Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

AHY Kritik Jargon Revolusi Mental, Puan: Terima Kasih

Selasa 12 Jun 2018 16:53 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Andri Saubani

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani .

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani .

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Puan menilai kritik AHY sebagai bagian dari dinamika politik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua DPP bidang Politik dan Keamanan PDI Perjuangan (nonaktif) Puan Maharani menilai, kritikan yang dilontarkan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), merupakan bagian dari dinamika politik. Diketahui, sebelumnya saat menyampaikan pidatonya, Agus mempertanyakan jargon Revolusi Mental yang kerap digemborkan saat kampanye Presiden Republik Indonesia Joko Widodo

"Ya itu kan biasa saja dalam dinamika politik, bisa saja seperti itu. Sampai hari ini juga Demokrat belum menentukan posisinya ada di mana, kalau kemudian memberikan kritik kepada pemerintah selama itu membangun, saya berterima kasih," kata Puan di Jakarta, Selasa (12/6).

Puan pun tak mau menanggapi apakah pernyataan AHY tersebut menutup kemungkinan kesempatan bergabungnya Demokrat dengan PDI Perjuangan. "Ya kita lihat saja, bagaimana ini nanti akhirnya Demokrat akan bergabung atau nggak bergabung, itu ya tanyanya ke pak SBY lah," tegasnya.

Sebelumnya Agus menilai frasa Revolusi Mental tersebut terkesan 'tenggelam'. "Ketika pemerintah saat ini, berhasil membangun ribuan kilometer jalan, ratusan jembatan, dan proyek infrastruktur lainnya, lantas, kita patut bertanya, apa kabar Revolusi Mental?" kata Agus dalam orasinya di hadapan kader Partai Demokrat, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Sabtu (9/6).

Padahal, kata dia, pada masa kampanye dan awal pemerintahan Jokowi, Revolusi mental sempat digadang-gadang sebagai suatu konsep pembangunan karakter masyarakat Indonesia. Sayangnya, lanjut Agus, kini konsep Revolusi Mental tersebut dalam perjalanannya kurang mendapat perhatian.

"Kita larut dalam hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur," ucap Agus.

Agus mengakui, Revolusi mental bisa saja menjadi konsep yang menanamkan prinsip gotong royong, persatuan, kesatunan, dan nilai nilai kebangsaan lainnya. Sehingga, menurut dia pembangunan karakter bangsa Indonesia tetap harus diteruskan.

Agus menyampaikan kritikan terkait Revolusi Mental tersebut dalam orasi kebangsaan yang digelar Partai Demokrat bertajuk "Dengarkan Suara Rakyat". Agus menambahkan, terlepas dari frasa Revolusi Mental yang kini seolah dilupakan, masyarakat tetap tidak boleh berhenti mengamalkan Pancasila.

"Pembangunan karakter bangsa ini, yang harus terus menerus dilakukan, dan disesuaikan, dengan perkembangan zaman. It is a never-ending journey. Karena perubahan, perbaikan, dan pembaharuan, adalah keniscayaan yang abadi," kata Agus.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA