Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Zulkifli Ceritakan Saat Nama Anies Menggeser Yusril di Bursa Cagub

Rabu 03 May 2017 17:46 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Ilham

Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Foto: Amri Amrullah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perjalanan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 menyisakan banyak cerita. Mulai dari tidak solidnya koalisi kekeluargaan, peran istri petinggi partai politik dalam menentukan arah dukungan, sampai peran Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan, pun tanpa sungkan menceritakan semuanya pada khalayak. Setiap kali mensosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan, Zulkifli yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawatan Rakyat (MPR) RI kerap menyelipkan cerita Pilkada DKI Jakarta yang dimenangkan oleh Pasangan Calon (Paslon) Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Zulkifli menceritakan kisah di balik pengusungan Anies-Sandi oleh Partai Gerindra dan PKS di hadapan peserta seminar nasional sosialisasi empat pilar MPR RI. Dalam ceritanya, Zulkifli mengaku ada campur tangan orang nomor dua di Republik ini, yaitu Wapres JK.

Zulkifli menyebutkan, pada awalnya enam partai koalisi, PAN, Gerindra, PKS, PKB, PPP dan Demokrat memutuskan untuk mengusung Pasangan Yusril Ihza Mahendra dan Sandiaga Uno. Saat itu nama Anies Baswedan belum ada.

Sampai kemudian pada satu hari sebelum pendaftaran, nama Paslon Yusril-Sandi masih kuat untuk dicalonkan. “Tapi setelah kami pelajari dan dihitung-hitung, kami tidak bisa menang,” kata Zulkifli, saat menjadi keynote speaker dalam acara "Seminar Nasional Kebangsaan Gerakan Muballigh Bela Negara dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI" di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (2/5).

Pada akhirnya enam partai Koalisi Kekeluargaan mencari sosok lain. Nama Chairul Tanjung kemudian keluar dan disepakati. Namun, bos media itu menolak untuk diusung pada Pilkada DKI Jakarta 2017. “Bisnis saya sedang tidak bagus, ini malah nyuruh Pilkada, tidak mau. Itu jawaban Pak Chairul Tanjung,” jelas Zulkifli.

Setelah Chairul Tanjung menolak, munculah nama Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono. Kemudian Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memilih untuk mengusung Agus dan didampingi oleh Sylviana Murni. Karena SBY sudah mengusung Agus dan Sylvi, maka Gerindra-PKS lebih memilih untuk mengusung Sandi dan Mardani Ali Sera.

Namun, kata Zulkifli, ada semacam intervensi dari JK untuk meyakinkan pihaknya agar mengusung Anies Baswedan. Tapi karena sudah terlanjur, koalisi akan mengumumkan Paslon Agus-Sylvi. “Akhirnya Gerindra dan PKS yang mengambil Anies-Sandi,” katanya.

Di lain kesempatan, Zulkifli juga pernah menceritakan kisah di balik dukungannya kepada paslon Anies-Sandi pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Dia mengaku merupakan anggota ISIS, yakni Ikatan Suami Istri Satu, dan ini yang membuat dirinya lebih tegas memberikan dukungan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih berdasarkan hasil hitung cepat itu.

Zulkifli mengatakan, apabila dia memberikan dukungan kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, maka istrinya bisa marah, dan akhirnya dia mendukung Anies-Sandi. "Saya kalau dukung Ahok bisa pulang dikunci pintu sama istri, koper ditaruh di luar pagar. Istri saya bisa marah 'Kamu kok enggak bela Islam?'. Saya kan takut, namanya juga ISIS,” kata Zulkifli dengan nada canda.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA