi menilai, debat pilkada DKI yang kedua inipun tak berpengaruh signifikan terhadap tingkat elektabilitas pasangan calon. Debat ini dinilai justru hanya sebagai tontonan bagi masyarakat.

Lebih lanjut, ia mengatakan, debat pilkada DKI ini bisa saja berdampak bagi pemilih yang belum menentukan pilihannya atau undecided voters. Kendati demikian, suara yang berasal dari para pemilih tersebut tak hanya ditentukan dari hasil debat.

"Untuk sebagian kecil iya, sebagian lain enggak. Yang belum menentukan pilihan sebenarnya tidak ditentukan semata oleh debat, sangat kecil," ujarnya.

Hariadi menilai, masyarakat tidak dapat mengetahui perbedaan masing-masing kandidat dalam mengatasi masalah yang dihadapi Jakarta. Sebab, pertanyaan yang diajukan dalam debat kedua ini hanya sesuai dengan visi misi pasangan calon.

"Yang (debat) pertama, satu pertanyaan diajukan untuk semua paslon sehingga orang tahu perbedaannya. Kalau (debat) kedua tidak, masing-masing paslon cuma ditanyai sesuai visi misi masing-masing. Sehingga kita tidak tahu perbedaan cara mendalami satu masalah antara paslon satu dengan yang lain," kata Hariadi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA