Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Rhoma Irama: Jangan Tuding Islam Itu Teroris atau Radikal

Rabu 16 May 2018 01:30 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Ketua Umum Partai Idaman Rhoma Irama

Ketua Umum Partai Idaman Rhoma Irama

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Rhoma mengimbau seluruh pihak harus introspeksi, baik pemerintah maupun masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Teror yang terjadi sejak pemberontakan teroris di Markas Komando (Mako) Brimob, Kelapa Dua, Depok, pada Selasa (8/5) hingga bom bunuh diri di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Ahad (13/5) dan Senin (14/5) disesalkan Ketua Umum Partai Idaman Rhoma Irama.

"Teror tidak direkomedasikan oleh seluruh agama, terutama Islam. Karena Allah SWT secara eksplisit mengatakan, 'barang siapa yang membunuh satu manusia yang tidak berdosa maka seakan-akan telah membunuh seluruh manusia,'" kata Rhoma dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (15/5).

Ia menilai aksi teror tersebut merupakan kekejian yang tidak bisa dikait-kaitkan dengan agama apa pun, apalagi Islam. Rhoma mengatakan, jangan sampai peristiwa teror yang dilakukan oleh oknum umat Islam menjadi tudingan terhadap Islam.

Sebab, kata dia, jika hal itu dibiarkan maka akan berkembang menjadi kerusakan kerukunan antarumat beragama. Kelompok oknum radikal, menurut dia, ada di semua agama.

"Dalam rangka kerukunan antarumat beragama, jangan menuding dan menuduh Islam itu teroris atau Islam itu radikalis," katanya.

Raja dangdut ini menambahkan, memberantas terorisme tidak bisa dilakukan secara sporadis. Persoalan terorisme, menurut dia, harus dilihat akarnya.

Rhoma berpendapat, biasanya teroris bisa merupakan bentuk protes atau bentuk perlawanan dari kaum yang lemah terhadap arogansi yang kuat. Karena itu, kata dia, perlu introspeksi apakah selama ini keadilan telah ditegakkan. Mulai dari keadilan politik, ekonomi, sampai budaya.

"Apakah kita sekelompok ini telah melakukan toleransi secara sungguh-sungguh terhadap perbedaan, apakah kesenjangan politik, sosial, budaya masih terjadi atau tidak, diskriminasi terhadap berbagai aspek kehidupan masih terjadi atau tidak," kata Rhoma.

"Semua harus instropeksi, baik pemerintah, elemen masyarakat, elemen-elemen bangsa, ini harus dijadikan intropeksi sehingga tidak berkembang semakin besar," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA